Tafsir

Cobaan-Cobaan bagi Orang Beriman: Penjelasan Surah Al-Buruuj (85) Ayat 4

foto: unspalsh
50views

قُتِلَ اَصْحٰبُ الْاُخْدُوْدِۙ

binasalah orang-orang yang membuat parit (tempat menyiksa orang Mukmin)

“Terlaknatlah atau binasalah orang-orang yang membuat parit”. Inti ayat ini menceritakan kaum Mukminin dan Mukminat yang menolak untuk keluar dari agama Allah. Meskipun dipaksa, mereka tetap bertahan dan rela mati demi mempertahankan agama Allah. Akhirnya, mereka pun dimasukkan ke dalam parit, lalu dibakar hidup-hidup. Lalu, siapakah mereka?

Ada beberapa pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama mengatakan mereka adalah ahli kitab yang tinggal di Persia. Raja Mereka ingin menghalalkan pernikahan sesama mahram, seperti lelaki dengan bibinya atau lelaki dengan adiknya. Hal ini bermula ketika ada seorang raja yang mabuk, lalu ia menggauli saudari perempuannya sendiri. Tatkala sadar dari mabuknya, ia bingung terhadap perbuatannya. Maka, saudarinya berkata, “Sampaikanlah kepada rakyat bahwa menikah dengan saudara sendiri telah dihalalkan.” Akan tetapi, para ahli kitab menentang kebijakan sang raja. Akhirnya, raja pun murka dan membuat parit, kemudian membakar hidup-hidup mereka yang menentangnya. Sejak saat itulah raja-raja Persia menghalalkan pernikahan sesama mahram. Inilah pendapat yang diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib.

BACA JUGA: Surah Abasa: Ketika Rasulullah ﷺ Bermuka Masam

Ibnu Ishak dalam kitab sirahnya menyebutkan bahwa yang dibunuh adalah kaum Nasrani Yaman. Pada suatu ketika, ada seseorang yang bernama Dzu Nawas berpindah agama dari Nasrani ke Yahudi. Lalu, ia memaksa penduduk Yaman yang beragama Nasrani untuk memeluk agama Yahudi. Namun, penduduk Yaman menolak. Akhirnya Dzu Nawas menggali parit dan membunuh mereka yang berjumlah sekitar 20.000 orang.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kisah ini terjadi pada Bani Israil. Hal ini seperti dalam sebuah hadis, yaitu pada zaman antara nabi Isa diutus dan sebelum diutusnya Nabi Muhammad,  telah terjadi penyiksaan kaum mukminin pada masa itu. Nabi ﷺ bersabda, “Dari Shuhaib, Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Pada zaman dahulu, ada seorang raja dari golongan umat sebelum kalian. Ia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut telah berusia tua, ia mengatakan kepada raja bahwa ia sudah tua dan meminta agar dikirimkan seorang anak yang akan menjadi pewaris ilmu sihirnya. Maka, diutuslah seorang anak kepadanya. Tukang sihir itu pun mengajari sang anak.

Di tengah perjalanannya, anak ini bertemu dengan seorang rahib. Ia pun duduk bersama sang rahib dan mendengarkan nasihatnya. Ia sangat takjub dengan nasihat-nasihat yang disampaikan sang rahib. Jadi, sebelum ia mendatangi tukang sihir untuk belajar, ia menemui sang rahib dan duduk bersamanya. Ketika terlambat mendatangi tukang sihir, anak ini dipukul oleh si tukang sihir. Lalu, ia pun mengadukannya kepada sang rahib. Sang rahib berkata, “Jika engkau khawatir pada tukang sihir tersebut, katakan saja bahwa ‘keluargaku menahanku’. Jika engkau khawatir pada keluargamu, katakanlah bahwa ‘tukang sihir telah menahanku.’”

BACA JUGA: Surah An-Naba: Berita Besar yang Diperselisihkan

Pada suatu hari, ketika ia berada dalam kondisi yang demikian itu, ia tiba di suatu tempat. Di sana, ada seekor binatang besar yang menghalangi banyak orang di jalan yang dilalui mereka. Lalu, anak itu berkata, “Pada hari ini, aku akan mengetahui orang yang lebih baik, tukang sihir itu atau rahib itu.” Ia pun mengambil sebuah batu, kemudian berkata, “Ya Allah, apabila rahib itu lebih dicintai di sisi-Mu daripada tukang sihir, itu bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat berlalu.” Lalu, ia melempar si binatang dan matilah binatang itu. Maka, orang-orang pun dapat kembali melewati jalan itu. Lalu, ia mendatangi sang rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib itu mengatakan, “Wahai, anakku! Saat ini engkau lebih mulia dariku. Keadaanmu sudah sampai pada tingkatan sesuai yang aku lihat. Sesungguhnya, engkau akan mendapat cobaan. Jika benar demikian, janganlah menyebut namaku.”

Anak itu menjadi orang yang dapat menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kulit. Ia juga dapat menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit. Berita ini pun sampai di telinga sahabat dekat raja yang telah lama buta. Ia mendatangi pemuda tersebut dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata kepada pemuda tersebut, “Semua ini dapat jadi milikmu asalkan engkau menyembuhkanku.” Pemuda ini berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau mau beriman pada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya supaya engkau dapat disembuhkan.” Ia pun beriman kepada Allah. Lalu, Allah menyembuhkannya.

Kemudian, sahabat raja itu mendatangi Sang Raja dan duduk seperti biasanya. Raja pun bertanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” Ia pun menjawab, “Rabb-ku.” Sang raja pun kaget, “Apa engkau punya rabb (Tuhan) selain aku?” Sahabat menjawab, “Rabb-ku dan Rabb-mu sama, yaitu Allah.” Sang raja pun menghukumnya. Ia terus menyiksa sahabatnya hingga sang sahabat menunjukkan sang pemuda tadi. Ketika anak tersebut datang, raja lalu berkata padanya, “Wahai, anakku! Telah sampai padaku berita mengenai sihirmu yang dapat menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kulit serta engkau dapat melakukan ini dan itu.” Pemuda tersebut menjawab, “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan adalah Allah.” Mendengar hal itu, raja lalu menghukum sang pemuda. Ia terus menyiksanya sehingga sang pemuda memberitahukan sang rahib yang menjadi gurunya.

BACA JUGA: Gambaran Ketika Matahari Dilipat

Ketika pendeta tersebut didatangkan, sang raja pun memerintahkan kepadanya, “Kembalilah pada ajaranmu!” Rahib itu menolak. Lalu, didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepala sang rahib. Kemudian, dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah kepala sang rahib. Setelah itu, sahabat dekat raja didatangkan pula. Ia pun diperintahkan hal yang sama dengan sang rahib, “Kembalilah kepada ajaranmu!” Ia pun enggan. Lantas (terjadi hal yang sama) didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu, dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah kepala (sahabat raja) tersebut.

Kemudian, tibalah giliran pemuda tersebut untuk didatangkan. Ia diperintahkan hal yang sama. “Kembalikan pada ajaranmu!” Ia pun enggan. Kemudian, anak itu diserahkan kepada pasukan kerajaan. Raja berkata, “Pergilah kalian bersama pemuda ini ke gunung ini dan itu. Lalu, dakilah gunung tersebut bersamanya. Jika kalian sampai di puncak, lalu ia mau kembali kepada ajarannya, bebaskan dia. Jika tidak, lemparkanlah ia dari gunung tersebut.” Lalu, pasukan raja pergi bersama pemuda itu dan mendaki gunung. Kemudian, pemuda ini berdoa, “Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Gunung pun lantas berguncang dan semua pasukan raja akhirnya terjatuh.

Pemuda itu kembali berjalan dan mendatangi raja. Ketika sampai di hadapannya, raja itu berkata kepada sang pemuda, “Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?” Pemuda itu menjawab, “Allah telah mencukupi tindakan mereka.” Lalu, pemuda Ini dibawa pergi kembali bersama pasukan raja. Raja memerintahkan kepada pasukannya, “Pergilah kalian bersama pemuda ini dengan menggunakan sebuah sampan ke tengah laut. Jika ia mau kembali pada ajarannya, bebaskan dia. Jika tidak, tenggelamkan-lah dia.” Mereka pun lantas pergi bersama pemuda ini. Lalu pemuda ini pun berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Tiba-tiba, sampan tersebut terbalik dan pasukan raja pun tenggelam. Pemuda tersebut kembali mendatangi raja. Ketika menemuinya, raja pun berkata kepada pemuda, “Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?” Pemuda itu menjawab, “Allah telah melindungiku dari tindakan mereka.”

BACA JUGA: Perbuatan Curang Pada Saat Menimbang

Ia pun berkata kepada raja, “Engkau tidak dapat membunuhku sampai engkau memenuhi syaratku.” Raja pun bertanya, “Apa syaratnya?” Pemuda itu berkata, “Kumpulkanlah rakyatmu di suatu bukit, lalu saliblah aku di atas sebuah batang pohon. Kemudian, ambillah anak panah dari tempat panahku. Lalu, ucapkanlah bismillahi rabbill ghulam artinya dengan menyebut nama Allah, Tuhan dari pemuda ini. Lalu, panahlah aku. Jika engkau melakukan itu, engkau pasti akan membunuhku.”

Lantas rakyat negeri itu dikumpulkan di suatu bukit. Pemuda tersebut pun disalib di batang pohon kurma. Sang raja mengambil anak panah dari tempatnya, kemudian diletakkan di atas busur. Setelah itu, raja mengucapkan bismillahi rabbill ghulam artinya dengan menyebut nama Allah, Tuhan dari pemuda ini. Kemudian dilepaslah panah tersebut dan mengenai pelipis (antara telinga dengan mata) sang pemuda. Lalu, pemuda tersebut memegang pelipisnya yang tertancap anak panah. Lalu, pemuda itu pun mati. Rakyat yang berkumpul di tempat itu berkata, “Kami beriman kepada Tuhan Pemuda tersebut. Kami beriman kepada Tuhan Pemuda tersebut.”

Raja pun datang. Lantas,  ada yang berkata, “Apa yang selama ini kau khawatirkan, Raja? Sepertinya yang engkau khawatirkan selama ini benar-benar telah terjadi.  Saat ini, rakyatmu telah beriman kepada Tuhan pemuda itu.” Lalu, sang raja memerintahkan pasukannya untuk membuat parit lalu dinyalakanlah api di dalamnya. Raja pun berkata, “Siapa yang tidak mau kembali pada ajarannya, lemparkanlah ia ke dalamnya.” Atau dikatakan “Masuklah ke dalamnya.” Mereka pun melakukannya hingga ada seorang wanita bersama bayinya. Wanita ini tidak berani maju dan masuk ke dalam parit itu. Anaknya pun lantas berkata, “Wahai ibu, bersabarlah karena engkau di atas kebenaran.”

BACA JUGA: Kisah Kaum Tsamud

Inilah salah satu tafsiran tentang makna firman Allah pada ayat ini “Terlaknat-lah orang-orang yang membuat parit” dengan tujuan untuk menyiksa orang-orang beriman. Muqatil berpendapat bahwa parit-parit yang dijadikan lokasi untuk membakar orang-orang yang beriman ada tiga parit, yaitu di Yaman, Irak, dan di Syam.

Demikian penjelasan surah Al-Buruuj (85) ayat 4. Wallahu a’lam. []

 

SUMBER: TAFSIR  JUZ AMMA

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response