Tafsir

Perbuatan Curang Pada Saat Menimbang

Foto: Unsplash
89views

Pada surah Al-Muthaffifin ayat 2 dan 3, Allah berfirman:

الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ

(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi.

وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ

(Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.

 

Penjelasan Ayat

Para ulama menyebutkan perbuatan curang ini merupakan salah satu contoh perkara yang dianggap sepele oleh sebagian orang. Akan tetapi, mengurangi timbangan ternyata bukanlah perkara yang ringan. Bahkan, perkara ini pernah menjadi penyebab dihancurkannya sebuah kaum, yaitu kaum Madyan yang merupakan umatnya Nabi Syuaib a.s. Allah berfirman:

 وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗوَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ اِنِّيْٓ اَرٰىكُمْ بِخَيْرٍ وَّاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيْطٍ

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuʻaib. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada sesembahan yang berhak engkau sembah selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan! Sesungguhnya Aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakanmu, (Hari Kiamat).

BACA JUGA: Tafsir Surah Al-Infithar (Terbelah)

Perkara yang dianggap sepele oleh sebagian kita itu ternyata pernah menjadi penyebab diturunkannya azab pada kaum Madyan. Mereka membangkang dan tidak mau mengikuti perintah Allah.

Setiap orang seharusnya menakar dan menimbang sesuatu dengan sempurna dan tidak boleh dikurangi dari ukuran seharusnya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Isra’ (17) ayat 35:

وَاَوْفُوا الْكَيْلَ اِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوْا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيْمِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

Sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Penduduk Madinah menggunakan takaran karena mayoritas pekerjaan mereka adalah pengepul. Apabila mereka menjual kurma, mereka akan menggunakan takaran so’ yang merupakan ukuran volume atau isi. Sementara itu, mayoritas penduduk Mekkah menggunakan timbangan karena kebanyakan mereka adalah pedagang yang menjual emas dan perak dengan cara ditimbang. Keduanya, baik takaran maupun timbangan, haruslah disempurnakan dan pas.

Bentuk-Bentuk Lain Mengurangi Timbangan

Para ulama menyebutkan bahwa apa yang disebutkan Allah tentang mengurangi takaran dan timbangan ini merupakan contoh dan bukan merupakan batasan. Artinya, hal ini dapat dianalogijan atau dikaitkan dengan permasalahan lainnya.

Bentuk Pertama: Menilai Seseorang

Ketika seseorang membenci orang lain, ia hanya menyebutkan keburukannya tanpa menyebutkan kebaikannya. Orang seperti ini takarannya tidak benar. Padahal, hal itu juga berkaitan dengan harga diri orang kain. Ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah kelak.

BACA JUGA: Surah Abasa: Ketika Rasulullah ﷺ Bermuka Masam

Bentuk Kedua: Menuntut dan Tidak Mau Dituntut

Sebagian ulama juga mengaitkannya dengan orang yang hanya bisa menuntut tetapi tidak mau dituntut. Dalam ayat ini, Allah mencela seseorang yang jika membeli ia ingin timbangannya sempurna, tetapi jika menjual ia mengurangi timbangannya. Jadi, ia menuntut segala sesuatu yang berkaitan dengan haknya. Akan tetapi, ia menganggap remeh segala sesuatu yang berkaitan dengan hak orang lain. Oleh karena itu, setiap orang yang hanya ingin haknya dipenuhi sementara hak orang lain tidak dipedulikannya, ia termasuk dalam orang-orang yang disinggung pada ayat ini.

Bentuk Ketiga: Permasalahan Keluarga

Ayat ini juga membahas persoalan keluarga. Misalnya, ada seorang suami yang selalu menuntut istrinya agar menjadi istri yang salehah, taat, dan tidak boleh membantah. Namun, ia melakukan sesuatu yang berkaitan dengan hak istrinya. Ia tidak pernah membantu istrinya mengurus rumah, mencuci pakaian, memasak, bahkan tidak ada waktu untuk istrinya. Saat istrinya membutuhkan belaian dan sentuhan, suaminya tidak pernah memedulikannya. Sesungguhnya hal itu termasuk perbuatan yang dicela sebagaimana ayat ini. Ia ingin haknya dipenuhi, tetapi ia tidak mau memenuhi hak orang lain.

BACA JUGA: Surah An-Naba: Berita Besar yang Diperselisihkan

Bentuk Keempat: Rakyat dan Pemimpin

Ayat ini juga membahas hubungan rakyat dengan pemimpinnya. Bahkan, kadang-kadang banyak rakyat yang selalu menuntut haknya agar dipenuhi pemerintah, tetapi kewajibannya sebagai rakyat tidak diperhatikan. Mereka selalu melanggar peraturan-peraturan yang dibuat pemerintah. Demikian juga sebaliknya. Pemerintah mungkin selalu menuntut hak kepada rakyat dengan mewajibkan mereka untuk membayar ini dan itu, akan tetapi hak-hak dan kesejahteraan rakyat tidak dipenuhinya.

Bentuk Kelima: Kewajiban Pekerja

Ayat ini juga membahas kewajiban para pekerja. Mereka banyak yang mencuri waktu dengan dating terlambat atau pulang sebelum waktunya. Namun, mereka menuntut gajinya dibayar penuh. []

 

Sumber: Tafsir Juz Amma, karya Firanda Andirja

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response