Kisah Al-Quran

Kisah Kaum Tsamud

62views

Kisah kaum Tsamud dan kaum ‘Ad tidak terdapat dalam Injil dan Taurat. Kisah ini hanya terdapat dalam Al-Quran. Kaum Tsamud—seperti kaum ‘Ad—berasal dari bangsa Arab. Oleh karena itulah, berita tentang dibinasakannya kaum Ad telah diketahui oleh kaum Tsamud.

Allah berfirman dalam Surah Hud (11) ayat 61:

وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ

Dan kepada kaum Tsamud (kami utus) saudara mereka, Shaleh. Dia berkata,’Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sesembahan yang berhak sembah) bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat dan memperkenakan (doa hamba-Nya).’

Kaum Tsamud terjerumus dalam kesyirikan. Bahkan, bekas perkampungan mereka masih ada hingga sekarang. Sisa-sisa patahan kepala manusia dan patung-patung yang mungkin merupakan sembahan kaum Tsamud pun masih dapat dijumpai. Awalnya, nabi Saleh telah mengingatkan mereka tentang nasib kaum ‘Ad yang dibinasakan oleh Allah. Oleh karena itulah, mereka hadir sebagai pengganti kaum ‘Ad. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 74:

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ عَادٍ وَّبَوَّاَكُمْ فِى الْاَرْضِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْ سُهُوْلِهَا قُصُوْرًا وَّتَنْحِتُوْنَ الْجِبَالَ بُيُوْتًا ۚفَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ

Dan ingatlah ketika dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar, kamu mendirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi.

Mukjizat Nabi Shaleh telah dikisahkan dalam sejarah. Pada suatu hari, kaum Tsamud tengah berkumpul. Lalu, Nabi Shaleh datang menghampiri mereka. Beliau mengajak dan menasihati mereka untuk menyembah Allah. Namun, mereka justru berkata, “Sanggupkah engkau mengeluarkan seekor unta betina dari batu ini–sambil menunjukkan sebongkah batu dengan ciri-ciri seperti ini dan seperti itu kepada kami?”. Mereka juga ingin unta tersebut dalam keadaan hamil atau bunting (10 bulan) dan berbadan panjang.

Permintaan mereka sebenarnya bukan dalam rangka membenarkan dakwah nabi Shaleh. Akan tetapi, hal ini digunakan untuk menolak Nabi Shaleh karena mereka berpikir bahwa permintaan mereka mustahil untuk dikabulkan. Jika seekor unta keluar dari hutan, laut, atau dari gunung hal itu masih masuk akal. Akan tetapi, bagaimana mungkin seekor unta keluar dari batu yang merupakan benda mati?

Nabi Shaleh menjawab, “Beritahukan kepadaku, jika aku sanggup memenuhi permintaan dan keinginan kalian, apakah kalian akan beriman dengan apa yang aku bawa dan membenarkan apa-apa yang dengannya aku diutus?” Mereka menjawab,”Ya.” Nabi Shaleh mengambil sumpah dan janji mereka. Lalu, ia segera pergi ke suatu tempat untuk shalat. Beliau berdoa kepada Allah agar mengabulkan permintaan mereka. Maka, Allah pun memerintahkan batu besar tersebut untuk terbelah. Lalu, keluarlah seekor unta betina yang besar dan bunting sesuai permintaan kaum Tsamud.

Peristiwa itu menyebabkan kaum Tsamud menyaksikan pemandangan yang mengagumkan, luar biasa, dan nyata. Banyak dari mereka yang akhirnya beriman. Akan tetapi, kaum Tsamud yang tetap dalam kekafiran dan kesesatan masih lebih banyak. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 75 dan 76:

قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ لِلَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا لِمَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ اَتَعْلَمُوْنَ اَنَّ صٰلِحًا مُّرْسَلٌ مِّنْ رَّبِّهٖۗ قَالُوْٓا اِنَّا بِمَآ اُرْسِلَ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ قَالَ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْٓا اِنَّا بِالَّذِيْٓ اٰمَنْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, yaitu orang-orang yang telah beriman di antara kaumnya,’Tahukah kamu bahwa solih adalah seorang Rasul dari Tuhannya?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami percaya kepada apa yang disampaikannya’;(75) orang-orang yang menyombongkan diri berkata, ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu percayai.’”(76)

Setelah unta itu keluar, Nabi Shaleh memerintahkan mereka agar tidak mengganggu unta tersebut. Allah berfirman tentang perkataan nabi Shaleh dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 73:

هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

“…. Inilah (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia memakan di bumi Allah. Jangan disakiti. Nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.

Nabi Shalih juga memerintahkan mereka agar memberikan waktu khusus kepada unta tersebut meminum air dari sumur. Allah berfirman dalam Surah Asy-Syu’ara’ (26) ayat 155:

قَالَ هٰذِهٖ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ وَّلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ ۚ

Dia (Shaleh) menjawab, ‘Ini seekor unta betina, yang berhak mendapatkan (giliran) minum, dan kamu juga berhak mendapatkan minum pada hari yang ditentukan.'”

Kaum Tsamud mendapat banyak manfaat dari unta tersebut. Mereka dapat meminum susu yang sangat lezat dari unta itu. Jika tiba hari jatah minum sang unta, mereka tidak boleh sama sekali mengambil air dari sumur itu. Sang unta pun minum dari sumur di pagi hari, sementara kaum Tsamud memerah susu yang banyak dari unta tersebut pada sore harinya. Mereka baru boleh mengambil air dari sumur tersebut pada keesokan harinya—saat tiba giliran mereka. Semua ini dilakukan agar mereka mau meninggalkan kesyirikannya. Namun, mereka jengkel dan mulai membantah Nabi Shaleh. Allah berfirman dalam Surah Hud (11) ayat 62:

قَالُوْا يٰصٰلِحُ قَدْ كُنْتَ فِيْنَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هٰذَآ اَتَنْهٰىنَآ اَنْ نَّعْبُدَ مَا يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَا وَاِنَّنَا لَفِيْ شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ مُرِيْبٍ

Mereka (kaum Tsamud) berkata, ‘Wahai Shaleh! Sungguh engkau sebelum ini berada di tengah-tengah kami merupakan orang diharapkan. Mengapa engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa ( agama) yang kau serukan kepada kami.’”[]

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response