Kisah Al-Quran

Beberapa Kandungan Ayat Tentang Kisah Ratu Saba (Bagian Ketiga dari Empat Tulisan)

Foto: Pixabay
23views

Berdasarkan ayat-ayat tentang kisah Ratu Bilqis yang tercantum dalam Surah An-Naml (27) ayat 20-44, berikut beberapa hal penting yang dapat kita pelajari (cermati).

Kedua puluh enam, Ratu Saba menganggap bahwa semua raja itu sama, yakni dengan mengatakan sesungguhnya apabila raja-raja menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina. Demikianlah yang mereka akan perbuat. Maksudnya di sini adalah kerajaan Nabi Sulaiman. Oleh karena itu, Ratu Saba mencela dan tidak memujinya.

Namun, tentu saja pendapat ratu itu salah dan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada pada Nabi Sulaiman. Oleh karena itu, sebagian pendapat menganggap bahwa perkataan Ratu Saba berlaku atas seluruh raja dan bahwa ayat tersebut adalah dalil atas kebinasaan dan pembinasaan mereka. Namun demikian, mengutip ayat tersebut sebagai dalil atas hal ini adalah tidak cermat dan tidak bisa diterima. Anggapan itu bisa jadi benar dan terkadang hal tersebut telah menjadi kenyataan, dan kebanyakannya memang seperti itu.

BACA JUGA: Beberapa Kandungan Ayat Tentang Kisah Ratu Saba (Bagian Kedua dari Empat Tulisan)

Semua raja yang tidak berpegang teguh pada agama Allah dengan sebenar-benarnya, mereka gemar melakukan kerusakan (perusakan), membinasakan orang lain, serta menghina dan menundukkan mereka. Namun, dalil tentang hal ini tidak berasal dari ayat tersebut karena ayat tersebut bercerita tentang ucapan Ratu Saba yang saat itu masih kafir. Maksud perkataannya di sini adalah Nabi Sulaiman yang dia sifati sebagai kerusakan dan perusakan lalu mengapa kita berpegang pada perkataan ratu kafir yang merendahkan nabi yang adil? Sesungguhnya, Al-Quran telah mencatat perkataan orang-orang kafir ini dalam pembahasan kisah dan kabar-kabar. Kadang-kadang, Al-Quran menolak dan mencelanya, tetapi kadang membiarkannya.

Dalam hal ini, kita tidak boleh menjadikannya dalil atas perkara apa pun karena Al-Quran hanya mencatat dan menceritakannya. Sesungguhnya, perkataan orang-orang kafir yang diceritakan dalam Al-Quran tidak boleh dijadikan pegangan dan dalil, kecuali jika Al-Quran sendiri bersandar padanya. Oleh karena itu, perkataan Ratu Saba bukan dalil atas rusak dan perusakan raja-raja tersebut. Dalam hal ini, kita perlu mencari dalil lain yang benar (shahih) secara umum.

Kedua puluh tujuh, Ratu Saba tidak ingin berperang dengan Nabi Sulaiman, tetapi lebih memilih melakukan perundingan, keselamatan, dan perdamaian. Mungkin, hal ini disebabkan perempuan tidak memiliki kecenderungan sesuai tabiat atau fitrah perempuan—pada peperangan, pembunuhan, kekerasan, dan pertumpahan darah. Memang, jika perempuan menjadi pemimpin sebuah kaum dan terpaksa harus mengarahkan kaumnya untuk memerangi musuh-musuh, sering kali dia tidak menginginkan peperangan dan pertentangan. Oleh karena itu, dia menghancurkan kaumnya di hadapan musuh-musuh.

Kedua puluh delapan, Ratu Saba ingin menguji Nabi Sulaiman dan mengetahui sejauh mana kesungguhannya dalam mendakwahkan Islam. Apakah Nabi Sulaiman adalah laki-laki yang benar-benar berdakwah ataukah laki-laki yang memperdagangkan dakwah? Oleh karena itu, ratu mengirimkan harta (upeti) kepada Nabi Sulaiman sebagai suap demi menghentikannya sekaligus mengajaknya pada syirik dan kufur.

Kedua puluh sembilan, Ratu Saba menyebutkan bahwa harta (upeti) yang dipersembahkan untuk Nabi Sulaiman adalah hadiah. Ini dapat dilihat dari perkataannya, yakni sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.

Namun, apakah itu benar-benar hadiah? Sesungguhnya, itu adalah suap untuk Nabi Sulaiman untuk menghentikannya walaupun dia menyebutnya sebagai hadiah. Nabi Sulaiman menolak sogokan (suap) tersebut dan berkata kepada para utusan itu, tetapi engkau merasa bangga dengan hadiahmu. Hadiah itu dianggap suap karena dipersembahkan kepada Nabi Sulaiman, sang penguasa, pemimpin, raja, sekaligus nabi. Sebagaimana diketahui, hadiah seorang pegawai dalam tugasnya, seorang pemimpin dalam pemerintahannya, adalah suap, bukan hadiah. Kata hadiah belum pernah digunakan dalam Al-Quran, kecuali dengan makna suap, dan kata ini tidak pernah disebut, kecuali dalam kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba.

Ketiga puluh, kemenangan Nabi Sulaiman atas godaan harta serta pilihannya pada jalan perundingan dan perdamaian tanpa membuang-buang waktu dengan para utusan. Ini menjadikan Nabi Sulaiman sebagai teladan bagi pemerintahan Islam dalam menghadapi musuh-musuhnya. Ketika para utusan Ratu Saba datang dengan membawa hadiah-hadiah, Nabi Sulaiman berkata apakah engkau akan memberi harta kepadaku (sebagai hadiah)? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu, tetapi engkau merasa bangga dengan hadiahmu. Pulanglah kepada mereka (dengan membawa kembali hadiahmu).Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang tidak mungkin dikalahkan. Kami pasti akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dalam keadaan terhina lagi tunduk.

BACA JUGA: Beberapa Kandungan Ayat Tentang Kisah Ratu Saba (Bagian Pertama dari Empat Tulisan)

Ketiga puluh satu, kita dapat menangkap isyarat lain dari gambaran kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba. Pihak lawan sangat gemar membuang-buang waktu orang-orang beriman (Muslim) dalam perundingan-perundingan dan menyibukkan mereka dengan kebusukan (mengalihkan perhatian mereka) dari urusan politik yang penting sebagaimana diperbuat Ratu Saba ketika mengutus para dutanya (utusannya) dengan hadiah agar Nabi Sulaiman memasukkannya  dalam perundingan-perundingan dan perdamaian-perdamaian. Oleh karena itu, para pemimpin orang-orang beriman harus mengetahui tujuan (tipu daya) dari musuh-musuh yang keji ini, tidak memedulikan maksud mereka, dan tidak bersibuk-sibuk dengan apa yang didatangkan pihak lawan sehingga melupakan tujuan yang sebenarnya.

Ketiga puluh dua, sikap Nabi Sulaiman yang teliti, cermat, dan tegas meninggalkan pengaruh langsung pada pihak musuh, yakni dengan Ratu Saba menerima kekuasaannya. Nabi Sulaiman mengetahui hal ini sehingga ingin mendatangkan bukti-bukti lain tentang kelemahan dan kekalahan dari Ratu Saba. Oleh karena itu, saat umat menghadapi kesempitan dan masalah yang mengancam eksistensi dan kehidupannya, mereka menuntut keadaan (kondisi) yang pasti (jelas), para pemimpin yang mempunyai hak untuk memutuskan dan menetapkan (kebijakan atau perintah) harus menghadapi pihak lawan dengan tegas dan pasti.[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response