Kisah Al-Quran

Beberapa Kandungan Ayat Tentang Kisah Ratu Saba (Bagian Kedua dari Empat Tulisan)

Foto: Pixabay
21views

Berdasarkan ayat-ayat tentang kisah Ratu Bilqis yang tercantum dalam Surah An-Naml (27) ayat 20-44, berikut beberapa hal penting yang dapat kita pelajari (cermati).

Kelima belas, setiap makhluk memahami perintah dari sisi yang dipentingkannya serta melihatnya dengan pandangan yang dimaksudkan dan berdasarkan gambaran yang tampak baginya. Hudhud mengenali Allah melalui kebutuhan dan perhatian-perhatiannya. Baginya, Allah adalah Zat yang mengeluarkan apa yang tersembunyi di langit dan di bumi, yakni biji-bijian yang tersembunyi di perut bumi, yang ia perhatikan sebagaimana burung-burung yang lainnya—dan yang ia cari dengan paruhnya. Ia mengetahui bahwa Allah-lah yang mengeluarkan dan mendatangkan semua itu untuknya. Sementara itu, paruhnya itu hanyalah sarana dan sebab yang lahir saja.

Keenam belas, adapun hikmah dari disebutkannya singgasana Allah Yang Mahaagung adalah seruan agar manusia tidak tertipu oleh fenomena kehidupan dunia dan bersikap tawadhu (rendah hati) ketika mendapatkan anugerah berupa sebagian dari fenomena itu. Kalaupun Ratu Saba memiliki singgasana besar, pada hakikatnya itu tidaklah sama sedikit pun (dengan singgasana Allah). Sesungguhnya, Allah Yang Mahakuasa dan Mahakaya, Dia-lah Rabb dan Pemilik singgasana yang agung. Lantas, di manakah singgasana Ratu Saba dibandingkan singgasana Allah? Apakah sama kebesarannya dibandingkan singgasana Allah?

BACA JUGA: Beberapa Kandungan Ayat Tentang Kisah Ratu Saba (Bagian Pertama dari Empat Tulisan)

Ketujuh belas, kewajiban pemimpin adalah menyeleksi kebenaran berita yang datang kepadanya dengan tidak menerimanya begitu saja. Bisa jadi, pembawa berita itu bohong atau tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan. Oleh karena itu, Nabi Sulaiman berkata kepada Hudhud, setelah mendengar berita darinya, yakni kami akan memerhatikan apakah engkau benar atau termasuk orang-orang yang berdusta.

Kedelapan belas, Hudhud telah menjadi utusan khusus Nabi Sulaiman kepada Ratu Saba.la yang membawa surat kepada Ratu Saba. Hudhud bergerak untuk dakwahnya dan bersungguh-sungguh untuk penyebaran agamanya. Jika burung yang tidak diwajibkan untuk hal itu (berdakwah) dapat begitu bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya, bagaimana dengan kita sebagai Muslim yang dibebani (diamanahkan) dan diperintahkan Allah untuk melaksanakannya?

Kesembilan belas, Nabi Sulaiman memerintahkan Hudhud un tuk waspada ketika menyampaikan surat dan berusaha agar misinya itu tidak diketahui, yakni dengan perkataan pergilah dengan (membawa) suratku ini lalu jatuhkanlah kepada mereka. Kemudian, berpaling lah dari mereka lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan. Nabi Sulaiman memerintahkan Hudhud mengawasi urusan tersebut dari bukit pasir sehingga dapat mengamati apa yang mereka perbuat dan bicarakan.

Kedua puluh, Ratu Saba menganggap surat Nabi Sulaiman itu surat yang penting, yakni dengan perkataan sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang penting. Jadi, kemungkinan hikmahnya adalah bahwa sang ratu telah mengenal dan mendengar cerita tentang Nabi Sulaiman, termasuk juga kekuatan dan kekuasaannya. Perkataan ini juga mengisyaratkan adanya kesadaran dan kecerdasan sang ratu serta penerimaannya yang baik terhadap surat itu.

Kedua puluh satu, Ratu Saba membacakan isi surat Nabi Sulaiman itu kepada kaumnya, yakni berisikan dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. Surat tersebut, sebagaimana kebanyakan surat lainnya, ditulis singkat dan padat (laksana telegram yang singkat). Setiap kalimatnya dipilih dengan cermat.

Kedua puluh dua, walaupun surat tersebut sangat singkat dan tidak berisi kalimat yang tidak perlu, Nabi Sulaiman tetap menggunakan basmalah yang mengisi (memenuhi) setengah dari isi surat itu. Ini me nunjukkan pentingnya basmalah dan pentingnya mengawali surat dengan mencantumkan basmalah.

Kedua puluh tiga, Nabi Sulaiman meminta mereka (kaum Saba) dengan pasti dan tegas, yakni datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. Hal ini menunjukkan tujuan dari Nabi Sulaiman untuk melakukan ekspansi dan perang yang pada akhirnya bertujuan agar manusia beriman kepada Allah, Rabb semesta alam. Nabi Sulaiman, dengan jihad fi sabilillah-nya itu, hanya ingin menyeru pada agama Allah. Semoga hal ini dapat menjadi bantahan atas tuduhan orang-orang yang suka menjelek-jelekkan Nabi Sulaiman. Mereka menganggap bahwa keinginan Nabi Sulaiman terhadap ekspansi, perluasan wilayah, dan penjajahan atas orang lain (bangsa lain) adalah demi memenuhi nafsunya atas kekuasaan.

BACA JUGA: Beberapa Pendapat tentang Kisah Saba

Kedua puluh empat, pemerintahan dalam kerajaan Saba berbentuk demokrasi jika boleh disebut demikian. Ratu Saba belum pernah mengambil keputusan seorang diri. Sebaliknya, dia mengikutsertakan para pembesar negeri Saba dan bermusyawarah dengan mereka dalam memutuskan suatu perkara. Ini tampak dalam perkataannya, yakni wahai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu urusan sebelum engkau hadir (dalam majelisku). Mungkin, langkah (kebijakan) tersebut sangat jauh berbeda dengan sistem pemerintahan negeri Saba pada zaman dahulu yang bersifat absolut dan otoriter. Pemimpin dapat memerintah semaunya, sedangkan rakyat harus menyetujui dan melaksanakan segala keinginannya itu.

Kedua puluh lima, sungguh menakjubkan bahwa para pembesar negeri Saba tidak mengemukakan pendapat dan jati diri mereka. Justru, mereka rela mengikuti kehendak sang ratu dan melaksanakan apa yang dia perintahkan. Padahal, ratu hanya meminta nasihat mereka, bahkan ratu mengikutsertakan mereka dalam majelisnya. Lihatlah jawaban yang mereka berikan, yakni kita memiliki kekuatan dan ketangkasan luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu. Oleh karena itu, pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan. Ini adalah tabiat kaum lemah yang memilih untuk tetap lemah. Mereka selalu menolak ajakan bangkit serta menjadi kuat dan mulia. Mereka lebih suka tunduk, hina, dan lemah.[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response