Tafsir

Nikmat-Nikmat yang Allah Berikan Kepada Nabi Isa (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Foto: UInsplash
40views

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 110:

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَ ۘاِذْ اَيَّدْتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۚوَاِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَ ۚوَاِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ بِاِذْنِيْ فَتَنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِيْ وَتُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ بِاِذْنِيْ ۚوَاِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتٰى بِاِذْنِيْ ۚوَاِذْ كَفَفْتُ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَنْكَ اِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: ‘Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruh Kudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu Al-Kitab, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.”

Pada ayat ini, Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Isa.

Allah berfirman,

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَ ۘ

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: ‘Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu.”

Nikmat tersebut sangat banyak, dan Allah menyebutkan di antara rinciannya dalam ayat ini. Begitu juga Allah memberi nikmat kepada ibunya (Maryam). Allah memuliakan Maryam dan menjadikannya wanita yang salihah. Allah juga membelanya dengan mengatakan bahwa ia adalah wanita yang menjaga kemaluannya, setelah sebelumnya beliau dituduh pezina oleh orang-orang Yahudi.

BACA JUGA: Ketika Allah Menampakkan Mukjizat kepada Maryam

Allah memberikan Maryam beberapa keajaiban di antaranya makanan terhidangkan dengan sendirinya untuknya. Demikian juga ketika mengandung Nabi Isa, Allah memerintahkannya untuk menggerakkan pohon kurma lalu jatuhlah ruthab untuk dimakan. Ketika Maryam kehausan maka Allah mengalirkan sungai di bawahnya sehingga dia dapat minum dari sungai tersebut, dan yang paling ajaib adalah melahirkan seorang anak tanpa berhubungan dengan seorang lelaki pun. Keajaiban-kejaiban ini semuanya sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Ali Imran dan Surah Maryam.

Demikian pula nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Isa juga merupakan kenikmatan untuk Maryam. Karena semua keistimewaan pada Nabi Isa juga kembali kepada ibunya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ tentang Fathimah, “Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dariku. Aku akan merasakan sakit dengan derita yang ia rasakan.”

Berdasarkan hadis ini maka bisa dikatakan bahwa Nabi Isa adalah bagian dari ibunya karena nikmat terbesar yang Allah berikan kepada Maryam adalah dengan adanya Nabi Isa.

Allah menyebutkan rincian sebagian nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Isa:

Pertama: firman-Nya,

اِذْ اَيَّدْتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ

“Di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruh Kudus.”

Maksudnya, sebagaimana dijelaskan oleh ahli tafsir, Allah menguatkan Nabi Isa dengan malaikat Jibril yang senantiasa menemani dan membimbingnya. Hingga ketika Nabi Isa akan dibunuh, maka malaikat Jibril membawa Nabi Isa ke langit.

Di antara nama malaikat Jibril adalah Al-Ruh. Hal ini banyak disebutkan di dalam Al-Quran. Disebut demikian karena dia bertugas menurunkan kitab-kitab suci yang memberi kehidupan bagi manusia.

Kedua: firman Allah

تُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا

“Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa.”

Makna كلا adalah usia dari 33 atau 40 hingga 50 tahun. Nabi Isa diangkat pada usia 30 tahun sekian. Seolah-olah Allah mengatakan, “Perkataanmu ketika masih dalam buaian dan ketika sudah dewasa tidak ada bedanya.” Artinya, ketika Nabi Isa berbicara dalam buaian sebagaimana halnya orang dewasa. Mukjizat ini tidak diakui oleh orang-orang Nasrani. Mukjizat ini hanya disebutkan dalam Al-Quran dan tidak disebutkan dalam keempat Injil yang sekarang diakui. Memang itu ada penyebutannya dalam sebagian Injil, yaitu Injil Tufuliyah (Arabic Gospel of Infancy) yang menyebutkan tentang kisah Nabi Isa ketika masih kecil. Namun, Injil tersebut dimasukkan ke dalam Injil Apokrif (dianggap tidak kanonik dan ditolak).

Disebutkan dalam kitab Imamat 21: 9, tentang hukuman zina terhadap putri seorang imam: “Apabila anak perempuan seorang imam membiarkan kehormatannya dilanggar dengan bersundal, maka ia melanggar kekudusan ayahnya, dan ia harus dibakar dengan api.”

BACA JUGA: Penjelasan tentang Bukti-Bukti Kesesatan Kaum Nasrani

Maryam adalah putri dari seorang imam. Maryam tidak diketahui memiliki suami dan tiba-tiba dia mengandung anak. Para ulama menjelaskan tentang bagaimana Maryam bisa selamat dari hukuman bakar tersebut. Itu tidak lain karena mukjizat Nabi Isa yang berbicara ketika masih bayi sehingga Maryam tidak dibakar. Sekiranya Nabi Isa tidak berbicara saat itu untuk menjelaskan dan membela bahwa ibunya tidak berzina maka Maryam seharusnya akan dibakar. Hal ini Allah abadikan dalam Surah Maryam (19) ayat 27-36, yang di dalamnya Allah berfirman:

فَاَتَتْ بِهٖ قَوْمَهَا تَحْمِلُهٗ ۗقَالُوْا يٰمَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْـًٔا فَرِيًّا (27) يٰٓاُخْتَ هٰرُوْنَ مَا كَانَ اَبُوْكِ امْرَاَ سَوْءٍ وَّمَا كَانَتْ اُمُّكِ بَغِيًّا ۖ (28) فَاَشَارَتْ اِلَيْهِۗ قَالُوْا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِى الْمَهْدِ صَبِيًّا (29) قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰىنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ (30) وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُۖ وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۖ (31) وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا (32) وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا (33) ذٰلِكَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚقَوْلَ الْحَقِّ الَّذِيْ فِيْهِ يَمْتَرُوْنَ (34) مَا كَانَ لِلّٰهِ اَنْ يَّتَّخِذَ مِنْ وَّلَدٍ سُبْحٰنَهٗ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ۗ (35) وَاِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ (36)

“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina, maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” Berkata Isa: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’ Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah, maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.”

Orang-orang Nasrani mengingkari pembicaraan Nabi Isa ketika masih bayi karena topiknya adalah tentang dirinya sebagai nabi dan Allah adalah Tuhannya. Juga tentang perintah Allah kepada Nabi Isa untuk menyembah-Nya. Mereka menganggap bicaranya Nabi Isa ketika masih bayi termasuk perkara mustahil. Maka, kita katakan bahwa lebih mustahil kondisi Maryam yang melahirkan tanpa pria. Jika kalangan Nasrani mengakui Nabi Isa bisa terlahir tanpa ayah, maka pembicaraannya ketika masih bayi seharusnya lebih diakui. Intinya, hal ini adalah salah satu mukjizat yang tidak ada pada empat Injil (injil Matius, Injil Lukas, Injil Yohannes, dan Injil Markus). Dalam hal ini, Islam lebih memuliakan Nabi Isa dibandingkan mereka.

Terdapat perselisihan di kalangan ulama, apakah Nabi Isa terus berbicara mulai bayi hingga dewasa, ataukah dia berbicara hanya ketika itu saja? Allahu a’lam. Tampaknya pendapat yang lebih kuat adalah Nabi Isa berbicara ketika itu saja dalam rangka membela ibunya sehingga ibunya bisa selamat dari hukuman. Di samping itu, jika Nabi Isa terus berbicara maka itu akan menjadi perkara menghebohkan sehingga memperkecil kemungkinan orang-orang Yahudi menuduh Nabi Isa sebagai anak zina.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada bayi yang dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian kecuali tiga bayi: (1) bayi Isa bin Maryam, (2) dan bayi dalam kasus Juraij. Juraij adalah seorang laki-laki yang rajin beribadah. Ia membangun tempat peribadatan dan senantiasa beribadah di tempat itu. Ketika sedang melaksanakan shalat sunah, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya, ‘Hai Juraij!’ Juraij bertanya dalam hati, Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, melanjutkan shalatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?” Akhirnya, ia pun meneruskan shalatnya. Ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya. Keesokan harinya ibunya datang lagi sementara Juraij pun sedang melakukan shalat sunah. Kemudian ibunya memanggilnya, ‘Hai Juraij!’ Kata Juraij dalam hati, Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, memenuhi seruan ibuku ataukah shalatku?’ Lalu, Juraij tetap meneruskan shalatnya hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya.

Hari berikutnya, ibunya datang lagi sementara Juraij pun sedang melaksanakan shalat sunah. Seperti biasa ibunya memanggil, ‘Hai Juraij!” Kata Juraij dalam hati, ‘Ya Allah, manakah yang harus aku utamakan, meneruskan salatku ataukah memenuhi seruan ibuku?’ Namun Juraij tetap meneruskan salatnya dan mengabaikan seruan ibunya. Tentunya hal ini membuat kecewa hati ibunya. Hingga tak lama kemudian ibunya pun berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah dari perempuan pelacur!’ Kaum Bani Israil selalu memperbincangkan tentang Juraij dan ibadahnya hingga ada seorang wanita pelacur cantik berkata: ‘Jika kalian mau, aku dapat memfitnahnya untuk kalian’. Maka mulailah pelacur itu menawarkan dirinya kepada Juraij, tetapi Juraij tidak menoleh sama sekali. Kemudian, pelacur itu pergi mendatangi seorang penggembala yang sering berteduh di tempat peribadatan Juraij. Wanita tersebut berhasil memperdayainya hingga laki- laki penggembala itu melakukan perzinaan dengannya sampai wanita itu hamil. Setelah melahirkan, wanita pelacur itu berkata kepada masyarakat sekitarnya, ‘Bayi ini adalah hasil dari Juraij’. Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat pun marah kepada Juraij. Mereka mendatangi Juraij, mengeluarkannya, menghancurkan rumah peribadatannya, dan bertindak main hakim sendiri kepadanya. Juraij pun bertanya kepada mereka; ‘Ada apa dengan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kamu telah berbuat zina dengan pelacur ini hingga ia melahirkan bayi dari hasil perbuatanmu’. Juraij menjawab, ‘Di manakah bayi itu?’ Kemudian, mereka menghadirkan bayi itu. Juraij berkata, ‘Berikan aku kesempatan untuk shalat. Seusai shalat, Juraij mendatangi bayi tersebut dan menyentuh perutnya dengan jari tangannya seraya bertanya, ‘Hai bayi, siapakah sebenarnya ayahmu itu?’ Sang bayi langsung menjawab, ‘Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala’. Maka mereka pun berpihak kepada Juraij, mencium keningnya, mengusapnya, dan berkata kepadanya, ‘Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu ini dengan bahan yang terbuat dari emas’. Namun Juraij menolak dan berkata, ‘Tidak usah. Kembalikan saja rumah ibadah itu seperti semula yang terbuat dari tanah liat’. Mereka pun membangun rumah ibadah itu seperti semula.

BACA JUGA: Kisah Dua Bayi yang Bisa Bicara Selain Nabi Isa a.s.

Dan (3) seorang bayi ketika sedang menyusu kepada ibunya, tiba-tiba lewat seorang laki-laki yang gagah dan berpakaian bagus. Lalu, ibu bayi tersebut berkata, ‘Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah anakku ini seperti laki-laki yang sedang mengendarai hewan tunggangan itu!’ Bayi itu berhenti dari susuannya, lalu menghadap dan memandang kepada laki-laki tersebut sambil berkata, ‘Ya Allah ya Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu!’ Setelah itu, bayi tersebut kembali menyusu kepada ibunya.” Abu Hurairah berkata, “Sepertinya saya melihat Rasulullah ﷺ menceritakan susuan bayi itu sambil memperagakan dengan jari telunjuk beliau yang diisap dengan mulut beliau.” Lalu, Rasulullah ﷺ meneruskan sabdanya: “Kemudian pada suatu ketika, ada beberapa orang menyeret dan memukuli seorang budak wanita seraya berkata, ‘Kamu tidak tahu diuntung. Kamu telah berzina dan mencuri’. Tetapi, budak wanita itu tetap tegar dan berkata, ‘Hanya Allah-lah penolongku. Sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik penolongku’. Kemudian ibu bayi itu berkata, ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti budak wanita itu!’ Namun, tiba-tiba bayi itu berhenti dari susuan ibunya, lalu memandang budak wanita tersebut seraya berkata: ‘Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah aku sepertinya!’ Pria tadi adalah seorang yang zalim, maka bayi itu mengatakan tidak ingin sepertinya. Sementara budak wanita tadi dituduh berzina dan mencuri, padahal ia tidak melakukannya, maka bayi itu ingin sepertinya,”

Menurut penjelasan An-Nawawi terhadap bagian akhir hadis di atas, maksudnya bayi itu ingin selamat dari maksiat, sebagaimana halnya budak wanita tersebut tidak melakukan atau selamat dari maksiat yang dituduhkan. Bukanlah maksudnya supaya ia juga ingin dituduh dengan tuduhan yang tidak benar.

Jika kita perhatikan tiga bayi yang berbicara pada hadis tersebut, maka yang tampak adalah ketiganya hanya berbicara sesaat, dan bukan terus-menerus. Ini menguatkan pendapat Ibnu Abbas bahwa Nabi Isa hanya berbicara sesaat untuk membela ibunya yang dituduh berzina oleh Bani Israil. Di samping itu, dalam ayat dimaksud Allah membedakan antara pembicaraannya ketika masih dalam buaian dan ketika dewasa. Ini menunjukkan adanya jeda pada pembicaraannya. Jadi, beliau berbicara ketika masih bayi hanya beberapa saat, kemudian kembali menjadi seperti bayi pada umumnya.[]

SUMBER: TAFSIR AT-TAYSIR SURAH AL-MA’IDAH, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response