Tafsir

Penjelasan tentang Hukum Orang yang Membunuh Hewan Buruan

Foto: Pixabay
38views

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 95:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَاَنْتُمْ حُرُمٌ ۗوَمَنْ قَتَلَهٗ مِنْكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَۤاءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهٖ ذَوَا عَدْلٍ مِّنْكُمْ هَدْيًاۢ بٰلِغَ الْكَعْبَةِ اَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسٰكِيْنَ اَوْ عَدْلُ ذٰلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوْقَ وَبَالَ اَمْرِهٖ ۗعَفَا اللّٰهُ عَمَّا سَلَفَ ۗوَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللّٰهُ مِنْهُ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membunuh hewan buruan ketika kamu sedang ihram (haji atau umrah). Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu, sebagai hadyu yang dibawa ke Ka’bah, atau kafarat (membayar tebusan dengan) memberi makan kepada orang-orang miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Dan Allah Mahaperkasa, memiliki (kekuasaan untuk) menyiksa.”

Ayat ini berkaitan dengan hukum orang yang membunuh hewan buruan. Kata حُرُمٌ “hurum” di sini memiliki dua tafsir. Tafsir yang pertama, maksudnya adalah kalian tidak boleh berburu dalam kondisi ihram, di mana pun kalian berada. Misalnya, penduduk Madinah ingin umrah atau haji. Ihram-nya adalah dari Dzul Hulaifah. Jarak antara Dzul Hulaifah dan Mekkah sekitar 450 KM. Dia tidak boleh berburu ketika singgah di mana pun selama perjalanan dari Dzul Hulaifah menuju Mekkah.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Syarat Hewan Buruan Menjadi Halal Dimakan

Pada zaman dahulu, ayat ini sangat penting diketahui hukumnya karena sangat relevan dengan kondisi mereka yang masih berburu. Adapun pada zaman sekarang, ayat ini tidak tidak begitu perlu diterapkan karena kesulitan dalam zaman dahulu sudah tidak lagi terjadi pada zaman sekarang, termasuk dalam hal berburu. Ini merupakan kemudahan dan berkah yang diberikan oleh Allah.

Dahulu, perjalanan Rasulullah ﷺ dari Madinah menuju Mekkah memerlukan waktu sekitar 8-9 hari. Rasulullah ﷺ dan para sahabat membutuhkan bekal dan makanan ketika mereka umrah dan ditahan di Hudaibiyyah. Namun, mereka dilarang untuk berburu.

Berdasarkan tafsiran ini, siapa yang telah selesai dari ihram-nya dan sudah ber-tahallul maka boleh baginya untuk berburu. Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2:

وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ihram maka bolehlah kamu berburu.”

Adapun tafsiran yang kedua adalah tidak boleh berburu ketika berada di tanah Haram Mekkah dan Madinah, meskipun tidak dalam keadaan ihram. Jadi, siapa yang berada di tanah haram maka tidak boleh baginya untuk berburu. Karena, di tanah haram untuk menebang pohon pun tidak diperbolehkan. Begitu pula untuk menginjak tanaman atau mengusir hewannya.

Namun, ayat ini lebih terkait dengan orang yang sedang ihram. Allahu ‘alam. Meskipun kedua perkara tersebut bisa termasuk dalam cakupan ayat ini yaitu tidak boleh berburu karena dalam kondisi ihram atau karena sedang berada di tanah haram. Terlebih ketika sedang berada di tanah haram dan dalam kondisi ihram maka tentulah hal tersebut lebih ditekankan.

Hewan-hewan yang tidak halal untuk dimakan maka boleh dibunuh, meskipun dalam kondisi ihram. Misalnya anjing, serigala, kalajengking, atau singa yang mengganggu maka boleh bagi siapa pun yang berada di tanah haram untuk membunuhnya. Hewan-hewan tersebut tidak termasuk dalam cakupan larangan. Yang dilarang untuk dibunuh hanya hewan-hewan buruan saja, seperti kelinci, kijang, rusa, burung unta, burung merpati, dan lain sebagainya.

Firman Allah,

وَمَنْ قَتَلَهٗ مِنْكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَۤاءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهٖ ذَوَا عَدْلٍ مِّنْكُمْ هَدْيًاۢ بٰلِغَ الْكَعْبَةِ اَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسٰكِيْنَ اَوْ عَدْلُ ذٰلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوْقَ وَبَالَ اَمْرِهٖ ۗعَفَا اللّٰهُ عَمَّا سَلَفَ ۗوَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللّٰهُ مِنْهُ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍ

“Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu, sebagai hadyu yang dibawa ke Ka’bah, atau kafarat (membayar tebusan dengan) memberi makan kepada orang-orang miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Dan Allah Mahaperkasa, memiliki (kekuasaan untuk) menyiksa.”

Ayat ini menjelaskan tentang hukum fikih yang pada zaman sekarang ini penerapannya sudah sangat langka, bahkan tidak ada. Namun, tentu saja lebih baik apabila kita mengetahuinya.

BACA JUGA: Allah Melarang untuk Menghalalkan yang Haram dan Mengharamkan yang Halal

Allah menjelaskan beberapa hal di antaranya: Siapa yang sengaja berburu, maka hukumannya adalah menyembelih hewan ternak.

Dalam ayat ini Allah menyebutkan syarat “sengaja“. Jika tidak sengaja, maka terdapat khilaf di antara para ulama. Misalnya, jika seseorang melempar sesuatu yang tidak sengaja mengenai burung merpati hingga mati. Sebagian ulama berpendapat tetap harus tetap membayar denda hewan ternak dan sebagainya yang lain berpendapat tidak mengapa.

Di antara contoh hewan ternak adalah unta, sapi, dan kambing. Sedangkan, hewan buruan misalnya merpati, kelinci, burung unta, rusa, dan yang semisalnya.

Siapa yang sengaja membunuh salah satu dari jenis hewan buruan tersebut maka yang menentukan jenis hewan ternaknya—sebagai dendanya—adalah dua orang yang adil. Yang dimaksud orang yang adil adalah orang yang bertakwa dan menjaga ketakwaannya dan menjaga marwahnya. Adapun orang yang gemar bermaksiat dan tidak shalat, misalnya, maka tidak boleh menghukumi perkara tersebut.

Hukuman bagi orang yang membunuh hewan buruan di tanah haram atau ketika ihram, yaitu:

Pertama, menyembelih hewan ternak, seperti kambing, sapi, atau unta. Sebagian sahabat dan tabi’in telah berijtihad bahwa siapa yang berburu merpati atau kelinci maka dendanya adalah kambing. Kalau berburu burung unta, maka dendanya unta, dan kalau berburu dhab (hiena) maka dendanya adalah sapi. Demikian juga para ulama setelah mereka juga berijtihad dalam menentukan hewan ternak yang pas sebagai denda atas hewan buruan tertentu.

Semua hewan tersebut adalah “sebagai hewan hadyu yang disembelih di Ka’bah“. Siapa yang berburu atau membunuh hewan buruan ketika ihram atau sebelum tahallul, maka dia harus melaksanakan hukuman dendanya dengan menyembelih hewan ternak tersebut di Mekkah.

Kedua, memberi makan fakir miskin. Ini berdasarkan firman Allah,

اَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسٰكِيْنَ

“Atau kafarat (membayar tebusan dengan) memberi makan kepada orang-orang miskin.”

Siapa yang telah membunuh hewan buruan berupa burung merpati, maka hukumannya adalah menyembelih seekor kambing. Namun, siapa yang tidak mampu menyembelih kambing, maka hendaklah dia memberikan makan kepada fakir miskin sebesar harga kambing yang seharusnya dia sembelih tersebut. Jika dia telah membunuh burung unta, maka dia harus menyembelih unta. Jika tidak bisa, maka dia harus memberi makan kepada fakir miskin sebesar harga seekor unta yang seharusnya dia sembelih.

Setiap fakir miskin mendapatkan setengah sha’ atau setengah dari takaran zakat fitrah. Sekiranya harga seekor kambing tersebut setara dengan 50 takaran makanan, maka si pelanggar memberikan makan 50 fakir miskin.

Ketiga, berpuasa. Ini berdasarkan firman Allah,

اَوْ عَدْلُ ذٰلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوْقَ وَبَالَ اَمْرِهٖ

“Atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu.”

Siapa yang tidak mampu mengganti tebusan hewan buruannya dengan memberi makan fakir miskin maka hendaknya menggantinya dengan berpuasa.

Kadar puasa yang harus dikerjakan tergantung dari harga hewan ternak kambing, sapi, atau unta yang harus ia bayarkan tersebut, yang kemudian dikonversikan dengan takaran beras/makanan yang seharusnya diberikan kepada fakir miskin. Setiap setengah sha’ setara dengan satu hari puasa. Jika ternyata harga seekor kambing setara dengan 25 sha’ maka berarti cukup untuk dibagikan kepada 50 fakir miskin sehingga dia wajib berpuasa 50 hari.

Jadi, jumlah hari puasa tergantung jumlah kadar yang harus dia berikan kepada fakir miskin. Setiap fakir miskin diberi setengah sha’ yang sama dengan setengah zakat fitrah.

Ada pendapat lain dari sebagian ulama bahwa batas maksimal puasa adalah 60 hari. Jika setelah dihitung ternyata lebih dari 60 hari maka si pelanggar berpuasa 60 hari, tidak lebih.

BACA JUGA: Asbabun Nuzul Surah Al-Ma’idah (5) Ayat 2 dan 3

Inilah aturan yang Allah tetapkan bagi yang melanggar dalam hal berburu, baik ketika ihram atau berada di tanah haram. Ini merupakan bentuk pengagungan Ka’bah oleh Allah. Karena, saat itu, orang-orang yang sedang ihram sedang berjalan menuju Ka’bah untuk beribadah kepada Allah sehingga di antara bentuk keagungannya adalah dengan tidak boleh berburu.

Firman Allah,

لِّيَذُوْقَ وَبَالَ اَمْرِهٖ ۗعَفَا اللّٰهُ عَمَّا سَلَفَ ۗوَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللّٰهُ مِنْهُ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍ

Agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Dan Allah Mahaperkasa, memiliki (kekuasaan untuk) menyiksa.

Siapa yang sebelumnya sudah terlanjur membunuh hewan buruan pada saat ihram tetapi tidak membayar hewan ternak, maka Allah mengampuninya. Namun, siapa yang kembali mengerjakannya, maka dosanya lebih besar dibandingkan sebelumnya.[]

SUMBER: TAFSIR AT-TAYSIR SURAH AL-MA’IDAH, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response