Historia/Tarikh

Sejarah Perang Ahzab (Perang Khandaq): Pembangunan Parit

foto: unsplash
16views

Keselamatan dan kedamaian kembali normal, Jazirah Arab kembali tenang setelah diramaikan oleh beberapa peperangan dan kegiatan militer selama lebih dari satu tahun. Hanya saja, orang- orang Yahudi yang menelan beberapa kehinaan karena ulah mereka sendiri yang berkhianat, berkonspirasi dan melakukan makar—tidak bisa menerima keadaan yang harus mereka jalani akibat pengkhianatan mereka. Setelah lari ke Khaibar, mereka menunggu-nunggu apa yang bakal menimpa kaum Muslimin sebagai akibat dari bentrokan mereka dengan para paganis Quraisy.

Hari demi hari terus berlalu membawa keuntungan bagi kaum Muslimin, pamor dan kekuasaan mereka semakin mantap. Karena itu, orang-orang Yahudi semakin dibakar amarah. Mereka kembali merancang konspirasi baru terhadap orang-orang Muslim dengan menghimpun pasukan sebagai persiapan untuk menyerang agar tidak lagi memiliki sisa kehidupan setelah itu. Karena belum berani menyerang kaum Muslimin secara langsung, mereka merancang dan melaksanakan langkah ini secara sembunyi-sembunyi dan hati-hati.

BACA JUGA: Perang Bani Quraizhah (Bagian Kedua – Habis)

Dua puluh pemuka Yahudi dari Bani Nadhir mendatangi Quraisy di Mekkah. Mereka mendorong orang-orang Quraisy agar menyerang Rasulullah ﷺ dan berjanji akan membantu serta mendukung rencana tersebut. Quraisy menyambutnya dengan senang hati, apalagi sebelumnya mereka tidak berani memenuhi janji berperang di Badar untuk kali kedua. Maka, mereka melihat ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengembalikan nama mereka.

Selanjutnya, dua puluh orang pemuka Yahudi itu pergi ke Ghathafan dan mengajak mereka seperti ajakan yang diserukan kepada orang-orang Quraisy. Ajakan ini mendapat sambutan yang baik. Kemudian, para utusan Yahudi itu berkeliling ke berbagai kabilah Arab dengan ajakan yang sama, dan semuanya memberikan respons yang baik. Inilah langkah awal yang dirancang orang-orang Yahudi dengan menghimpun orang-orang kafir untuk menyerang Rasulullah ﷺ dan menghentikan dakwah Islam agar tidak berjalan mulus.

Benar ternyata, dari arah selatan pasukan yang terdiri dari Quraisy, Kinakah, dan sekutu-sekutu mereka dari penduduk Tihamah, bergerak di bawah komando Abu Sufyan. Jumlah mereka adalah empat ribu prajurit. Bani Sulaim dari Marru Azh-Zhahran juga bergabung bersama mereka, sedangkan dari arah timur ada kabilah-kabilah Ghathafan, yang terdiri dari Bani Fazarah yang dipimpin oleh Uyainah bin Hishn, Bani Murrah yang dipimpin oleh Al-Harits bin Auf, Bani Asyja’ yang dipimpin Mis’ar bin Rukhailah, Bani Asad, dan lain-lainnya.

Pasukan gabungan tersebut bergerak ke arah Madinah secara serentak seperti yang telah mereka sepakati bersama. Dalam beberapa hari saja di sekitar Madinah sudah berhimpun pasukan musuh yang besar, jumlahnya mencapai 10 ribu prajurit. Itulah pasukan yang jumlahnya lebih banyak daripada seluruh penduduk Madinah, termasuk anak-anak, wanita, dan orang-orang tua.

Jika pasukan besar yang sedang berhimpun di sekitar Madinah tersebut melakukan serangan secara tiba-tiba dan serentak, sulit dibayangkan apa yang bakal terjadi dengan eksistensi kaum Muslimin. Bahkan, kemungkinan mereka akan tercabut hingga ke akar-akarnya. Akan tetapi, kepemimpinan Madinah tak pernah terpejam sekejap pun. Segala faktor dipertimbangkan sedemikian rupa secara matang dan segala gerakan tak lepas dari pantauan. Sebelum pasukan musuh beranjak dari tempatnya, informasi tentang rencana mereka pun sudah tercium di Madinah.

Rasulullah ﷺ segera menyelenggarakan majelis tinggi permusyawaratan untuk menampung rencana pertahanan di Madinah. Setelah anggota majelis saling bertukar pendapat, mereka sepakat melaksanakan usulan yang disampaikan seorang sahabat yang cerdik, Salman Al-Farisi. Dalam hal ini Salman berkata, “Wahai Rasulullah, dulu jika kami, orang-orang Persia, sedang dikepung musuh, kami membuat parit di sekitar kami.” Ini merupakan langkah yang sangat bijaksana, yang sebelumnya tidak pernah dikenal bangsa Arab.

Rasulullah ﷺ segera melaksanakan rencana itu. Setiap sepuluh orang laki-laki diberi tugas untuk menggali parit sepanjang empat puluh hasta. Dengan giat dan penuh semangat, kaum Muslimin menggali parit yang panjang. Rasulullah ﷺ terus-menerus membangkitkan semangat mereka dan juga terjun langsung di lapangan. Di dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan dari Sahl bin Sa’ad bahwa ia berkata, “Kami bersama Rasulullah ﷺ di dalam parit. Orang-orang sedang giat menggalinya. Kami mengusung tanah di atas pundak kami.” Beliau bersabda, ‘Tidak ada kehidupan selain kehidupan akhirat. Ampunilah dosa orang-orang Muhajirin dan Anshar.’”

BACA JUGA: Perang Bani Quraizhah (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Anas meriwayatkan, “Rasulullah pergi ke parit pada pagi hari yang sangat dingin saat orang-orang Muhajirin dan Anshar sedang menggali parit. Mereka tidak mempunyai seseorang yang bisa diupah untuk pekerjaan ini. Beliau tahu bahwa perut mereka kosong dan juga letih. Oleh karena itu, beliau bersabda: ‘Tidak ada kehidupan selain kehidupan akhirat. Ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin’.

Mereka menjawab dengan bersyair:

“Kamilah yang telah berbaiat kepada Muhammad

Untuk berjihad selama kami masih hidup.”

Al-Barra’ bin Azib berkata, “Aku melihat beliau mengangkuti tanah galian parit hingga banyak debu yang menempel di kulit perut beliau yang banyak bulunya. Aku juga mendengar beliau melantunkan syair- syairnya Ibnu Rawahah. Sambil mengangkuti tanah itu beliau bersabda:

Ya Allah, andaikan bukan karena Engkau

Tentu kami tidak akan mendapar petunjuk

Tidak bersedekah dan tidak shalat

Turunkanlah kesenteraman kepada kami

Kakohkanlah pendirian kami saat kami berperang

Para kerabat telah berbuat aniaya kepada kami

Di akhir kalimat, beliau mengeraskan suaranya:

Jika mereka hendak berbuat fitnah, kami tidak menginginkannya

Kaum Muslimin bekerja dengan giat dan penuh semangat sekalipun mereka didera rasa lapar. Anas berkata, “Tiap-tiap orang yang sedang menggali parit diberi tepung gandum sebanyak satu genggam tangan, lalu dicampur dengan minyak sebagai adonan.Kerongkongan mereka jarang tersentuh makanan sehingga dari mulut mereka keluar bau yang tidak sedap.”

Abu Thalhah berkata, “Kami mengadukan rasa lapar kepada Rasulullah ﷺ, lalu kami mengganjal perut kami dengan batu. Beliau juga mengganjal perut dengan dua buah batu.

Selama penggalian parit ini terjadi beberapa tanda nubuwwah yang berkaitan dengan rasa lapar yang mendera mereka, Jabir bin Abshullah melihat beliau yang benar-benar tersiksa karena rasa lapar. Lalu, dia menyembelih seekor hewan dan istrinya menanak 1 sha tepung gandum. Setelah masak, Jabir membisiki Rasulullah ﷺ secara pelan-pelan agar datang ke rumahnya bersama beberapa sahabat saja. Namun, beliau justru berdiri di hadapan semua orang yang sedang menggali parit yang jumlahnya ada seribu orang, lalu mereka melahap makanan yang tak seberapa banyak itu hingga semua kenyang. Bahkan, masih ada sisa dagingnya, begitu pula adonan tepung untuk roti.

Saudari An-Nu’man bin Basyir datang ke tempat penggalian parit sambil membawa kurma segenggam tangan untuk diberikan kepada ayah dan pamannya. Ketika itu, Rasulullah ﷺ lewat di dekatnya dan meminta kurma tersebut, lalu beliau meletakkannya di atas selembar kain. Setelah itu, beliau memanggil semua orang dan mereka pun memakannya. Setelah semua orang yang menggali parit memakannya, ternyata kurma yang hanya segenggam itu masih tersisa dan bahkan jumlahnya lebih banyak sehingga sebagian ada yang tercecer keluar dari hamparan kain.

Peristiwa yang lebih besar dari dua gambaran ini adalah yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Jabir yang berkata, “Saat kami menggali parit, ada bongkahan tanah yang sangat keras. Mereka mendatangi Nabi seraya berkata, ‘Ini ada tanah keras yang teronggok di tengah parit’. Beliau bersabda, ‘Kalau begitu aku akan turun ke bawah.’

Setelah turun, beliau berdiri tegak dan terlihat perut beliau yang diganjal batu. Sebelumnya kami bertiga sudah mencoba untuk mengatasinya, namun tidak mampu. Lalu, beliau mengambil sekop dan memukul onggokkan tanah yang keras itu hingga hancur berkeping- keping menjadi pasir.”

Al-Barra’ berkata, “Saat menggali parit, di beberapa tempat kami terhalang oleh tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali dengan cangkul. Kami melaporkan hal ini kepada Rasulullah ﷺ. Beliau datang, mengambil sekop dan bersabda, ‘Bismillah…’ Beliau langsung menghantam tanah yang keras itu dengan sekali hantaman.

Beliau bersabda lagi, ‘Allahu akbar. Aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah, aku benar-benar bisa melihat istana-istananya yang berwarna merah saat ini’. Lalu, beliau menghantam untuk kedua kalinya bagian tanah yang lain. Beliau bersabda lagi, ‘Allahu akbar. Aku diberi tanah Persia. Demi Allah, saat ini pun aku bisa melihat istana Mada’in yang berwarna putih’.

BACA JUGA: Sekilas Tentang Peperangan Pada Masa Rasulullah

Kemudian beliau menghantam untuk ketiga kalinya dan bersabda, ‘Bismillah…’ Maka hancurlah tanah atau batu yang masih menyisa. Kemudian beliau bersabda, ‘Allahu akbar. Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah, dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Sana’a.’” Ibnu Ishaq juga meriwayatkan yang serupa dengan ini dari Salman Al-Farisi.

Karena Madinah dikelilingi oleh gunung, tanah-tanah kasar yang berbatuan, dan kebun-kebun kurma di segala sudutnya—kecuali bagian utara—pasukan musuh sebanyak itu tentu akan menyerbu Madinah dari arah utara. Sebagai pemegang pucuk pimpinan militer, beliau tahu betul hal ini. Untuk itu, parit digali di bagian ini. Kaum Muslimin terus-menerus menggali parit tanpa henti sepanjang siang, sedangkan pada sore harinya mereka pulang ke rumah menemui keluarga hingga penggalian parit menjadi sempurna seperti rencana semula, sebelum pasukan paganis yang tak terkira banyaknya itu tiba di pinggiran Madinah.[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakafuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response