Historia/Tarikh

Perang Bani Quraizhah (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Foto: Pixabay
16views

Pada hari ketika Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah, Jibril mendatangi beliau pada waktu Zuhur saat beliau sedang membersihkan badan di rumah Ummu Salamah. Jibril berkata, “Mengapa engkau telah meletakkan senjata? Padahal, para malaikat belum meletakkan senjatanya. Aku tidak kembali ke sini kecuali untuk mengejar musuh. Karena itu, bangkitlah dengan orang-orang yang bersamamu ke Bani Quraizhah. Aku akan berangkat di depanmu. Aku akan mengguncangkan benteng-benteng mereka dan menyusupkan ketakutan ke dalam hati mereka.” Jibril pun pergi di dalam iring-iringan para malaikat.

Rasulullah ﷺ memerintahkan seseorang agar memberikan pengumuman kepada orang-orang, “Siapa yang tunduk dan patuh, janganlah sekali-kali mendirikan shalat Asar kecuali di Bani Quraizhah.”

BACA JUGA: Sekilas Tentang Peperangan Pada Masa Rasulullah

Madinah diserahkan kepada Ibnu Ummi Maktum. Bendera diserahkan kepada Ali bin Abu Thalib dan menyuruhnya agar lebih dahulu berangkat ke Bani Quraizhah. Setiba di dekat benteng mereka, dia mendengar ejekan yang ditujukan kepada diri beliau.

Rasulullah ﷺ pergi di tengah iring-iringan orang-orang Muhajirin dan Anshar hingga tiba di salah satu mata air milik Bani Quraizhah, yang disebut Bi’r Anna. Kaum Muslimin melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah ﷺ. Secara berkelompok-kelompok mereka berangkat menuju Bani Quraizhah. Mereka masih di tengah perjalanan saat waktu shalat Asar tiba.

Sebagian sahabat menunaikannya saat itu juga, namun sebagian orang berkata, “Kami tidak akan mendirikan shalat Asar sebelum tiba di Bani Quraizhah seperti yang diperintahkan kepada kita.” Sehingga, sebagian orang mendirikan shalat Asar setelah waktu akhir. Dalam hal ini, mereka berkata, “Kami tidak saling mempernsalahkan hal ini karena yang dimaksudkan beliau adalah agar kami cepat-cepat berangkat. Sekalipun ada yang mendirikan shalat Asar di tengah perjalanan, tak seorang pun yang mempermasalahkannya.”

Secara berkelompok-kelompok pasukan kaum Muslimin bergerak ke arah Bani Quraizhah dan akhirnya mereka berkumpul dengan Nabi ﷺ. Jumlah mereka tiga ribu orang. Penunggang kuda ada tiga puluh orang. Mereka mendekati benteng Bani Quraizhah dan putuskan untuk mengepungnya. Setelah pengepungan dilakukan secara ketat, ada tiga hal yang ditawarkan pemimpin mereka, Ka’ab bin Asad, kepada kaumnya, yaitu orang-orang Yahudi:

  1. Mereka masuk Islam dan masuk agama Muhammad. Dengan begitu mereka mendapat jaminan keamanan atas darah, harta, anak-anak dan wanita-wanita mereka. Dalam hal ini, dia berkata kepada mereka, “Demi Allah, kalian sudah tahu sendiri bahwa memang dia adalah nabi yang diutus. Dia pula yang namanya kalian baca di dalam kitab kalian.”
  2. Mereka membunuh anak-anak dan wanita-wanita mereka dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka berperang melawan Muhammad dengan pedang terhunus hingga meraih kemenangan atau biar saja mereka terbunuh semua dan tak seorang pun yang tersisa.
  3. Langsung menyerang Rasulullah ﷺ dan para sahabat dan melanggar larangan berperang pada hari Sabtu.

Namun, mereka menolak semua tawaran tersebut. Pada saat itu pemimpin mereka, Ka’ab bin Asad, berkata dengan nada tinggi karena marah, “Apa yang membuat salah seorang di antara kalian menjadi keras kepala setelah dilahirkan ibunya semalam suntuk?”

Tidak ada pilihan lain bagi Bani Quraizhah setelah menolak tiga usulan ini selain pasrah kepada keputusan Rasulullah ﷺ. Meski demikian, mereka masih berusaha menjalin kontak dengan rekan mereka yang sudah masuk Islam. Siapa tahu mereka mau menunjukkan jalan untuk mengambil keputusan yang terbaik. Maka, mereka mengirim utusan kepada Rasulullah ﷺ dengan pesan, “Utuslah Abu Lubabah agar menemui kami. Kami akan meminta pendapatnya.”

Sebelum masuk Islam, Abu Lubabah adalah sekutu mereka. Sementara harta dan anak-anak Abu Lubabah juga ada di wilayah orang-orang Yahudi. Saat melihat kedatangan Abu Lubabah, semua orang Yahudi mengelu-elukannya. Yang laki-laki bangkit mengerumuninya dan para wanita serta anak-anak menangis di hadapannya. Abu Lubabah sangat iba melihat keadaan mereka. Mereka berkata, “Wahai Abu Lubabah. apakah kami harus tunduk kepada keputusan Muhammad?” “Begitulah.” jawabnya sambil memberi isyarat dengan tangannya yang diletakkan di leher, yang maksudnya mereka akan dijatuhi hukuman mati. Padahal, tidak selayaknya dia berbuat seperti itu di hadapan mereka.

BACA JUGA: Al-Quran Berbicara Tentang Masalah Perang

Setelah itu, Abu Lubabah sadar bahwa dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu dia berbalik dan tidak menemui Rasulullah ﷺ. Dia masuk Masjid Nabawi dan mengikat tubuhnya di tiang masjid. Dia bersumpah tidak akan melepaskan tali itu, kecuali beliau sendiri yang melepaskannya dan dia juga tidak akan memasuki wilayah Bani Quraizhah.

Setelah beliau mendengar apa yang diperbuat Abu Lubabah, yang sejak lama ditunggu-tunggu kedatangannya, beliau bersabda, “Andaikata dia menemuiku, tentu aku akan mengampuninya. Tetapi, bila dia memang berbuat seperti itu, aku tidak akan melepaskannya, kecuali jika dia bertobat kepada Allah.”

Sekalipun Abu Lubabah sudah mengisyaratkan seperti itu, mereka tetap mengambil keputusan untuk pasrah kepada keputusan Rasulullah ﷺ yang sebelumnya mereka sudah berusaha bertahan menghadapi pengepungan yang panjang. Apalagi bahan makanan, air, dan peralatan cukup menunjang untuk itu. Di samping itu, kaum Muslimin terus-menerus diserang hawa dingin dan rasa lapar karena mereka berada di tempat yang terbuka, ditambah lagi kondisi badan mereka yang letih sehabis diperas menghadapi pasukan sekutu gabungan dari kaum Quraisy dan Ghathafan.

Perlu diingat, Perang Bani Quraizhah adalah peperangan urat syaraf. Allah menyusupkan ketakutan ke dalam hati orang-orang Yahudi. Mental mereka langsung merosot. Keadaan ini mencapai puncaknya hingga muncul Ali bin Abu Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwarn. Ali berteriak, “Wahai pasukan iman, demi Allah, aku siap merasakan seperti yang dirasakan Hamzah atau lebih baik aku menjebol benteng mereka.”

Bersambung ke bagian dua.

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakafuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response