Historia/Tarikh

Sejarah Penaklukkan Ka’bah (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Foto: Unsplash
21views

Ibnul Qayyim berkata, “Ini merupakan penaklukan terbesar yang dengannya Allah memuliakan agama, Rasul, para prajurit, dan pasukan-Nya yang dapat dipercaya, yang dengan penaklukan ini pula Dia menyelamatkan negeri dan rumah-Nya, yang telah dijadikan sebagai petunjuk bagi semesta alam, menyelamatkannya dari cengkeraman tangan orang-orang kafir dan musyrik. Ini merupakan penaklukan dan sekaligus kemenangan yang telah dikabarkan penduduk langit, yang kemudian semua manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong sehingga wajah bumi berseri-seri memancarkan cahaya dan keceriaan.”

Latar Belakang Peperangan

Di bagian terdahulu, kami sudah menjelaskan tentang salah satu butir perjanjian Hudaibiyah, yakni bahwa siapa yang ingin bergabung ke pihak Muhammad dan perjanjiannya, dia boleh melakukannya. Sebaliknya, siapa yang ingin bergabung ke pihak Quraisy dan perjanjiannya, dia pun boleh melakukannya. Kabilah mana pun yang bergabung dengan salah satu pihak berarti kabilah tersebut dianggap sebagai bagian dari pihak yang diikuti. Dengan demikian, penyerangan terhadap suatu kabilah yang telah bergabung ke salah satu pihak dianggap sebagai penyerangan terhadap pihak yang bersangkutan. Atas dasar ini, maka Khuza’ah bergabung ke pihak Nabi, sedangkan Bani Bakar bergabung ke pihak Quraisy sehingga masing-masing merasa aman dari gangguan dan serangan pihak lain.

BACA JUGA: Mengenal Perjanjian Hudaibiyah

Semasa Jahiliyah, dua kabilah ini saling bermusuhan dan saling menyerang. Setelah Islam datang dan terjadi gencatan senjata di Hudaibiyah serta masing-masing mulai merasa aman dari gangguan pihak lainnya, kesempatan ini justru dipergunakan Bani Bakar untuk melampiaskan dendam lama terhadap Khuza’ah. Untuk itu, Naufal bin Mu’awiyah Ad-Daili, bersama segolongan orang dari Bani Bakar, melakukan serangan mendadak pada malam hari terhadap Bani Khuza’ah yang sedang berada di mata air mereka, Al-Watir. Dalam serangan mendadak ini dia bisa menghabisi beberapa orang Bani Khuza’ah. Kedua belah pihak bertempur hebat. Secara diam-diam, Quraisy memberi bantuan persenjataan kepada Bani Bakar. Bahkan, beberapa orang Quraisy juga ada yang ikut terlibat langsung dalam pertempuran membantu Bani Bakar pada malam hari.

Bani Khuza’ah terdesak hingga ke Tanah Suci. Di Tanah Suci inilah orang-orang dari Bani Bakar mengingatkan rekan-rekan mereka sendiri, “Wahai Naufal, kita sudah memasuki Tanah Suci. Ingatlah Tuhanmu. Ingatlah Tuhanmu!” Naufal memberikan jawaban yang tidak bisa dianggap enteng. “Tidak ada Tuhan hari ini, wahai Bani Bakar. Lampiaskan dendam kalian. Demi Allah, kalau perlu kalian boleh mencuri di Tanah Suci. Apakah kalian tidak ingin melampiaskan dendam di Tanah Suci?”

Ketika penduduk Khuza’ah benar-benar sudah memasuki Mekkah, mereka segera berlindung ke rumah Budail bin Warqa’ Al-Khuza’i dan rumah pembantunya yang bernama Rafi’. Pada saat yang sama, Amr bin Salim Al-Khuza’i cepat-cepat pergi ke Madinah hendak menemui Rasulullah ﷺ. Setibanya di sana, dia berdiri di hadapan beliau yang sedang duduk-duduk di masjid, dikelilingi beberapa orang Muslim. Dia berkata dalam sebuah syair:

Ya Rabbi, aku memanggil Muhammad

Sekutu orang tua kami dan orang tuanya dulu

Dahulu kalian adalah anak, sedangkan kami adalah ayah

Kami berdamai dan melepaskannya

Tolonglah kami, semoga Allah memberimu pertolongan gemilang

Panggillah hamba-hamba Allah agar datang sebagai bala bantuan

Di tengah mereka ada Rasulullah yang siap berperang

Putih laksana bulan purnama yang terang benderang

Yang bila dizalimi, ia berubah karena marah

Dalam pasukan besar seperti laut yang mengalir hingga mengeluarkan buih

BACA JUGA: Delegasi Terakhir Kaum Quraisy Berkunjung ke Abu Thalib

Quraisy telah mengingkari perjanjiannya denganmu

Melanggar perjanjianmu yang kuat

Mengincar untuk membunuhku di Kada’

Mereka mengira aku tidak mengajak siapa pun

Mereka sangat hina dan jumlah mereka sangat sedikit

Mereka menyerang kami di Al-Watir pada malam saat kami sedang tahajud

Dan membunuh kami saat kami ruku dan sujud

Rasulullah ﷺ bersabda, “Engkau pasti akan ditolong wahai Amr bin Salim.” Tiba-tiba saat itu muncul mendung di langit, lalu beliau bersabda. “Mendung ini akan memudahkan pertolongan bagi Bani Ka’ab”. Budail dan beberapa orang dari Khuza’ah juga berangkat untuk menemui Rasulullah ﷺ di Madinah. Setelah bertemu, dia mengabarkan apa yang menimpa orang-orang Bani Khuza’ah dan bantuan yang diberikan Quraisy terhadap Bani Bakar. Setelah itu, dia kembali lagi ke Mekkah.

Abu Sufyan Pergi ke Madinah untuk Memperbarui Isi Perjanjian

Tidak dapat diragukan apa yang dilakukan Quraisy dan sekutunya ini merupakan pengkhianatan dan pelanggaran yang nyata terhadap perjanjian dan tidak mungkin bisa dimaafkan lagi. Orang-orang Quraisy mulai menyadari pengkhianatan ini dan merasakan akibat yang harus mereka tanggung. Mereka menyelenggarakan majelis permusyawaratan dan mengambil keputusan untuk mengirim seorang utusan. Mereka pun mengirim pemimpin mereka, Abu Sufyan, untuk memperbarui isi perjanjian.

Setelah mendapat informasi tentang pengkhianatan ini, Rasulullah ﷺ memberitahukannya kepada para sahabat. Beliau bersabda, “Sepertinya Abu Sufyan akan mendatangi kalian untuk membuat perjanjian lagi dan menambahi temponya.”

Abu Sufyan berangkat menuju Madinah dan bertemu Budail bin Warqa’ di Asfan yang sedang pulang dari Madinah. “Dari mana engkau, wahai Budail?” tanya Abu Sufyan. Ia merasa yakin bahwa Budail baru saja menemui Rasulullah ﷺ.

“Aku dan beberapa orang dari Khuza’ah ini baru saja dari pesisir pantai dan perkampungan di lembah itu,” jawab Budail.

“Bukankah engkau baru saja menemui Muhammad?” tanya Abu Sufyan.

“Tidak,” jawab Budail.

Setelah Budail pergi melanjutkan perjalanan ke Mekkah, Abu Sufyan berkata sendiri, “Apabila Budail telah pergi ke Madinah, berarti dia telah memberi makan untanya dengan biji-bijian.” Maka, dia mendatangi tempat menderum unta Budail untuk mengambil dan memeriksa kotorannya. Dan benar, dia melihat ada biji-bijian di kotoran itu. Dia berkata, “Aku berani sumpah kepada Allah, Budail benar-benar telah menemui Muhammad.”

Akhirnya, Abu Sufyan melanjutkan perjalanannya hingga tiba di Madinah. Dia memasuki rumah putrinya yang telah menjadi istri Rasulullah ﷺ, Ummu Habibah. Saat dia hendak duduk di tikar milik beliau. Ummu Habibah melipatnya agar tidak diduduki ayahnya. Abu Sufyan marah dan berkata, “Wahai putriku, apakah engkau lebih sayang kepadaku daripada tikar itu ataukah engkau lebih sayang kepada tikar itu daripada aku?” Ummu Habibah menjawab, “Ini adalah tikar Rasulullah ﷺ sedangkan engkau orang musyrik yang najis.” Abu Sufyan berkata, “Demi Allah, rupanya engkau telah dikuasai keburukan setelah berpisah denganku.”

Kemudian, Abu Sufyan menemui Rasulullah ﷺ dan berdiplomasi dengan beliau. Tetapi, beliau sama sekali tidak menanggapinya. Kemudian, dia menemui Abu Bakar dan berbicara kepadanya, meminta agar Abu Bakar mau berbicara kepada beliau. Namun, Abu Bakar berkata, “Aku tidak sudi melakukannya.”

Kemudian, Abu Sufyan menemui Umar bin Al-Khaththab dan berbicara dengannya. Umar berkata, “Apakah layak bila aku memintakan pertolongan bagi kalian kepada Rasulullah ﷺ? Demi Allah, kalau pun aku hanya mendapatkan debu, tentu debu itu akan kugunakan untuk menyerang kalian.”

Kemudian Abu Sufyan menemui Ali bin Abu Thalib yang sedang bersama Fathimah dan Hasan yang merangkak dengan tangannya. Abu Sufyan berkata, “Wahai Ali, engkau adalah orang yang paling dekat hubungan kekerabatannya denganku. Aku datang karena ada keperluan. Aku tidak akan kembali dengan tangan hampa. Mintakanlah pertolongan untukku kepada Muhammad.”

Ali menjawab, “Celaka engkau, wahai Abu Sufyan. Rasulullah ﷺ sudah mengambil suatu keputusan dan kami tidak bisa memengaruhi beliau.” Abu Sufyan memandang ke arah Fathimah, lalu berkata kepadanya. “Sudikah engkau menyuruh anakmu ini agar dia memberi perlindungan kepada orang-orang agar dia menjadi pemimpin Arab sepanjang masa?” Fathimah menjawab, “Demi Allah, anakku terlalu kecil untuk memberi perlindungan di tengah-tengah orang-orang. Di samping itu, tak seorang pun mau memberi perlindungan dengan mendurhakai Rasulullah ﷺ.

BACA JUGA: Kisah Perang Hamra Al-Asad

Dunia terasa gelap di mata Abu Sufyan. Dengan perasaan galau, resah dan putus asa dia berkata kepada Ali bin Abu Thalib, “Wahai Abul Hasan, kulihat semua urusan terasa amat berat bagiku. Karena itu, nasihatilah aku.”

Ali menjawab, “Aku tidak melihat lagi sesuatu pun yang berguna bagimu. Tetapi, bukanlah engkau ini pemimpin Bani Kinanah? Bangkit dan berilah jaminan perlindungan untuk manusia, kemudian pulanglah ke tempatmu.”

“Apakah hal itu berguna bagiku?” tanya Abu Sufyan.

“Demi Allah, aku juga tidak yakin. Tetapi, aku tidak mengetahui alternatif lain,” jawab Ali.

Setelah itu, Abu Sufyan berdiri di masjid dan berkata, “Wahai orang- orang, aku telah memberi jaminan perlindungan untuk manusia.” Lalu dia naik untanya dan beranjak pergi.

Setelah Abu Sufyan tiba di tengah orang-orang Quraisy, mereka bertanya kepadanya, “Bagaimana hasilnya?” Abu Sufyan menjawab, “Aku sudah menemui Muhammad dan berbicara dengannya. Demi Allah, dia sama sekali tidak menanggapiku. Kemudian, aku menemui Ibnu Ab Quhafah (Abu Bakar), tetapi ia juga tidak membantuku. Kemudian, aku menemui Umar bin Al-Khaththab. Aku mendapatkan dialah musuh yan paling dekat. Kemudian aku menemui Ali dan kudapatkan dialah orang yang paling lemah lembut. Dia memberiku masukan tentang apa yang seharusnya kulakukan. Demi Allah, aku tidak tahu adakah yang berguna bagiku ataukah tidak.”

“Apa yang diperintahkannya?” tanya mereka.

“Dia menyuruhku agar aku memberikan perlindungan kepada manusia. Maka, sarannya itu telah kulakukan,” jawab Abu Sufyan.

“Apakah Muhammad menyetujuinya?” tanya mereka.

“Tidak,” jawabnya. Mereka berkata, “Celaka engkau. Ali justru lebih mempermainkan dirimu.”

“Tidak demi Allah, aku tidak menemukan alternatif lain,” jawab Abu Sufyan.[]

Bersambung ke bagian kedua

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakafuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response