Historia/Tarikh

Sejarah Penaklukkan Ka’bah (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Foto: Unsplash
25views

Dalam bagian pertama telah dikisahkan bahwa kaum Quraisy melakukan pelanggaran atau pengkhiatan terhadap perjanjian Hudaibiyah ketika Bani Bakar secara tiba-tiba menyerang Bani Khuza’ah. Selanjutnya, Abu Sufyan ditugaskan oleh kaum Quraisy untuk menemui Rasulullah ﷺ dan memperbarui isi perjanjian. Namun, karena sebelumnya telah mengetahui pengkhianatan yang dilakukan kaum Quraisy, tidak ada seorang pun yang menganggap kehadiran Abu Sufyan sehingga dia pun kembali ke kaumnya dengan tangan hampa.

Bersiap-siap untuk Perang dan Usaha Merahasiakannya

Kisah peperangan ini diambilkan dari riwayat Ath-Thabrani bahwa tiga hari sebelum ada informasi tentang pelanggaran perjanjian oleh pihak Quraisy, Rasulullah ﷺ memerintahkan Aisyah untuk mempersiapkan peralatan perang bagi beliau. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini. Lalu, Abu Bakar datang ke rumah Aisyah dan bertanya, “Wahai putriku, untuk apa peralatan ini?” Aisyah menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu.” Maka, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, yang seperti ini hanya terjadi pada waktu perang Bani Al-Ashfar. Ke mana kiranya tujuan Rasulullah ﷺ?” Aisyah berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu.”

Pada pagi hari ketiga, Amr bin Salim Al-Khuza’i datang bersama empat puluh orang yang berkendara, lalu melantunkan syair seperti yang disebutkan sebelum ini. Dengan begitu orang-orang mengetahui telah terjadi pelanggaran terhadap perjanjian. Setelah Amr, datang pula Budail, lalu disusul Abu Sufyan, sehingga mereka semakin yakin kabar tentang hal itu. Setelah itu, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar semua orang melakukan persiapan dan memberitahukan bahwa sasarannya adalah Mekkah. Beliau bersabda, “Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba.”

BACA JUGA: Sejarah Penaklukkan Ka’bah (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Agar misi yang dirahasiakan ini lebih terjaga, Rasulullah ﷺ mengutus satuan pasukan sebanyak delapan puluh orang di bawah pimpinan Abu Qatadah bin Rab’i ke suatu perkampungan yang terletak di antara Dzu Khasyab dan Dzul Marwah pada awal Ramadhan 8 H. Tujuannya agar orang-orang mengira bahwa beliau hendak menuju ke tempat tersebut. Mereka juga diperintahkan untuk menyiarkan kabar keberangkatan ke tempat itu. Setelah mereka tiba di tempat yang sudah diperintahkan, beliau akan berangkat ke Mekkah dan mereka diperintahkan untuk menyusul.

Pada saat itulah, Hathib bin Abu Balta’ah menulis surat yang hendak dikirimkan kepada kaum Quraisy. Isi suratnya mengabarkan keberangkatan Rasulullah ﷺ ke sana. Surat ini dititipkan kepada seorang wanita dan dia juga memberinya sejumlah upah agar surat tersebut disampaikan kepada Quraisy. Setelah surat disembunyikan di gelungan rambutnya, wanita itu pun berangkat.

Pada saat yang sama, Rasulullah ﷺ mendapat kabar dari langit tentang apa yang dilakukan Hathib bin Abu Bata’ah. Beliau langsung mengutus Ali dan Al-Miqdad seraya bersabda, “Segeralah pergi hingga kalian tiba di Raudhah Khakh. Di sana ada seorang wanita yang membawa selembar surat yang ditujukan kepada Quraisy.” Mereka berdua langsung berangkat dan memacu kudanya sekencang-kencangnya agar dapat menyusul wanita itu di tempat tersebut.

Mereka memintanya untuk berhenti sambil berkata, “Apakah engkau sedang membawa surat?”

“Aku tidak membawa surat apa pun,” jawab wanita itu.

Mereka berdua memeriksa hewan tunggangannya, tetapi tidak mendapatkan apa yang dicari.

Ali berkata, “Aku bersumpah demi Allah, Rasulullah tidak berdusta, begitu pula kami. Demi Allah, keluarkanlah surat itu atau kami benar-benar akan menelanjangimu!”

Setelah tahu kesungguhan Ali, wanita itu berkata, “Kalau begitu berpalinglah dariku!”

BACA JUGA: Sejarah Perang Tabuk (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Mereka berdua memalingkan pandangan, lalu wanita itu melepaskan gelungan rambutnya dan mengeluarkan sepucuk surat, kemudian menyerahkannya kepada mereka berdua. Surat itu diserahkan kepada Rasulullah ﷺ, yang di dalamnya tertulis: “Dari Hathib bin Abu Balta’ah kepada Quraisy…” Kelanjutan isinya mengabarkan niat keberangkatan Rasulullah ﷺ.

“Apa ini, wahai Hathib?” tanya beliau setelah Hathib dipanggil. “Jangan terburu menuduhku, wahai Rasulullah. Demi Allah, aku adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dahulu aku adalah seorang anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku mempunyai keluarga, kerabat, dan anak. Sementara itu, tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Padahal, orang-orang yang bersama engkau mempunyai kerabat yang bisa melindungi mereka. Karena itu, aku ingin ada kerabat yang bisa melindungi keluargaku di sana.”

Umar bin Al-Khaththab berkata, “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya karena dia telah mengkhianati Allah dan Rasul- Nya. Ia telah berbuat kemunafikan.”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Dia pernah ikut dalam Perang Badar. Tahukah engkau, wahai Umar? Barang kali Allah telah membebaskan orang-orang yang ikut dalam Perang Badar, lalu berfirman, ‘Berbuatlah sesuka kalian karena Aku telah mengampuni kesalahan kalian. Kedua mata Umar meneteskan air mata, seraya berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Begitulah Allah mencekal setiap mata-mata hingga tak ada sedikit informasi pun yang didengar Quraisy tentang persiapan kaum Muslimin untuk berperang.

Pasukan Islam Bergerak ke Arah Mekkah

Pada hari kesepuluh Ramadhan 8 H, Rasulullah ﷺ meninggalkan Madinah dan berangkat menuju Mekkah bersama sepuluh ribu sahabat. Madinah diwakilkan kepada Abu Ruhm Al-Ghifari. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Juhfah atau setelah melewati Juhfah, beliau bertemu paman beliau, Al-Abbas bin Abdul Muththalib, yang telah masuk Islam dan hijrah bersama seluruh keluarganya.

Kemudian, setiba di Abwa’, beliau juga bertemu dengan anak paman beliau, Abu Sufyan bin Al-Harits dan anak bibi beliau, Abdullah bin Abu Umayyah. Namun, beliau menolak untuk bertemu dengan mereka berdua. Karena keadaan keduanya sudah payah dan letih, Ummu Salamah berkata kepada beliau, “Jangan biarkan anak pamanmu dan anak bibimu menjadi orang yang paling menderita karenamu.”

Ali bin Abu Thalib memberi saran kepada Abu Sufyan bin Al-Harits, “Temuilah Rasulullah langsung di hadapan beliau lalu katakan seperti yang dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf: ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)’ (baca Surah Yusuf [12] ayat 91). Beliau tidak ridha sekalipun ada seseorang yang perkataannya lebih baik dari itu.”

Maka, Abu Sufyan melaksanakan saran Ali ini. Kemudian, beliau bersabda kepada Abu Sufyan, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian) dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang (baca Surah Yusuf [12] ayat 92).”

Setelah itu, Abu Sufyan melantunkan beberapa bait syair di hadapan beliau, di antaranya:

Demi hidupmu aku bersumpah, ketika aku membawa bendera

Untuk memenangkan generasi Lata atas generasi Muhammad

Laksana pengelana yang kebingungan di malam yang pekat

Namun, sekarang aku telah mendapatkan petunjuk dan diberi petunjuk

Seseorang memberiku petunjuk dan menuntunku ke jalan Allah

Sekalipun dahulu aku selalu mengusirnya dengan gigih.

BACA JUGA: Sejarah Perang Tabuk (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Lalu, beliau memukul dadanya sambil bersabda, “Engkau dulu mengusirku dengan gigih.”

Pasukan Islam Singgah di Marr Azh-Zhahran

Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan dalam keadaan puasa, begitu pula semua orang, hingga tiba di Al-Kudaid, sebuah mata air yang terletak antara Asfan dan Qudaid. Beliau berbuka di sana bersama semua orang yang bergabung bersama beliau. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan hingga tiba di Marr Azh-Zhahran. Beliau memerintahkan pasukan untuk berhenti dan mereka pun menyalakan api unggun. Mereka menyalakan ribuan api unggun. Beliau mengangkat Umar bin Al-Khaththab sebagai penjaga.

Abu Sufyan di Hadapan Rasulullah

Setelah pasukan Muslimin singgah di Marr Azh-Zhahran, Al-Abbas berputar-putar menaiki keledai Rasulullah ﷺ yang berwarna putih, barang kali mendapatkan tukang kayu bakar atau seseorang yang bisa memberi kabar kepada orang-orang Quraisy agar mereka keluar dan meminta jaminan keamanan kepada beliau sebelum beliau memasuki (menaklukkan) Mekkah. Allah menjadikan orang-orang Quraisy tidak mendengar kabar ini sekalipun sebenarnya mereka selalu bersikap waspada. Abu Sufyan juga berputar-putar mencari informasi bersama Hakim bin Hizam dan Budail bin Zarqa’.

Al-Abbas berkata, “Demi Allah, ketika aku menunggang keledai beliau itulah aku mendengar suara Abu Sufyan dan Budail bin Zarqa’ yang sedang berbincang-bincang. Abu Sufyan berkata, “Aku tidak pernah sekalipun melihat nyala api dan pasukan yang sebesar itu.” Budail menyahut, “Demi Allah, itu pasti Khuza’ah. Mereka telah dibakar api peperangan.”

Abu Sufyan berkata, “Khuza’ah lemah dan sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan nyala api dan pasukan sebesar itu.”

Al-Abbas berkata, “Setelah aku yakin benar bahwa itu adalah suaranya, aku bertanya, ‘Apakah itu Abu Hanzhalah?’ Rupanya dia juga mengenali suaraku. Dia bertanya, ‘Apakah itu Abul Fadhl?” Aku menjawab, ‘Benar.’

‘Ada apa dengan dirimu?’ Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu. Aku menjawab, ‘Itu Rasulullah di tengah orang-orang. Demi Allah, amat buruklah orang-orang Quraisy.’

‘Apa salahnya jika aku menjadikan ayah dan ibuku sebagai jaminanmu?’ tanya Abu Sufyan. Aku berkata, ‘Demi Allah, jika beliau mengalahkanmu, niscaya beliau akan memenggal lehermu. Naiklah ke atas punggung keledai ini agar aku dapat membawamu ke hadapan Rasulullah, lalu mintalah jaminan keamanan kepada beliau.’ Maka, Abu Sufyan naik di belakangku, sedangkan kedua temannya kembali ke tempat semula.

Setiap kali aku lewat di dekat nyala api kaum Muslimin, mereka bertanya, ‘Siapa itu?’ Setelah mereka mengetahui keledai Rasulullah yang kunaiki dan aku yang berada di atas punggungnya, mereka berkata, ‘Rupanya paman Rasulullah yang sedang menunggang keledai beliau.’ Ketika aku melewati nyala api Umar bin Al-Khaththab, dia bertanya, ‘Siapa itu?’ Dia menghampiriku. Saat dia melihat Abu Sufyan berada di belakangku, dia berkata, ‘Hai Abu Sufyan, musuh Allah! Segala puji bagi Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian pun.’

Kemudian, Umar beranjak ke arah Rasulullah ﷺ untuk memperingatkan beliau. Aku memacu keledai lebih cepat hingga dapat mendahului Umar. Aku segera turun dari punggung keledai dan masuk ke tempat beliau. Setelah itu, Umar pun masuk sambil berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melindunginya.” Kemudian aku duduk di dekat Rasulullah ﷺ. Aku memegang kepala beliau dan berkata, “Demi Allah, tak seorang pun boleh berbicara dengannya pada malam ini kecuali aku.”

Karena Umar bin Al-Khaththab banyak berbicara tentang Abu Sufyan, aku berkata, “Tahanlah dirimu wahai Umar. Demi Allah, andai saja Abu Sufyan berasal dari Bani Adi bin Ka’ab, engkau pasti tidak akan berkata seperti itu.” Umar menyahut. “Tahan kata-katamu, wahai Abbas. Demi Allah, keislamanmu ketika engkau masuk Islam itu lebih kucintai daripada keislaman Al-Khaththab kalau memang dia masuk Islam. Dan aku tahu bahwa keislamanmu juga lebih dicintai oleh Rasulullah daripada keislaman Al-Khaththab.” Rasulullah bersabda, “Bawalah ia pergi ke kemahmu, wahai Abbas. Besok pagi datanglah ke sini bersamanya!”

BACA JUGA: Sejarah Perang Tabuk (Bagian Ketiga – Habis)

Maka, aku pun beranjak pergi. Pagi harinya aku menemui beliau lagi. Ketika melihat Abu Sufyan yang juga ikut bersamaku, beliau bersabda, “Celaka kau, wahai Abu Sufyan. Bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada llah yang berhak disembah selain Allah?” Abu Sufyan berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai jaminannya, engkau sungguh orang yang murah hati, mulia, dan selalu menjaga hubungan kekeluargaan. Jauh-jauh hari aku sudah menduga, andaikan ada sesembahan lain bersama Allah, tentunya aku tidak membutuhkan apa pun setelah ini.” Beliau bersabda, “Celaka kau wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah?”

Abu Sufyan berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, engkau sungguh orang yang murah hati, mulia, dan selalu menjaga hubungan kekeluargaan. Kalau mengenai masalah ini, di dalam hatiku masih ada sesuatu yang mengganjal hingga saat ini.” Al-Abbas berkata, “Celaka engkau. Masuklah Islam, bersaksilah bahwa tiada llah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sebelum beliau memenggal lehermu.” Maka, setelah itu Abu Sufyan masuk Islam dan memberikan kesaksian secara benar.

Al-Abbas berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, Abu Sufyan adalah orang yang suka kebanggaan. Karenanya, berilah dia sesuatu.” Beliau bersabda, “Engkau benar. Barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman. Barang siapa menutup pintunya, ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjidil Haram, ia aman.”

Pasukan Islam Meninggalkan Marr Azh-Zhahran Menuju Mekkah

Pada Selasa pagi, 17 Ramadhan 8 H. Rasulullah ﷺ meninggalkan Marr Azh-Zhahran menuju Mekkah. Beliau memerintahkan Al-Abbas untuk menahan Abu Sufyan di ujung jalan tembus melewati gunung hingga iring-iringan pasukan Allah lewat di sana. Dengan demikian, Abu Sufyan bisa melihat semuanya. Al-Abbas pun melakukan perintah Rasulullah ﷺ tersebut.

Setiap kabilah lewat di jalan itu sambil membawa bendera masing- masing. Setiap kali ada kabilah yang lewat, Abu Sufyan bertanya, “Wahai Abbas, kabilah apakah ini?” Abbas di antara contohnya menjawab, “Itu kabilah Sulaim.” Abu Sufyan berkata, “Apa urusanku dengan Sulaim?” Kemudian lewat kabilah lainnya lagi, dan Abu Sufyan bertanya, “Kabilah apakah ini?” Al-Abbas menjawab, “Itu Muzainah.” Abu Sufyan berkata, “Apa urusanku dengan Muzainah?” Semua kabilah sudah lewat dan tak ada satu kabilah pun yang lewat melainkan Abu Sufyan menanyakannya. Dan setiap kali dijawab, dia berkata, “Apa urusanku dengan Bani Fulan?” Kini giliran Rasulullah ﷺ lewat bersama pasukan berkuda yang terlihat berwarna hijau, yang di dalamnya terdapat orang-orang Muhajirin dan Anshar. Tubuh mereka tidak tampak karena tertutup baju besi. Abu Sufyan berkata, “Subhanallah. Wahai Abbas, siapakah mereka ini?” Al- Abbas menjawab, “Itu adalah Rasulullah ﷺ bersama Muhajirin dan Anshar.” Abu Sufyan berkata, “Tak seorang pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.” Lalu, dia melanjutkan lagi, “Demi Allah, wahai Abul Fadhal, kerajaan keponakanmu saat ini benar-benar menjadi besar.” Al- Abbas berkata, “Wahai Abu Sufyan, itu adalah kenabian.” “Kalau begitu lebih bagus lagi,” kata Abu Sufyan.

Bendera Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Ubadah. Ketika melewati tempat Abu Sufyan, Sa’ad berkata, “Hari ini adalah hari pembantaian, hari dihalalkannya yang disucikan. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.”

Ketika Rasulullah ﷺ sudah berada di hadapan Abu Sufyan, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan Sa’ad?”

Beliau balik bertanya, “Apa yang dikatakannya?” Abu Sufyan menjawab, “Dia mengatakan begini dan begitu.”

Utsman dan Abdurrahman bin Auf berkata, “Wahai Rasulullah, kita tidak merasa aman selagi dia masih mempunyai kekuasaan di tengah Quraisy.”

Beliau menjawab, “Justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.”

Kemudian, beliau mengirim utusan untuk menemui Sa’ad agar dia menurunkan bendera dan menyerahkannya kepada anaknya, Qais. Tetapi, ternyata bendera itu tetap berada di tangan Sa’ad. Ada yang berpendapat, bendera itu diserahkan kepada Az-Zubair.[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakafuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response