Ibrah

Kisah tentang Orang-orang yang Tidak Ikut Berperang

foto: Pixabay
23views

Dengan kondisi-kondisinya yang khusus, peperangan ini merupakan pelajaran yang amat berat dari Allah sehingga dengan pelajaran ini orang-orang yang beriman bisa dipisahkan dari orang-orang yang tidak beriman. Memang begitulah kebiasaan Allah dalam kondisi-kondisi seperti ini. Allah berfirman dalam Surah Ali-Imran (3) ayat 179:

مَا كَانَ اللّٰهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلٰى مَآ اَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتّٰى يَمِيْزَ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَجْتَبِيْ مِنْ رُّسُلِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖ ۚ

Allah tidak akan membiarkan orang-orang Mukmin dalam keadaan sebagaimana kamu sekarang ini, (tetapi Allah akan mengujinya) sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik. Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya.”

Siapa pun yang beriman dengan iman yang benar, tentu bergabung dalam peperangan ini sehingga siapa pun yang mangkir dari peperangan ini dianggap memiliki indikasi kemunafikan. Jika ada seseorang yang mangkir, lalu orang-orang menyebutkannya di hadapan Rasulullah ﷺ beliau bersabda, “Biarkan saja dia. Kalau memang di dalam dirinya ada kebaikan, tentu Allah akan menyusulkannya untuk bertemu kalian. Jika tidak, tentu dia tidak akan tenang-tenang saja. Dengan demikian, tidak ada yang mangkir, kecuali memang orang yang berhalangan, atau mereka yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya dari kalangan orang-orang munafik, yang hanya duduk-duduk setelah mereka mencari-cari alasan dusta atau tidak beralasan sama sekali.

BACA JUGA: Sejarah Perang Tabuk (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Berbeda dengan kondisi orang-orang munafik ini, ada tiga orang dari orang-orang Mukmin yang lurus yang mangkir tanpa ada alasan yang dibenarkan. Mereka inilah yang kemudian diuji Allah, kemudian kesalahan mereka diampuni.

Setelah memasuki Madinah, Rasulullah ﷺ langsung menuju masjid dan shalat dua rakaat. Orang-orang pun duduk di tempat yang sama. Sedangkan Orang-orang munafik yang jumlahnya delapan puluh orang lebih juga datang sambil mengemukakan berbagai alasan. Bahkan, mereka berani bersumpah untuk memperkuat alasan mereka yang dibuat-buat itu. Beliau menerima alasan mereka menurut penuturan yang tampak dan memintakan ampunan bagi mereka. Tetapi, apa yang terpendam di dalam hati mereka diserahkan kepada Allah.

Sementara itu, tiga orang dari golongan orang-orang Mukmin yang lurus, yaitu Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah, berkata apa adanya tentang mengapa tidak ikut serta dalam peperangan ini. Sebagai hukumannya, Rasulullah ﷺ melarang para sahabat berbicara dengan mereka bertiga dan mereka juga harus menjalani isolasi secara total dengan orang-orang Mukmin.

Orang-orang yang dulu ramah, kini berubah sikap kepada mereka. Bumi yang luas terasa sempit bagi mereka dan apa pun yang sebelumnya lapang kini terasa sempit bagi mereka. Mereka benar-benar merasakan tekanan yang amat berat ketika telah menjalani hukuman ini selama empat puluh hari sejak awal isolasi, mereka diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ agar memisahkan diri dari istri sehingga total isolasi selama lima puluh hari. Kemudian Allah menurunkan ampunan-Nya kepada mereka. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Surah At-Taubah (9) ayat 118:

وَّعَلَى الثَّلٰثَةِ الَّذِيْنَ خُلِّفُوْاۗ حَتّٰٓى اِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْاَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ اَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوْٓا اَنْ لَّا مَلْجَاَ مِنَ اللّٰهِ اِلَّآ اِلَيْهِۗ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوْبُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Terhadap tiga orang yang ditinggalkan (dan ditangguhkan penerimaan tobatnya) hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun (terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah melainkan kepada-Nya saja, kemudian (setelah itu semua) Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

BACA JUGA: Sejarah Perang Tabuk (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Kaum Muslimin merasa gembira dengan turunnya ayat ini, sedangkan tiga orang tersebut lebih gembira lagi. Kegembiraan mereka sulit digambarkan. Mereka benar-benar bahagia dengan datangnya kabar gembira ini, lalu mereka pun bersedekah. Boleh jadi, itu adalah hari yang sangat menyenangkan dalam kehidupan mereka, sedangkan orang-orang yang tidak bisa berangkat karena memang ada halangan, maka Allah berfirman, sebagaimana tercantum dalam Surah AT-Taubah (9) ayat 91:

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاۤءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضٰى وَلَا عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ مَا يُنْفِقُوْنَ حَرَجٌ اِذَا نَصَحُوْا لِلّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۗ مَا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ مِنْ سَبِيْلٍ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ

“Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) bagi orang-orang yang lemah, sakit, dan yang tidak mendapatkan apa yang akan mereka infakkan, jika mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan apa pun untuk (menyalahkan) orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tentang mereka yang dimaksud dalam ayat tersebut, Rasulullah ﷺ telah bersabda tentang mereka ketika beliau masih dalam perjalanan mendekati Madinah, “Sesungguhnya di Madinah ada orang-orang, yang kalian tidak pergi dan tidak melewati suatu lembah melainkan mereka senantiasa bersama kalian. Mereka tertahan karena ada alasan.”

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, (mereka mendapat pahala itu) padahal mereka tetap di Madinah?” Beliau menjawab, “Ya, meski mereka tetap di Madinah.”[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakafuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response