Historia/Tarikh

Sejarah Perang Tabuk (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

foto: Unsplash
13views

Pada bagian pertema telah dijelaskan betapa Kaisar Romawi yang bernama Heraklius, pemilik kekuatan militer yang paling besar di muka bumi pada zaman itu, telah menyulut api peperangan dengan membunuh duta Rasulullah ﷺ, yakni Al-Harits bin Umair, di tangan Syurahbil bin Amr Al-Ghassani saat Al-Harits membawa surat beliau yang ditujukan kepada pemimpin Bushra. Setelah itu, beliau mengirim satuan pasukan yang dipimpin Zaid bin Haritsah, yang kemudian harus bertempur dengan pasukan Romawi dengan pertempuran yang dahsyat di Mu’tah. Setelah peristiwa tersebut, terdengar kabar bahwa Heraklius sudah menyiapkan pasukan yang sangat besar, berkekuatan 40 ribu prajurit, yang dipimpin salah seorang pembesar Romawi. Beberapa kabilah juga bergabung bersama mereka, seperti kabilah Lakhm, Judzam, dan kabilah-kabilah Arab lain yang beragama Nasrani. Pasukan mereka yang terdepan sudah tiba di Balqa’. Begitulah keadaan genting yang harus dihadapi orang-orang Muslim.

Rasulullah ﷺ Memutuskan untuk Berperang

Rasulullah ﷺ memandang keadaan dan perkembangan yang ada secara lebih detail dan bijaksana. Beliau berpikir bahwa bila keengganan dan kemalasan telah mengalahkan semangat untuk melawan pasukan Romawi dalam kondisi yang sangat rawan ini, membiarkan pasukan Romawi menjarah wilayah-wilayah yang tunduk kepada Islam dan bergabung dengan Madinah, tentu ini akan membawa akibat yang kurang menguntungkan bagi dakwah Islam dan wibawa militer kaum Muslimin.

Semangat jahiliyah yang masih merasuki jiwa manusia seusai Perang Hunain bisa bangkit kembali, dan orang-orang munafik, yang selalu mencari-cari celah, bisa menancapkan tombaknya dari arah belakang. Pada saat yang sama, pasukan Romawi bisa melancarkan serangan terhadap kaum Muslimin dari arah depan. Begitulah upaya yang harus dilakukan beliau dan para sahabat dalam menyebarkan Islam.

Peperangan dan aktivitas militer seperti tidak pernah berhenti dan tak ada ujungnya. Rasulullah ﷺ menyadari semua itu. Karena itu, beliau memutuskan untuk berangkat menghadapi pasukan Romawi di daerah perbatasan mereka, sekalipun keadaan saat itu cukup sulit dan berat. Beliau tidak ingin membiarkan pasukan Romawi masuk lebih jauh ke wilayah Islam.

BACA JUGA: Sejarah Perang Mu’tah (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Pengumuman untuk Persiapan Memerangi Romawi

Setelah Rasulullah ﷺ memutuskan untuk berangkat, beliau mengumumkan kepada para sahabat agar bersiap-siap untuk berperang melawan pasukan Romawi. Beliau mengirim utusan untuk mendatangi berbagai kabilah Arab dan penduduk Mekkah agar ikut bergabung. Jarang sekali beliau mengumumkan secara langsung keinginan untuk terjun ke suatu peperangan. Namun, karena melihat keadaan saat itu yang sangat rawan dan situasinya yang cukup berat, beliau mengumumkan secara langsung keinginan untuk berperang dengan pasukan Romawi.

Beliau menjelaskan secara gamblang permasalahannya kepada orang-orang agar mereka bisa melakukan persiapan secara matang dan mendorong mereka untuk berjihad. Beberapa ayat dari Surah At-Taubah turun dalam kaitannya dengan masalah ini, yang membangkitkan dan menguatkan hati mereka untuk berjihad. Beliau juga mendorong mereka agar mengeluarkan sedekah dan menginfakkan harta yang telah dikaruniakan kepada mereka di jalan Allah.

Kaum Muslimin Berlomba-Lomba Melakukan Persiapan

Setelah mendengar pengumuman Rasulullah ﷺ yang menyeru untuk berperang melawan pasukan Romawi, seketika itu juga kaum Muslimin berlomba-lomba melaksanakan seruan tersebut. Dengan gerak cepat mereka langsung melakukan persiapan perang. Berbagai kabilah dan suku dari berbagai tempat bergabung ke Madinah.

Tidak ada seorang Muslim pun yang rela apabila dia ketinggalan dalam peperangan kali ini, kecuali orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit. Bahkan, orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa dan miskin juga datang kepada beliau, meminta bekal dan kendaraan kepada beliau, agar bisa ikut serta memerangi pasukan Romawi. Ketika Rasulullah ﷺ mengucapkan kepada mereka, “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,” mereka pun kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan (Baca Surah At-Taubah [9]: 92).

Di samping berlomba-lomba dalam melakukan persiapan, mereka juga berlomba-lomba dalam menafkahkan harta dan mengeluarkan sedekah. Sebelumnya, Utsman bin Affan sudah mempersiapkan kafilah dagang menuju ke Syam sebanyak 200 unta lengkap dengan barang-barang yang diangkutnya dan 200 uqiyah. Maka, seketika itu, dia mengeluarkan sedekahnya, lalu masih ditambah lagi dengan sedekah 100 ekor unta dengan barang-barang yang diangkutnya, kemudian ditambah lagi dengan 1000 dinar yang diletakkan di bilik Rasulullah ﷺ. Beliau menerimanya dan bersabda, “Tidak ada yang membahayakan Utsman karena apa yang dilakukannya setelah hari ini.” Bahkan, Utsman masih mengeluarkan sedekah lagi, lalu ditambah lagi, dan masih ditambah lagi, hingga semuanya senilai 900 ekor unta dan 100 ekor kuda, tidak termasuk uang kontan.

Abdurrahman bin Auf juga datang sambil menyerahkan 200 uqiyah perak, Abu Bakar menyerahkan semua hartanya dan tidak menyisakan bagi keluarganya, kecuali Allah dan Rasul-Nya, yang nilainya sebanyak 4.000 dirham. Abu Bakar adalah orang yang pertama kali menemui beliau untuk menyerahkan sedekah. Umar juga datang menyerahkan separuh dari total hartanya. Al-Abbas juga menyerahkan harta yang cukup banyak, begitu pula Thalhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah, yang semuanya datang sambil menyerahkan sedekah.

BACA JUGA: Sejarah Perang Mu’tah (Bagian Kedua – Habis)

Ashim bin Adi menyerahkan 70 wasaq kurma, lalu disusul orang-orang yang menyerahkan apa pun yang dimilikinya, ada yang sedikit dan ada yang banyak. Bahkan, di antara mereka ada yang hanya menyerahkan satu atau dua mud kurma karena memang hanya itulah yang bisa dia keluarkan. Para wanita juga datang untuk menyerahkan berbagai macam perhiasan milik mereka. Hampir tidak ada seorang pun yang menahan apa pun yang dimilikinya dan tidak merasa sayang terhadap hartanya, kecuali orang-orang munafik. Sehubungan dengan mereka, Allah berfirman sebagaimana tercantum dalam Surah At-Taubah (9) ayat 79:

اَلَّذِيْنَ يَلْمِزُوْنَ الْمُطَّوِّعِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى الصَّدَقٰتِ وَالَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ اِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُوْنَ مِنْهُمْ ۗسَخِرَ اللّٰهُ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

“Orang-orang (munafik) yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela, (mencela) orang-orang yang tidak mendapatkan (untuk disedekahkan) selain kesanggupannya, lalu mereka mengejeknya. Maka, Allah mengejek mereka dan bagi mereka azab yang sangat pedih.”

Pasukan Islam Berangkat ke Tabuk

Begitulah persiapan yang dilakukan pasukan Islam. Nabi ﷺ menunjuk Muhammad bin Maslamah Al-Anshari, atau menurut pendapat lain adalah Siba’ bin Urfuthah, sebagai wakil beliau di Madinah. Untuk menjaga keluarga yang ditinggalkan, beliau mewakilkannya kepada Ali bin Abu Thalib dan menyuruhnya agar tinggal bersama mereka dan mengamat-amati orang-orang munafik. Karena didorong keinginan yang sangat kuat untuk ikut berperang, Ali bin Abu Thalib menyusul beliau. Namun, beliau menyuruhnya agar kembali lagi ke Madinah, sambil bersabda, “Apakah engkau tidak ridha jika engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja, tidak ada nabi sesudahku.”

Pada hari Kamis, Rasulullah ﷺ mulai bergerak ke arah utara dengan tujuan Tabuk. Karena jumlah pasukan sangat besar, sebanyak 30 ribu prajurit, maka persiapan untuk membekali pasukan ini tidak bisa sempurna. Harta yang disedekahkan oleh kaum Muslimin memang sangat banyak, tetapi bila dibandingkan dengan jumlah personil yang bergabung dalam perang ini maka bekal dan tunggangan yang ada dianggap terlalu sedikit. Delapan belas orang hanya mendapat jatah satu ekor unta. Mereka bisa jadi hanya memakan dedaunan sekadar untuk membasahi bibir. Mereka pun terpaksa harus menyembelih unta sekalipun jumlahnya hanya sedikit untuk diambil air di badannya di samping dimakan dagingnya. Karena itulah pasukan ini disebut dengan pasukan usrah (pasukan yang keadaannya sulit).

Dalam perjalanannya ke Tabuk, pasukan Islam ini melewati Al-Hijr, yaitu perkampungan orang-orang Tsamud yang dahulunya mereka pernah membelah batu-batu besar di lembah untuk bahan bangunan atau tempat bersembunyi, atau disebut pula Wadil Qura. Orang-orang mengambil air dari sumur-sumur yang ada di lembah itu. Saat istirahat, Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian meminum air di sini dan jangan pula dipergunakan wudhu untuk shalat. Adonan yang sudah kalian buat berikan saja kepada unta dan janganlah kalian memakannya walau sedikit pun.” Sumur yang boleh diambil airnya hanya sumur yang dahulu pernah dihampiri oleh unta Nabi Shalih.

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Ibnu Umar bahwa dia berkata, “Saat Nabi melewati Al-Hijr, beliau bersabda, ‘Janganlah kalian memasuki tempat-tempat yang dahulunya orang-orang Tsamud itu menganiaya diri mereka sehingga kalian tertimpa musibah seperti yang menimpa mereka, kecuali jika kalian adalah orang-orang yang suka menangis.’”

BACA JUGA: Sejarah Perang Tabuk (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Kemudian, beliau menundukkan kepala dan mempercepat jalannya hingga dapat melewati lembah tersebut. Dalam perjalanan ini, semua orang sangat membutuhkan air hingga mereka mengadu kepada Rasulullah ﷺ. Karena itu, beliau berdoa kepada Allah, lalu Allah menurunkan hujan kepada mereka. Dengan hujan ini mereka dapat meminumnya dan memuaskan kebutuhan terhadap air.

Saat perjalanan sudah mendekati Tabuk, beliau bersabda, “Insya Allah, besok kalian sudah tiba di mata air Tabuk. Paling cepat kalian tiba di sana pada waktu Dhuha. Siapa pun yang sudah tiba di sana, dia tidak boleh mengambil sedikit pun air di sana hingga aku tiba.”

Mu’adz menuturkan, “Ada dua orang yang lebih dahulu tiba di sana. Mata airnya hanya mengeluarkan sedikit air.” Beliau bertanya kepada dua orang itu, “Apakah kalian berdua sudah mengambil airnya walau sedikit pun?” “Sudah”, jawab keduanya. Beliau mengucapkan sepatah dua patah kata kepada keduanya seperti yang dikehendaki Allah untuk dikatakan kepada mereka berdua.

Kemudian, beliau mengambil sedikit airnya lalu menggunakannya untuk membasuh muka dan tangan. Kemudian, air itu dikembalikan lagi ke mata airnya hingga airnya menjadi berlimpah ruah. Dengan demikian, orang-orang bisa mengambil air dari mata air itu. Kemudian, beliau bersabda, “Wahai Mu’adz, bila umurmu panjang, engkau akan melihat tempat ini penuh dengan kebun-kebun.”

Saat masih di perjalanan ke Tabuk—atau menurut riwayat lain sudah tiba di sana—Rasulullah ﷺ bersabda, “Malam ini angin akan berembus sangat kencang.” Ada seseorang yang keluar dan berdiri hingga diembus angin dan jatuh di celah antara dua bukit. Dalam perjalanan ini, Rasulullah ﷺ senantiasa menjamak shalat Zuhur dan Asar; Magrib dan Isya’. Beliau kadang-kadang melakukannya dengan jamak taqdim dan ada kalanya dengan jamak ta’khir.[]

Bersambung ke bagian terakhir

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakafuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response