Historia/Tarikh

Sejarah Perang Tabuk (Bagian Ketiga – Habis)

foto: Unsplash
15views

Dalam bagian kedua telah dikisahkan tentang keputusan Rasulullah ﷺ untuk berperang melawan tentara Romawi dan kabilah-kabilah yang menyokongnya. Setelah keputusan tersebut diberitakan kepada kaum Muslimin, mereka serentak untuk berlomba-lomba memberikan bantuan untuk perang yang akan dihadapi. Banyak dari kaum Muslimin yang menyedekahkan harta yang mereka miliki. Tidak hanya harta, kaum Muslimin pun siap sedia untuk pergi ke medan perang sehingga tak kurang dari 30 ribu kaum Muslimin yang ikut bersama Rasulullah ﷺ pergi berperang.

Pasukan Islam Tiba di Tabuk

Pasukan Islam tiba di Tabuk dan bermarkas di sana. Mereka siap bertempur melawan musuh. Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan pasukan dan menyampaikan pidato dengan penuh semangat. Kata-kata yang beliau ucapkan maknanya amat luas, menganjurkan kepada kebaikan dunia dan akhirat, memberi peringatan dan ancaman, memberi kabar gembira dan kabar yang menyenangkan. Dengan demikian, mental seluruh prajurit benar-benar siap dengan semangat yang membara, sekalipun bekal dan perlengkapan mereka sangat sedikit.

Sebaliknya, ketika pasukan Romawi dan sekutu-sekutunya sudah mendengar bahwa Rasulullah ﷺ menggalang pasukan, muncul ketakutan dan kekhawatiran yang merambati hati mereka sehingga mereka tidak berani maju atau langsung merencanakan serangan. Mereka berpencar-pencar di batas wilayah mereka sendiri. Tentu saja, hal ini mengangkat pamor militer Islam di dalam Jazirah Arab dan sekaligus dapat mendulang kepentingan politik yang sangat besar manfaatnya, yang mungkin saja tidak akan bisa diperoleh seandainya sampai terjadi pertempuran di antara dua pasukan ini.

BACA JUGA: Sejarah Perang Tabuk (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Karena itu, Rasulullah ﷺ didatangi Yuhannah bin Ru’bah, pemimpin Ailah, menawarkan perjanjian perdamaian dengan beliau dan siap menyerahkan jizyah kepada beliau. Begitu pula yang dilakukan penduduk Jarba’ dan Adruj. Beliau menulis selembar perjanjian yang kemudian mereka pegang. Untuk pemimpin Ailah, beliau menulis surat perjanjian sebagai berikut:

“Bismillahirrahmanirrahim. Ini merupakan surat perjanjian keamanan dari Allah dan Muhammad, Nabi dan Rasul Allah, kepada Yuhannah bin Ru’bah dan penduduk Ailah. Perahu dan kendaraan- kendaraan mereka di daratan dan di lautan berhak mendapatkan jaminan perlindungan Allah dan Muhammad Sang Nabi, juga berlaku bagi siapa pun yang bersamanya dari penduduk Syam dan penduduk di pesisir pantai. Siapa pun di antara mereka yang melanggar perjanjian, hartanya tidak akan dapat melindungi dirinya, yang berarti siapa pun boleh mengambilnya. Mereka tidak boleh dirintangi untuk mengambil air yang biasa mereka ambil dan jalan mereka di darat maupun di laut tidak boleh dihalangi.”

Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin Al-Walid ke Ukaidir di Daumatul Jandal bersama 420 penunggang kuda. Beliau bersabda kepadanya, “Engkau akan menemukan dia sedang memburu sapi.” Khalid dan pasukannya pergi ke sana. Setelah benteng Ukaidir sudah terlihat mata, ada sekumpulan sapi yang menggaruk-garukkan tanduknya ke pintu benteng, hingga pintu benteng terbuka dan sapi-sapi itu pun keluar. Ukaidir memburu sapi-sapi tersebut, yang saat itu adalah malam bulan purnama. Dengan siasat tertentu, Khalid bisa memegang Ukaidir dan membawanya ke hadapan Rasulullah ﷺ. Beliau menjamin keamanan dirinya dan dia berjanji menebus dirinya dengan menyerahkan 2.000 ekor unta, tebusan senilai 800 orang, 400 baju besi, 400 tombak dan siap membayar jizyah. Ia dan Yuhannah menyetujui perjanjian yang berlaku untuk penduduk Dumah, Tabuk, Ailah, dan Taima’.

Berbagai kabilah yang dulunya tunduk kepada kekuasaan bangsa Romawi sebagai keputusan yang diambil para pemimpin mereka sebelum itu meyakini sikap tadi sebagai langkah yang salah dan kini sudah habis masanya. Mereka berbalik mendukung orang-orang Muslim. Dengan begitu, wilayah kekuasaan pemerintah Islam semakin bertambah luas hingga langsung berbatasan dengan wilayah kekuasaan bangsa Romawi.

Kembali ke Madinah

Pasukan Islam meninggalkan Tabuk dengan membawa kemenangan, tanpa mengalami tekanan musuh sedikit pun. Dengan perjalanan ini, Allah telah mencukupkan peperangan bagi orang-orang Mukmin. Dalam perjalanan pulang ke Madinah dan saat melewati sebuah jalan bukit, ada dua belas orang dari golongan munafik yang hendak menyerang Nabi ﷺ. Kejadiannya bermula saat beliau melewati jalan bukit itu bersama Ammar yang menuntun tali kendali unta beliau dan Hudzaifah bin Al- Yaman yang berjalan di depannya. Sementara itu, orang-orang berada di tengah lembah. Kesempatan ini tidak disia-siakan orang-orang munafik tersebut.

Saat beliau dan dua shahabat itu sedang berjalan, tiba-tiba mereka bertiga mendengar suara gaduh dari arah belakang mereka. Orang-orang munafik ini berusaha berkilah dengan menutupi wajah mereka. Beliau mengutus Hudzaifah untuk mengejar mereka hingga dia dapat memukul unta mereka dengan tongkat yang dibawanya. Allah menyusupkan perasaan takut ke dalam hati mereka sehingga mereka segera lari untuk bergabung di tengah-tengah kaum Muslimin.

BACA JUGA: Sejarah Perang Tabuk (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Hudzaifah mengabarkan nama-nama mereka kepada Rasulullah ﷺ dan apa yang hendak mereka lakukan. Dengan peristiwa ini, Hudzaifah dijuluki Shahibu Sirri (pemegang rahasia) Rasulullah ﷺ. Tentang hal ini Allah berfirman sebagaimana tercantum dalam Surah At-Taubah (9) ayat 74:

وَهَمُّوْا بِمَا لَمْ يَنَالُوْاۚ 

“… Mereka menginginkan apa yang tidak dapat mereka capai….”

Ketika tanda-tanda daerah Madinah sudah tampak dari kejauhan. beliau bersabda, “Itu adalah Gunung Uhud. la mencintai kami dan kami mencintainya.”

Orang-orang yang berada di Madinah bisa mendengar kedatangan beliau. Para wanita dan anak-anak keluar untuk menyongsong kedatangan pasukan dengan suasana gembira, sambil mengucapkan syair seperti yang mereka ucapkan saat kedatangan beliau ke Madinah pertama kali.

Keberangkatan beliau ke Tabuk pada bulan Rajab dan pulang dari sana pada bulan Ramadhan. Peperangan ini memakan waktu selama lima puluh hari. Beliau berada di Tabuk selama dua puluh hari, sedangkan sisanya dihabiskan di perjalanan pergi dan pulang. Ini merupakan peperangan beliau yang terakhir.[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakafuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response