Kisah Al-Quran

Kisah Tentang Nauf Al-Bikali dan Asal Muasal Nama Khidir

Foto: Unsplash
18views

Sekilas tentang Nauf Al-Bikali

Pada penjelasan sebelumnya, terdapat ucapan Sa’id bin Jubair kepada Ibnu Abbas tentang Nauf Al-Bikali yang menduga bahwa Musa pemimpin Bani Israil bukanlah Nabi Musa teman Khidir dan ini diikuti dengan kutipan sebuah hadis. Boleh jadi, yang menyebabkan Nauf Al-Bikali mengatakan hal itu karena dua hal.

Pertama, tidak mungkin bagi Nabi Musa yang seorang nabi belajar kepada Khidir karena derajat Khidir lebih rendah daripada Nabi Musa. Tentang apakah Khidir nabi ataukah wali akan dijelaskan secara tersendiri.

Kedua, Nauf Al-Bikali mengambil pendapatnya ini dari riwayat israiliyat lalu menjadikannya sebagai rujukan dalam menafsirkan firman Allah. Konon, Nauf mempunyai hubungan yang erat dengan Ka’ab Al-Ahbar. Nama panjangnya adalah Nauf bin Fudhalah Al-Bikali. Dia berasal dari Bani Bikal dari daerah Himyar di Yaman. Dia adalah anak dari istri Ka’ab Al-Ahbar.

BACA JUGA: Kisah Nabi Musa Menurut Hadis (Bagian Kedua – Habis)

Perlu diingat bahwa Ka’ab Al-Ahbar adalah seorang Yahudi Yaman lalu masuk Islam pada masa Umar bin Al-Khaththab. Banyak ulama yang menceritakan tentang dirinya, ilmu dan berita yang diambil dari riwayat israiliyat, serta dipergunakan untuk menafsirkan firman Allah. Mungkin saja, Nauf Al-Bikali mengambil pendapat ini dari suami ibunya, Ka’ab Al-Ahbar. Oleh karena itu, dia menyangkal pertemuan antara Nabi Musa dengan Khidir. Sebaliknya, dia mengatakan bahwa itu adalah pertemuan antara Khidir dan salah seorang Bani Israil yang bernama Musa.

Sikap Nauf Al-Bikali ini disebabkan dia memahami Al-Quran berdasarkan ketetapan zaman dahulu yang aneh dan menafsirkannya dengan ucapan dan berita orang terdahulu. Kesalahan metode ini mengakibatkan hasil dan penafsiran yang salah juga. Para sahabat berusaha keras untuk selalu menggunakan metode ilmiah yang benar dalam memahami Al-Quran, menafsirkan dan mengeluarkan bukti, serta mengajarkannya kepada murid-murid mereka. Mereka benar-benar menolak pendapat yang menyimpang dari metode tersebut.

BACA JUGA: Kisah Nabi Musa Menurut Hadis (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Sikap yang tegas ini tampak pada ucapan Ibnu Abbas tentang Bikali, “Musuh Allah telah berdusta”. Ibnu Hajar, dalam penjelasannya tentang kalimat Ibnu Abbas tersebut, berkata, “Kalimat itu mengandung keinginan yang kuat untuk mencegah dan menolak membenarkan perkataan tersebut.” Pada hakikatnya, Nauf bukanlah seorang pendusta dan bukan pula musuh Allah, melainkan seorang Muslim yang bertakwa dan dapat dipercaya. Namun, perkataannya menunjukkan kesalahan dalam memahami Al-Quran sehingga Ibnu Abbas menolak dan mencelanya.

Sahabat Nabi Musa adalah Khidir

Seorang hamba saleh yang berjalan bersama Nabi Musa adalah Khidir. Nama ini tidak disebutkan dalam Al-Quran karena termasuk mubhamat (hal-hal yang tidak dijelaskan). Namun, ini dijelaskan dalam hadis sahih Rasulullah ﷺ dan lain-lain. Walaupun hadis sahih tidak menyebutkan nama Khidir, kita tidak perlu berusaha untuk menjelaskan. Sebaliknya, kita berusaha untuk membiarkannya saja karena hal ini termasuk mubhamat Al-Quran. Adapun sebab dinamakan Khidir diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, “Sesungguhnya, dia dinamakan Khidir karena duduk di atas bulu yang berwarna putih (farwah baidha’) sehingga bekasnya berubah menjadi hijau.”

Menurut Abdul Rozak, dalam Masnaf-nya, farwah baidha’ adalah rumput yang putih. Sementara itu, Ibrahim Al-Harabi mengatakan bahwa itu adalah sebidang tanah yang di atasnya tumbuh rumput kering. Berbeda dengan Ibnu Al-Arabi, dia berpendapat bahwa itu adalah tanah putih yang tidak ditumbuhi. Hal yang tampak dalam hadis tersebut adalah bahwa ia merupakan salah satu mukjizat Khidir (berdasarkan pendapat yang paling kuat tentang kenabiannya).

BACA JUGA: 11 Faedah Kisah Pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khodir

Tampaknya, dia duduk di atas tanah kering yang di atasnya ada rerumputan kering. Ketika duduk di atasnya, muncullah tanda kehidupan, rerumputan itu berubah menjadi hijau, yaitu tumbuhlah tetumbuhan hijau di atas tanah itu sehingga dinamakan Khidir yang berasal dari kata al-khudrah dan al-ikhdhirar. Ada alasan lain yang menerangkan sebab dinamakan Khidir, tetapi kita tidak perlu mempercayainya karena alasan tersebut tidak berdasarkan hadis sahih. Kita cukup merujuk pada hadis yang telah dipaparkan sebelumnya. Dengan ini, kita tidak membutuhkan hadis dhaif (lemah) ataupun maudhu’ (palsu).[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah (2), Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response