Kisah Al-Quran

Kisah Nabi Musa Menurut Hadis (Bagian Kedua – Habis)

Foto: Pixabay
23views

Hadis dari Ibnu Abbas, sebagaimana yang telah disebutkan dalam tulisan bagian pertama, tersebut hanya menceritakan kisah itu secara ringkas. Berikut adalah hadis panjang yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim. Dari Sa’id bin Jubair, dia berkata, “Kami menemui Ibu Abbas di rumahnya, lalu dia mengatakan, ‘Bertanyalah kepadaku’. Aku menjawab, ‘Wahai Ibnu Abbas, Allah telah menjadikanku sebagai tebusanmu. Di Kufah, ada seorang ahli cerita bernama Nauf Al-Bikali yang mengatakan bahwa Musa adalah teman Bani Israil bukanlah Musa teman Khidir’. Dia menjawab, ‘Musuh Allah telah berdusta.’ Aku mendengar Ubay bin Ka’ab mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Ketika berada di tengah kaumnya, Musa mengingatkan mereka tentang hari-hari Allah, yaitu nikmat dan ujian-Nya. Kemudian, dia ditanya, ‘Siapa yang paling mengetahui?’ Musa menjawab, ‘Aku lebih mengetahui’. Kemudian, Allah menyalahkannya dengan tidak menurunkan ilmu kepadanya. Allah mewahyukan kepadanya, ‘Sesungguhnya, salah seorang hamba-Ku yang (ada) pada pertemuan di antara dua laut lebih mengetahui daripadamu’. Musa berkata, ‘Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Tunjukkanlah tempatnya kepadaku’. Dikatakan kepadanya, ‘Bawalah seekor ikan asin dalam sebuah keranjang ketika ikan itu lepas, di sanalah tempatnya’.

BACA JUGA: Kisah Nabi Musa Menurut Hadis (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Pergilah Musa bersama muridnya, yaitu Yusya bin Nun, sambil membawa ikan dalam sebuah keranjang. Keduanya pergi dengan berjalan kaki. Ketika sampai di sebuah batu, keduanya pun berhenti. Ikan itu menggelepar lalu keluar dari keranjang dan jatuh ke laut. Setelah itu, Allah membuatkan jalan air seperti lengkungan, lalu ikan itu masuk ke dalam lengkungan. Musa dan muridnya pun terkejut. Kemudian, keduanya meneruskan perjalanan sepanjang malam dan siang. Namun, murid Musa lupa memberitahukan hal itu. Ketika pagi, Musa berkata kepada muridnya, ‘Keluarkan makanan itu, kita sudah letih karena perjalanan ini’. Namun, Musa tidak merasakan lelah sampai menemukan tempat yang dicarinya. Muridnya teringat dan berkata, ‘Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu. Tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya, kecuali setan. Ikan itu jatuh ke laut dengan cara yang aneh sekali’.

Musa berkata, ‘Itulah tempat yang kita cari’. Kemudian, keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula hingga menemukan tempat berlindung di batu tadi, tempat ikan itu menghilang. Musa berkata, ‘Di sinilah tempat itu’. Dia pun memegangnya, ternyata dia adalah Khidir, yang berselimut rapat dengan bajunya dan terlentang di atas punggungnya. Musa mengucapkan salam kepadanya, lalu Khidir membuka penutup wajah dan mengucap salam. Kemudian, Musa berkata, ‘Aku Musa’. Khidir bertanya, ‘Musa dari Bani Israil?’ Musa menjawab, ‘Ya’. Khidir berkata, ‘Engkau mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui. Aku pun mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui. Musa berkata, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia (Khidir) menjawab, ‘Engkau sekali-kali tidak akan sabar bersamaku. Bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu yang tidak diketahui? Sesuatu yang Allah perintahkan kepadaku untuk melakukannya, tetapi jika melihatnya engkau tidak akan sabar.’

BACA JUGA: Kisah Nabi Musa dan Seseorang yang Beliau Tak Sabar Terhadapnya

Musa berkata, ‘Insya Allah, engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam satu urusan pun’. Dia berkata, ‘Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang satu hal pun sampai aku sendiri yang menerangkannya kepadamu’. Kemudian, dia (Musa) menjawab, ‘Baik’. Khidir dan Musa berjalan di tepi laut. Mereka tidak mempunyai perahu. Kemudian, melintaslah di depan mereka sebuah perahu. Keduanya memohon agar ikut dibawa dalam perahu itu. Pemilik perahu mengenali Khidir sehingga mengizinkan keduanya ikut tanpa membayar. Datanglah seekor burung dan hinggap di atas perahu lalu menukik beberapa kali ke laut seakan akan membuat lubang. Khidir berkata, ‘Wahai Musa, ilmu kita tidak sebanding dengan ilmu Allah, kecuali seperti lubang yang dibuat burung itu di laut’. Kemudian, Khidir bersandar di dinding kapal lalu melubanginya.

Musa berkata, mereka telah memberi tumpangan kepada kita dengan gratis, tetapi engkau melubangi perahu ini agar penumpangnya tenggelam engkau telah berbuat kesalahan yang besar’. ‘Bukankah aku sudah mengatakan bahwa engkau sekali-kali tidak akan sabar bersamaku?’ Musa berkata, ‘Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebaniku dengan satu kesulitan dalam urusanku’. Kemudian, keduanya turun dari kapal. Ketika sedang berjalan di tepi pantai, ada seorang pemuda yang sedang bermain dengan teman-temannya. Kemudian, Khidir membunuh pemuda itu. Musa pun terkejut lalu berkata, ‘Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih itu tanpa hak? Engkau benar-benar telah melakukan sesuatu yang mungkar.’ Khidir berkata, ‘Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan dapat bersabar bersamaku? Ini lebih keras daripada yang pertama’. Rasulullah bersabda, ‘Semoga rahmat Allah tercurah bagi kita dan Musa. Seandainya bersabar, dia pasti akan melihat keajaiban’. Musa berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah ini, janganlah engkau memperbolehkanku menyertaimu. Sesungguhnya engkau sudah cukup memberikan uzur kepadaku’. Keduanya melanjutkan perjalanan. Ketika sampai pada penduduk suatu negeri, keduanya berkeliling dan meminta dijamu oleh penduduk negeri itu, tetapi mereka tidak mau. Kemudian, keduanya mendapati dalam negeri itu ada dinding rumah yang hampir roboh sehingga Khidir pun menegakkan dinding itu. Musa berkata kepada Khidir, ‘Kita mendatangi suatu kaum, tetapi mereka tidak mau menjamu dan memberi makan kita. Jika mau, engkau dapat mengambil upah untuk itu’. Khidir berkata, ‘Inilah perpisahan antara aku dan engkau’, lalu dia mendapat balasannya. Dia berkata, ‘Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan dari perbuatan yang kau tidak dapat bersabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku ingin merusaknya karena ada seorang raja yang suka merampas bahtera. Jika melihat bahtera itu dalam keadaan berlubang, dia akan melewatkannya sehingga mereka, pemiliknya, dapat memperbaikinya.’

BACA JUGA: Ketika Nabi Musa Berniat untuk Menuntut Ilmu

‘Adapun pemuda itu adalah orang kafir, padahal kedua orang tuanya sangat sayang kepadanya. Aku khawatir dia akan menyeret kedua orang tuanya dalam kekafiran. Tuhan akan mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu (pemuda itu) dan lebih dalam kasih sayangnya kepada Ibu ayahnya. Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya tersimpan harta bagi mereka. Sementara itu, ayah mereka adalah orang yang saleh maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai pada kedewasaan dan mengeluarkan simpanan mereka itu.'”[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah (2), Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response