Kisah Al-Quran

11 Faedah Kisah Pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khodir

foto: Pixabay
40views

Ada 11 faedah yang disebutkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di tentang kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khodir, yaitu:

Pertama, pentingnya menuntut ilmu. Nabi Musa meninggalkan Bani Israil untuk menuntut ilmu. Seorang dai sangat butuh menambah ilmunya meskipun harus meninggalkan kaumnya beberapa waktu. Dan, yang terbaik adalah seorang dai menggabungkan keduanya, yaitu berdakwah dan juga menuntut ilmu. Tatkala seorang dai merasa puas dengan ilmunya maka ia pasti tidak dapat memberikan manfaat yang banyak kepada orang lain.

Kedua, keutamaan bersafar menuntut ilmu. Nabi Musa bersafar untuk mencari ilmu. Sampai beliau mengatakan rela untuk melakukan perjalanan hingga bertahun-tahun untuk bertemu dengan Nabi Khodir. Tujuannya adalah satu, yaitu belajar. Oleh karenanya, para ulama, tatkala mengomentari sabda Rasulullah ﷺ berikut, “Dan barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka untuk mencari ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”, mereka mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ mengkhususkan penyebutan ilmu sebagai jalan menuju surga karena jalan tersebut adalah jalan termudah yang bisa ditempuh dan ilmu itu dapat membuka pintu-pintu kebaikan yang lain.

BACA JUGA: Ketika Nabi Musa Berniat untuk Menuntut Ilmu

Ketiga, bolehnya seseorang mengambil pembantu. Akan tetapi, ketika mengambil pembantu hendaknya mencari orang yang cerdas, sebagaimana Nabi Musa mengambil Yusya’ bin Nun sebagai pembantu karena Yusya’ bin Nun setelah hari itu kelak diangkat menjadi nabi.

Keempat, hendaknya seseorang mengambil ilmu dari orang di bawah keutamaannya. Nabi Musa lebih utama daripada Nabi Khodir, tetapi karena Nabi Musa tidak memiliki ilmu yang dimiliki oleh Nabi Khodir maka Musa rela untuk menemukan Khodir. Oleh karena itu, seorang hendaknya tidak angkuh karena bisa jadi dia seorang yang alim tetapi pasti ada suatu bidang ilmu yang tidak dia ketahui.

Kelima, hendaknya seseorang tatkala belajar dengan seorang guru mengucapkan perkataan yang merendah. Kata para ulama, tatkala seseorang menuntut ilmu, ia harus menunjukkan kebutuhan terhadap seorang guru. Tidak boleh menyombongkan diri dengan bentuk menunjukkan rasa tidak butuh.

Keenam, hendaknya seorang pembantu memakan apa yang dimakan oleh tuannya. Sebagaimana Nabi Musa ketika hendak makan bersama.

Ketujuh, hendaknya seseorang bersabar hingga mendapatkan hikmah di balik itu. Nabi Musa tidak dapat bersabar dari peristiwa yang dilihatnya karena tidak mengetahui hikmah di balik peristiwa itu. Oleh karena itu, tatkala seseorang menyadari bahwa ada hikmah dari setiap musibah yang menimpanya pasti dia akan mampu untuk bersabar. Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa tatkala seseorang terkena musibah, terkadang Allah langsung menampakan hikmahnya, terkadang Allah menunda hingga bertahun-tahun, dan bahkan terrkadang seseorang tidak dapat mengetahui hikmahnya. Tatkala seseorang tidak dapat mengetahui hikmah di balik musibah yang menimpanya, hendaknya dia melihat kisah Nabi Musa dan Nabi Khodir karena Musa yang sebagai nabi pun tidak memahami hikmah di balik perbuatan Nabi Khodir.

Kedelapan, seseorang hendaknya bersabar dalam menuntut ilmu.

Kesembilan, jika ada dua perkara yang membawa mudharat maka ditempuh yang paling ringan ke mudharatannya. Para ulama mengatakan bahwa bukanlah orang yang fakih itu yang mengetahui halal dan haram, melainkan orang yang fakih itu adalah orang yang dihadapkan dua kemudharatan dan dia mengetahui dari kedua pilihan tersebut mana yang lebih sedikit kemudharatannya.

BACA JUGA: Kisah Nabi Musa dan Seseorang yang Beliau Tak Sabar Terhadapnya

Kesepuluh, berkhidmat kepada orang saleh. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan bahwa tidak ada alasan yang mendorong Nabi Khodir membenahi tembok yang miring kecuali alasan yang menyebutkan bahwa kedua orang tuanya adalah orang saleh. Dengan demikian, para ulama menyebutkan bahwa berkhidmat kepada orang-orang saleh merupakan hal yang dianjurkan.

Kesebelas, tidak boleh seseorang menyandarkan keburukan kepada Allah. Sebagaimana Yusya’ bin Nun yang mengatakan bahwa yang membuatnya lupa adalah setan. Sebagaimana juga disebutkan bahwa Nabi Khodir mengatakan bahwa dia ingin merusak kapal tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa tatkala seseorang melakukan keburukan, ia harus menyandarkannya kepada pelakunya dan bukan menyandarkannya kepada Allah. Adapun tentang kebaikan maka harus disandarkan kepada Allah. Ini semua merupakan adab kepada Allah. Dan, kita wajib beradab kepada Allah meskipun perkara buruk juga ditakdirkan oleh Allah.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI, karya Ust. Firanda Andirja, Penerbit Ustadz Firanda Andirja Office

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response