Kabar

Allah Jadikan Kera Kaum yang Dilaknat dan Dimurkai

Foto: Unsplash
21views

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 60

قُلْ هَلْ اُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِّنْ ذٰلِكَ مَثُوْبَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗمَنْ لَّعَنَهُ اللّٰهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيْرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوْتَۗ اُولٰۤىِٕكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضَلُّ عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang fasik) di sisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah Thagut.’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.”

Para ulama menjelaskan bahwa maksud ayat ini adalah agar orang-orang beriman bersikap mengalah kepada orang Yahudi dan Nasrani dalam berdiskusi yang di mana Ahli Kitab memandang buruk orang-orang yang beriman, padahal tentu Ahli Kitab lebih buruk dibandingkan orang-orang beriman. Namun, meskipun taruhlah anggapan Ahli Kitab tersebut dibenarkan, tetap saja orang-orang beriman lebih baik daripada nenek moyang mereka.

BACA JUGA: Kisah Ashabu As-Sabti

Anggaplah orang-orang beriman itu buruk di mata orang Yahudi. Namun, hendaknya mereka berpikir, manakah yang lebih buruk antara orang-orang beriman atau nenek moyang orang-orang Yahudi itu, yang mereka selalu banggakan dan dianggap sebagai suku terpilih? Bukankah nenek moyang mereka itu ada yang diubah menjadi monyet dan babi?

Anggaplah kalaupun menurut mereka, kaum Muslimin itu buruk, maka ada yang lebih buruk yaitu:

مَنْ لَّعَنَهُ اللّٰهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيْرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوْتَۗ اُولٰۤىِٕكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضَلُّ عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ

Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah Thagut.’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.”

لَّعَنَهُ “dijauhkan dari rahmat Allah”, sedangkan غَضِبَ “murka” maknanya lebih berat daripada laknat. Karena, jika seseorang dimurkai oleh Allah maka dia juga dijauhkan dari rahmat Allah. Di dalam Surah Al-Fatihah orang-orang Yahudi disebutkan sebagai “orang yang dimurkai“. Mereka dimurkai karena memiliki ilmu tetapi mereka tidak mengamalkan ilmunya itu. Adapun orang-orang Nasrani disebutkan sebagai “orang-orang yang tersesat“. Mereka tersesat karena beramal tanpa ilmu.

Di dalam ayat di atas, Allah berbicara secara umum tentang Bani Israil yang mencakup kalangan Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu, mereka bisa disifati dengan dimurkai dan dilaknat. Di antara mereka yang mengetahui ilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya maka mendapat murka dari Allah.

BACA JUGA: Kisah Orang-Orang Yahudi dan Hari Sabat

Adapun orang-orang Nasrani zaman sekarang, umumnya mereka sudah tahu ilmu tentang Rasulullah ﷺ. Namun, mereka enggan mempelajarinya hingga akhirnya mereka enggan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ayat ini merupakan bentuk dialog kaum Muslimin dengan kalangan Yahudi dan Nasrani. Mereka menganggap kaum Muslimin lebih buruk daripada mereka. Padahal kenyataannya, kaum Yahudi dan Nasrani itu lebih buruk karena nenek moyang mereka ada yang pernah diubah menjadi monyet dan babi.

Sebab nenek moyang mereka diubah menjadi monyet adalah karena balasan yang ditimpakan itu sejenis dengan perbuatan yang mereka lakukan. Itu seperti halnya siksaan yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth, berupa diangkatnya kampung mereka lalu dibalik dan dijatuhkan, kemudian ditambah dengan hujan batu yang mengenai mereka. Maka, azab itu pantas mereka dapatkan akibat fitrah mereka yang terbalik: laki-laki menyukai sesama laki-laki, dan perempuan suka dengan perempuan.

Begitu pula dengan orang Yahudi yang dahulu diubah menjadi monyet. Mereka disebut juga dengan Ashhabus Sabti” (para pelanggar di hari Sabtu). Allah berfirman kepada mereka dalam Surah Al-Baqarah (2): 65:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ

“Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabtu, lalu kami katakan kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina.’”

Di dalam ayat yang lain, yakni dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 163, Allah menjelaskan lebih terperinci,

وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِيْ كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِۘ اِذْ يَعْدُوْنَ فِى السَّبْتِ اِذْ تَأْتِيْهِمْ حِيْتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَّيَوْمَ لَا يَسْبِتُوْنَۙ لَا تَأْتِيْهِمْ ۛ كَذٰلِكَ ۛنَبْلُوْهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, (yaitu) ketika datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar mereka terapung-apung di permukaan air, padahal pada hari-hari yang bukan Sabtu ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik.”

Pada kisah tersebut, Allah melarang mereka untuk menangkap ikan pada hari Sabtu. Namun, pada hari Sabtu itu jumlah ikan yang muncul sangat banyak. Sedangkan, pada hari lainnya yang mereka dibolehkan untuk menangkap ikan justru tidak ada ikan yang muncul. Ini adalah ujian bagi mereka.

Mereka akhirnya memikirkan trik atau rekayasa agar ikan-ikan yang muncul di hari Sabtu itu bisa tetap mereka ambil, tanpa perlu melakukan aktivitas melaut di hari Sabtu.

BACA JUGA: Ringkasan Kisah Kaum Sabat

Caranya adalah mereka memasang perangkap di hari Jumat. Pada hari Sabtu mereka tidak melaut, tetapi ketika ikan-ikan itu muncul di hari Sabtu maka ikan-ikan itu pun masuk ke dalam perangkap dan tidak bisa kembali ke laut. Setelah lewat hari Sabtu, mereka pun tinggal mengambil ikan-ikan itu dengan mudah.

Mereka menyangka bahwa dengan trik dan rekayasa semacam itu mereka dapat lolos dari pelanggaran. Mereka mungkin berdalih bahwa mereka tidak melakukan aktivitas melaut di hari Sabtu, dan saat itu mereka tengah beristirahat di rumah. Lalu, di mana letak kesalahan tersebut? Kesalahannya adalah mereka menyengaja memasang perangkat, dan perangkap itu tetap melakukan aktivitas penangkapan ikan di hari Sabtu sesuai keinginan mereka.

Karena itulah mereka diubah menjadi monyet. Sebab mereka melakukan pelanggaran yang kemudian direkayasa agar mirip dengan kebenaran. Monyet itu hewan yang mirip manusia, tetapi jelas bukan manusia. Begitu pula halnya dengan pelanggaran mereka mirip dengan kebenaran, tetapi bukan kebenaran.

Kenapa mereka diubah menjadi babi?

Sebagian pendapat di kalangan para ulama menyatakan bahwa yang diubah menjadi babi itu termasuk orang yang melakukan pelanggaran pada hari Sabtu tersebut. Kalangan muda mereka diubah menjadi monyet, sementara kalangan tua mereka diubah menjadi babi.

Sebagian ulama lainnya, di antaranya Syaikh Ibnu Utsaimin, memiliki pandangan yang berbeda. Menurut mereka, dalam hal ini ada trik dan rekayasa terkait upaya untuk menghalalkan zina. Kita tahu babi adalah hewan yang tidak memiliki rasa cemburu. Babi jantan membiarkan babi betinanya digauli oleh babi jantan lainnya. Dengan demikian, kesalahan mereka itu berkaitan dengan zina. Pandangan ini cukup kuat dan argumentatif. Di antara dalil pendukungnya adalah sabda Nabi, “Berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan Wanita. Sesungguhnya fitnah pertama kali yang menimpa kepada Bani Israil adalah karena wanita.”

Jadi, mungkin saja karena mereka menghalalkan zina, maka Allah pun mengubah mereka menjadi babi. Wallahu a’lam. Sebagian ulama lainnya menukil dari Israilliyat bahwa sebagian Bani Israil diubah menjadi babi karena mereka menjual agamanya untuk meraih dunia.

Apakah orang-orang yang diubah menjadi monyet dan babi tersebut memiliki keturunan hingga zaman sekarang.

Pada zaman sekarang tidak ada keturunan dari kalangan yang diubah menjadi monyet dan babi.

Oleh karena itu, tidak boleh dan tidak benar bagi seorang untuk berkata tentang kalangan Yahudi, Nasrani, atau Bani Israil secara umum dengan menyebut mereka sebagai keturunan monyet dan babi. Lain halnya jika menyebut mereka dengan “saudara-saudara babi dan monyet” maka ucapan ini benar-benar dan memang demikianlah faktanya. Karena, di antara nenek moyang mereka memang ada yang pernah diubah menjadi monyet ataupun babi. Namun tentunya, sekalipun benar celaan seperti ini umumnya tidak pantas untuk disampaikan, terlebih dalam rangka dakwah. Apalagi jika ucapan tersebut hanya malah menimbulkan mudharat dan tidak merealisasikan maslahah apa pun.

Ketika Aisyah mendengar kalangan Yahudi mendoakan keburukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan berkata, “Semoga kematian atasmu.” Maka nabi menjawabnya, “semoga atasmu juga. ” Aisyah berkata, ” aku berkeinginan untuk berbicara. ” lalu, orang Yahudi tersebut datang lagi dan kembali mengucapkan hal yang sama. Nabi pun tetap menjawabnya, “semoga atasmu juga.” lalu, dia datang lagi ketiga kalinya dan berkata, “Semoga kematian atasmu.” Maka, Aisyah berkata, “Semoga kematian dan kemurkaan Allah atas kalian, wahai saudara-saudara monyet dan babi.”

BACA JUGA: Alasan Mengubah Wujud Orang-Orang yang Melampaui Batas Menjadi Kera

Perkataan Aisyah itu benar dan faktual. sekalipun mereka bukan keturunan babi dan monyet tetapi mereka adalah saudara-saudaranya. Namun, Rasulullah ﷺ tetap menegur Aisyah dan mengarahkannya untuk menyampaikan ucapan yang santun dan menjauhi ucapan yang buruk.

Di antara faedah dari ayat ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin, bahwa yang terpenting adalah “pembahasan di sisi Allah“. Yang sampai kita terpedaya dengan penggabungan ,pengakuan atau pujian orang lain terhadap kita. Bagaimana kedudukan kita nantinya di sisi Allah, itulah yang paling penting

Betapa banyak orang yang diakui dan disanjung oleh jutaan orang, tapi dia tidak ada nilainya di sisi Allah. Jangan terpedaya dengan banyaknya pengikut, followers, netizen, pengagum dan seterusnya, serta begitu juga pujian mereka. Orang-orang itu tidak bisa memengaruhi kedudukan kita di sisi Allah. Jika kita baik, maka kita juga akan baik di sisi Allah. Namun, jika kita buruk, meskipun seluruh manusia di bumi memuji kita, maka pujian mereka tidak berpengaruh apa pun terhadap kedudukan kita di sisi Allah.

Hendaknya kita selalu berusaha melatih diri untuk memperbaiki kondisi kita tatkala bersendirian dan berusaha untuk senantiasa memperbaiki hubungan kita dengan Allah.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-MA’IDAH, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response