Kisah

Kisah Ashabu As-Sabti

foto: Pixabay
24views

Ashabu as-sabti adalah sebutan lain bagi bangsa Yahudi atau Bani Israil yang tinggal di sebuah daerah bernama Ailah, terletak di tepi pantai Laut Merah antara Mesir dan Palestina. Israil dinisbahkan untuk Nabi Ya’qub yang merupakan anak Nabi Ishaq dan cucu Nabi Ibrahim. “Israil” artinya “orang yang diperjalankan Tuhan di malam hari”. Ada juga sebagian ulama yang mengartikan “Israil” sebagai “tentara Tuhan”. Sementara itu, umat Nasrani dan Yahudi menyebut Nabi Ya’qub dengan Israel.

Mereka disebut ashabu as-sabti karena suka menjadikan hari Sabtu sebagai hari mulia. Dulu, Allah menjadikan bagi mereka hari Jumat sebagai hari raya. Namun kemudian, mereka tidak mau patuh dan justru menggantinya dengan hari Sabtu. Karena itu, akhirnya Allah mengharamkan apa yang sebelumnya halal bagi mereka. Setiap hari Sabtu, mereka dilarang memancing ikan, memasak, dan memakannya.

BACA JUGA: Kisah Orang-Orang Yahudi dan Hari Sabat

Larangan Allah ini lagi-lagi mereka langgar. Mereka membuat sebuah tipu daya, yaitu melemparkan kail ke dalam laut pada hari Sabtu dan kemudian mengikat gagangnya di tepi pantai. Lalu, keesokan harinya barulah kail tersebut mereka ambil dan ikannya mereka bawa pulang. Awalnya, mereka melakukan perbuatan itu

foto: The Great Quran...

secara diam-diam. Namun, lama-kelamaan, semua menjadi terbuka dan sering dilakukan secara beramai-ramai.

Setelah ada sebagian dari mereka menangkap ikan-ikan tersebut, terpecahlah mereka menjadi tiga: sebagian melakukannya, sebagian lagi mengingkari perbuatan mereka itu, dan yang lain tidak mengerjakan, tidak pula mencegah tetapi mereka mengingkari perbuatan tersebut. Allah berfirman tentang mereka sebagaimana tercantum dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 164:

وَاِذْ قَالَتْ اُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُوْنَ قَوْمًاۙ ۨاللّٰهُ مُهْلِكُهُمْ اَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًاۗ قَالُوْا مَعْذِرَةً اِلٰى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, ‘Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?'”

Karena tipu daya yang mereka lakukan, akhirnya ashabu as-sabti disumpah oleh Allah menjadi kera. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa ini sebagai suatu perumpamaan. Artinya, hati mereka menyerupai hati kera karena sama-sama tidak menerima nasihat atau peringatan. Sedangkan, menurut jumhur mufasir, mereka betul-betul menjadi kera. Hanya bedanya mereka tidak beranak, tidak makan dan minum, serta hidup tidak lebih dari tiga hari.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 65:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ

“Sungguh, kamu benar-benar telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina!’”

BACA JUGA: Ringkasan Kisah Kaum Sabat

Kemudian, Allah juga berfirman dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 163:

وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِيْ كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِۘ اِذْ يَعْدُوْنَ فِى السَّبْتِ اِذْ تَأْتِيْهِمْ حِيْتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَّيَوْمَ لَا يَسْبِتُوْنَۙ لَا تَأْتِيْهِمْ ۛ كَذٰلِكَ ۛنَبْلُوْهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ

“Tanyakanlah kepada mereka tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabat, (yaitu) ketika datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka bermunculan di permukaan air. Padahal, pada hari-hari yang bukan Sabat ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka karena mereka selalu berlaku fasik.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian melakukan dosa seperti yang dilakukan bangsa Yahudi. Hingga kalian akan menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan hanya dengan alasan remeh.” (HR. Abdullah Ibnu Batutah dengan sanad jayyid).

Rasulullah ﷺ berkata, “Semoga Allah mengutuk orang-orang Yahudi. Sesungguhnya, ketika Allah mengharamkan lemak bangkai kepada orang-orang Yahudi, mereka mengolah lemak tersebut, lalu menjualnya kemudian mereka makan hasil penjualannya”.

Tipu daya yang dilakukan orang-orang Yahudi sangat tidak disukai Allah. Bahkan, Allah mencela mereka yang suka tipu muslihat dan makar serta mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang ada di dalam hatinya.

Tipu daya kaum Yahudi tak hanya terjadi pada masa lalu. Hingga kini, sifat tercela dan menjijikkan tersebut juga masih mereka lakukan. Berkhianat, menipu, berdusta, munafik, dan sebagainya. Banyak bukti yang menguatkannya. Lihat saja bagaimana cara kaum Yahudi menghadapi rakyat Palestina. Untuk menjajah Palestina, mereka menggunakan segala macam cara.

BACA JUGA: Alasan Mengubah Wujud Orang-Orang yang Melampaui Batas Menjadi Kera

Mereka membunuh orang tak berdosa, lalu menyebut dan menyebarkannya ke dunia internasional bahwa yang mereka bunuh adalah teroris. Mereka menyebut bom jihad dengan bom bunuh diri. Mereka menyerbu kapal Mavi Marmara yang berisikan aktivis yang akan memberikan bantuan ke Gaza. Namun, mereka memutarbalikkan fakta dengan mengatakan bahwa para aktivis itulah yang justru akan menyerang mereka. Yang paling sering mereka lakukan adalah selalu berjanji dan mengkhianati perjanjian. Tak terhitung sudah berapa kali mereka mengadakan perundingan dengan pejuang Palestina dan, setelah itu, mereka mengkhianatinya.

Kisah ashabu as-sabti menjadi bukti betapa kita harus betul-betul mewaspadai kaum Yahudi di mana pun dan sampai kapan pun. Kita, umat Islam, tak boleh terlena dengan janji dan rayuan kaum Yahudi karena sesungguhnya mereka sedang melakukan tipu muslihat yang keji.[]

 

SUMBER: THE GREAT QURAN: Referensi Terlengkap Ilmu-Ilmu Al-Quran, Penulis: Tim Penyusun Maghfirah Pustaka, Penerbit: Maghfirah Pustaka

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response