Kisah Al-Quran

Alasan Mengubah Wujud Orang-Orang yang Melampaui Batas Menjadi Kera

foto: Unsplash
23views

Orang-orang yang melampaui batas itu telah menganiaya diri mereka sendiri. Mereka telah melanggar hal-hal yang dilarang untuk mereka lakukan. Mereka telah mendurhakai Allah. Mereka telah menolak untuk komitmen melaksanakan syariat-Nya. Mereka sewenang-wenang dan sombong. Mereka telah nekat dalam kezaliman mereka dan terus-menerus melakukan pelanggaran.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kemudian mereka mendapatkan azab Allah. Mereka telah mengundang kedatangan siksa-Nya dan penyegeraan sanksi-Nya. Jadi, sudah sepantasnya berlaku pada mereka sunatullah dan azab-Nya. Padahal, azab yang menimpa orang-orang yang melampaui batas itu sangat pedih dan keras. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 165:

وَاَخَذْنَا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا بِعَذَابٍۢ بَـِٔيْسٍۢ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ

“Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim azab yang keras karena mereka selalu berbuat fasik”.

BACA JUGA: Melupakan dan Melalaikan Hukum-Hukum Allah adalah Pendahuluan Turunnya Azab

Azab Allah atas mereka merupakan azab yang unik, tetapi buruk sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-A’raf (7)ayat 166:

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَّا نُهُوْا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ

“Ketika mereka bersikeras (melampaui batas) terhadap segala yang dilarang, Kami mengatakan kepada mereka, ‘Jadilah engkau kera yang hina'”.

Allah telah mengubah wujud mereka menjadi kera yang hina. Dengan mengubah wujud manusia mereka menjadi wujud hewan yang sesungguhnya, mereka menjadi kera yang sesungguhnya. Sesungguhnya, Allah Mahaadil dengan mengutuk mereka menjadi kera yang nista dan hina karena telah melanggar hukum-hukum-Nya dan membangkang perintah-perintah-Nya. Di antara keadilan ilahiyah adalah membalas kebaikan orang yang berbuat baik sesuai kebaikannya, membalas orang yang berbuat kejahatan sesuai kejahatannya, dan menghukum orang yang melampaui batas sesuai pelanggarannya. Sesungguhnya, Allah Mahabijaksana dengan mengubah mereka menjadi kera.

Mungkin, hikmah dari kutukan ini adalah Allah menginginkan mereka menjadi manusia yang sesungguhnya serta melakukan fungsi kemanusiaan dengan sebaik-baiknya. Ketika melanggar hukum-hukumnya ini berarti malaikat telah menolak pemuliaan darinya. Oleh karena itu, mereka merapat dari posisi kemanusiaan dan kemuliaan menuju wujud hewan. Oleh karena itu, Allah membebani mereka dengan kewajiban-kewajiban syariat dan menyuruh mereka untuk komitmen terhadap amanah kewajiban tersebut.

BACA JUGA: Ringkasan Kisah Kaum Sabat

Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab (33) ayat 72:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”

Sesungguhnya syariat ilahiyah merupakan manifestasi kemuliaan dari Allah bagi umat manusia dan manifestasi dari Allah dalam meninggikan derajat kemanusiaan manusia. Komitmen melaksanakan syariat ilahiyah merupakan manifestasi realisasi dalam mengangkat nilai-nilai serta harkat manusia yang mulia. Adapun pelanggaran terhadap syariat Allah dan pembangkangan terhadap hukum-hukum-Nya merupakan penghapusan dan pemusnahan terhadap nilai-nilai kemanusiaan pada diri manusia. Dalam hal ini, manusia mundur ke tingkat rendah yang tidak layak baginya dan jatuh dari kedudukan tinggi yang dikehendaki Allah menuju martabat rendah hewan yang tidak layak baginya.

Jika kita mendapati seseorang melampaui batas, berbuat zalim, dan fasik sesungguhnya dia meluncur dari martabat kemanusiaan menuju martabat hewan. Manusia menjadi hewan dalam konteks kejiwaan, perasaan, dan akhlaknya (moralitas) meskipun masih berwujud manusia secara sifat, penampilan, dan bentuk lahiriah. Ukuran dan nilai manusia bukan terletak pada bentuk dan wujud lahiriyah, melainkan pada nilai, idealisme, dan perbuatan yang muncul sebagai cerminan dari visi, mental, pemikiran, dan akidahnya.

Inilah yang ditetapkan dan ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Muslim dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya, Allah tidak melihat pada bentuk dan hartamu Allah Tetapi pada hati dan perbuatanmu”.

BACA JUGA: Balasan yang Berbeda untuk Golongan Kanan dan Golongan Kiri

Orang-orang yang melampaui batas dan membangkang dalam kisah penduduk Yahudi itu, sebelum memperoleh kutukan, sebenarnya telah menjadi kera dari segi kejiwaan dan mental. Mereka adalah kera-kera dalam segi kejiwaan, mental, dan akhlak. Sisi kemanusiaan mereka hanya dalam bentuk luar (ahiriah) yang tampak pada tubuh Indra, dan suara. Dengan sifat dan mentalitas yang seperti ini, Allah mengubah mereka menjadi kera yang sesungguhnya sebagai korelasi antara kondisi substansinya dan bentuk lahiriah. Wallahu ‘alam.[]

 

Sumber: Kisah-Kisah dalam Al-Quran: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response