Kisah Al-Quran

Ringkasan Kisah Kaum Sabat

foto: Pixabay
32views

Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 163-168:

وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِيْ كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِۘ اِذْ يَعْدُوْنَ فِى السَّبْتِ اِذْ تَأْتِيْهِمْ حِيْتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَّيَوْمَ لَا يَسْبِتُوْنَۙ لَا تَأْتِيْهِمْ ۛ كَذٰلِكَ ۛنَبْلُوْهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ (163) وَاِذْ قَالَتْ اُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُوْنَ قَوْمًاۙ ۨاللّٰهُ مُهْلِكُهُمْ اَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًاۗ قَالُوْا مَعْذِرَةً اِلٰى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ (164) فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖٓ اَنْجَيْنَا الَّذِيْنَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوْۤءِ وَاَخَذْنَا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا بِعَذَابٍۢ بَـِٔيْسٍۢ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ (165) فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَّا نُهُوْا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ (166) وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ مَنْ يَّسُوْمُهُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِۗ اِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيْعُ الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ (167) وَقَطَّعْنٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اُمَمًاۚ مِنْهُمُ الصّٰلِحُوْنَ وَمِنْهُمْ دُوْنَ ذٰلِكَ ۖوَبَلَوْنٰهُمْ بِالْحَسَنٰتِ وَالسَّيِّاٰتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (168)

Tanyakanlah kepada mereka tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabat, (yaitu) ketika datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka bermunculan di permukaan air. Padahal, pada hari-hari yang bukan Sabat ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka karena mereka selalu berlaku fasik. (163) (Ingatlah) ketika salah satu golongan di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu dan agar mereka bertakwa.” (164) Maka, setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang mencegah (orang berbuat) keburukan dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim azab yang keras karena mereka selalu berbuat fasik. (165) Kemudian, ketika mereka bersikeras (melampaui batas) terhadap segala yang dilarang, Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!” (166) (Ingatlah) ketika Tuhanmu memberitahukan bahwa sungguh Dia akan mengirimkan kepada mereka (Bani Israil) orang-orang yang akan menimpakan seburuk-buruk azab kepada mereka sampai Hari Kiamat. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (167) Kami membagi mereka di bumi ini menjadi beberapa golongan. Di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada (pula) yang tidak. Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan agar mereka kembali (pada kebenaran). (168)

Ayat tersebut menceritakan tentang sebuah desa orang Yahudi yang terletak di pesisir lautan, yaitu sebuah desa pesisir di antara desa-desa yang mereka diami. Mereka telah diperintahkan Allah untuk tidak berburu dan menangkap ikan pada hari Sabat (Sabtu), tetapi dibolehkan untuk menangkapnya pada hari lain dalam sepekan. Allah telah menguji mereka dengan kewajiban ini. Ikan-ikan itu menjauhi mereka dan jarang ditemui pada hari-hari dibolehkannya menangkap ikan.

BACA JUGA: Sebutan Bagi Bangsa Yahudi yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah

Sementara itu, justru pada hari Sabat, ikan-ikan itu banyak mendatangi mereka dengan terapung-apung di sekitar mereka. Setan pun membisiki hati sekelompok orang dari penduduk desa dan membujuk mereka untuk menangkap ikan. Namun, bagaimana caranya mereka dapat mengelak dari perintah Allah tersebut? Setan pun menunjukkan alibi dan tipu daya seraya membimbing mereka agar dapat menangkap ikan pada hari Sabat. Dalam menghadapi kelompok yang melanggar batas tersebut penduduk desa itu terbagi menjadi dua kelompok, yakni sebagai berikut:

Kelompok pertama, yakni kelompok yang diisi oleh orang-orang saleh dari para da’i yang menjalankan kewajiban mereka dalam berdakwah. Mereka memprotes orang-orang yang mengakali perintah-perintah Allah dengan berbagai alibi pelanggaran dan perburuan pada hari Sabat.

Kelompok kedua, yakni kelompok yang diisi oleh orang-orang yang berdiam diri melihat pelanggaran orang-orang yang melampaui batas itu. Mereka melontarkan celaan dan penentangan terhadap orang-orang saleh yang berdakwah dengan alasan bahwa tidak ada manfaatnya menasihati dan memperingatkan sekelompok orang yang memang sudah sepantasnya binasa dan akan mendapatkan azab.

BACA JUGA: Penegasan bahwa Allah telah Berikan Ragam Kenikmatan kepada Bani Israil

Orang-orang yang saleh menjelaskan kepada orang-orang yang mencela mereka dan mendiamkan kemungkaran itu bahwa mereka memprotes kemungkaran tersebut dengan tujuan untuk melepaskan tanggung jawab di hadapan Allah dan untuk menunaikan kewajiban serta berharap orang-orang yang melampaui batas itu mau bertakwa. Ketika azab Allah menimpa orang-orang yang melampaui batas itu, Allah mengubah wujud mereka menjadi monyet-monyet hina. Perubahan bentuk wujud itu memang terjadi tidak lama. Setelah berubah wujud menjadi monyet yang tidak mempunyai keturunan, mereka akhirnya mati. Allah menyelamatkan orang-orang saleh dari para da’i itu. Sementara itu, Al-Quran tidak menjelaskan nasib orang-orang yang diam. Mungkin, hal itu karena mereka tidak berarti dan hina di mata Allah. Karena mereka tidak disebutkan bersama orang-orang yang selamat, nampaknya mereka termasuk orang-orang yang binasa dan terkutuk.[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dihinakan dan Dimuliakan Allah, Karya: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response