Ibrah

Pelajaran-Pelajaran Terpenting dalam Kisah Kaum Sabat

Foto: Pixabay
30views

Dari seluruh rangkaian kisah kaum Sabat yang tercantum dalam Al-Quran, terdapat beberapa ibrah atau pelajaran yang dapat dipetik, yakni:

Pertama, desa Yahudi itu merupakan sebuah contoh desa atau kota dalam corak sikap penduduknya terhadap perintah-perintah Allah. Mereka terbagi dalam beberapa golongan ketika menyikapinya. Sekelompok orang di antara mereka melanggar perintah Allah, sekelompok orang lainnya menunggu dan menghadapinya, serta sekelompok sisanya bersikap diam dan berpangku tangan dari melakukan aksi kontra dan memberikan nasihat.

Kedua, sesungguhnya Allah mencoba dan menguji mereka dengan beban kewajiban. Di antara mereka ada yang berjihad melawan hawa nafsu sehingga dapat mematuhinya dan berhasil. Di antara mereka ada pula yang mengikuti hawa nafsu sehingga melanggar atau melampaui batas dan gagal dalam ujian tersebut.

Ketiga, adanya perbedaan antara kejiwaan orang-orang Yahudi yang tidak komitmen terhadap arahan-arahan ilahiyah dan kejiwaan para sahabat serta orang-orang Muslim yang berjihad melawan dan mengatasi hawa nafsu mereka.

BACA JUGA: Kisah Orang-Orang Yahudi dan Hari Sabat

Keempat, ikan-ikan yang datang untuk menghampiri dan menggoda para penduduk desa adalah tentara-Nya. Allah telah memerintahkan ikan-ikan itu untuk mendekati mereka pada hari Sabat dan menjauhi mereka pada hari-hari lainnya sehingga ikan-ikan itu pun mematuhi dan melaksanakan perintah tersebut. Tidak ada yang mengetahui tentara-tentara Rabb-mu, kecuali Dia Yang Mahasuci.

Kelima, terbaginya penduduk desa Yahudi menjadi tiga umat (orang-orang yang melampaui batas, para penyeru atau dai, dan orang-orang yang berdiam diri) ini menunjukkan pada pengertian yang benar tentang umat (menurut perspektif Al-Quran) dengan ungkapan bahwa umat adalah sekumpulan manusia yang disatukan oleh satu agama, satu komitmen, dan satu sistem.

Keenam, protes kaum reformis terhadap kemungkaran merupakan pelaksanaan kewajiban syariat yang diwajibkan Allah atas mereka, bukan merupakan campur tangan terhadap urusan pribadi orang lain ataupun pelanggaran hak-hak asasi dan kebebasan mereka.

Ketujuh, tidak ada pengakuan terhadap kebebasan individual dan intrik pribadi. Jika bertentangan dengan kepentingan umum, kebebasan individu dibatasi oleh kepentingan umum. Oleh karena itu, tidak berhak bagi individu apa pun untuk melakukan sesuatu yang membahayakan komunitas (kaumnya) dan menyeret mereka pada turunnya azab.

Kedelapan, melakukan kemungkaran dan melanggar larangan merupakan suatu ancaman, bahaya laten, dan jalan menuju kemarahan Allah, serta mendatangkan azab kemurkaan-Nya.

Kesembilan, dalam berdakwah para dai berangkat dari dua motivasi pokok, yaitu motivasi mencari alasan untuk terlepas dari tanggung jawab di hadapan Allah dengan melaksanakan kewajiban dan motivasi untuk memberikan nasihat kepada orang lain agar bertakwa.

Kesepuluh, para objek dakwah terkadang mau sadar, ingat, dan bertakwa apabila para dai yang memberi nasehat itu mengikuti cara Al-Quran dalam memberikan nasihat, petuah, dan peringatan.

Kesebelas, seorang dai dituntut untuk aktif berdakwah dan memberi nasihat. Jika tidak melakukan hal itu, Ini berarti dia telah menjerumuskan dirinya untuk bertanggung jawab di hadapan Allah dan menerima siksaan. Namun, seorang dai tidak dituntut untuk dapat memberi petunjuk (hidayah) kepada orang lain serta harus diterima dan diikuti karena hal itu adalah urusan Allah.

Kedua belas, sesungguhnya perkataan memiliki kekuatan dan pengaruh. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikan ataupun meninggalkannya karena dakwah tidak akan tegak, kecuali didasarkan pada perkataan. Namun, yang penting adalah perkataan harus timbul dari hati agar sampai ke hati.

BACA JUGA: Ringkasan Kisah Kaum Sabat

Ketiga belas, aksi memprotes kemungkaran yang dilakukan oleh para dai merupakan bukti yang menunjukkan adanya kekuatan iman dalam hati mereka, semangat dan kepedulian terhadap hukum-hukum Allah, serta keprihatinan dan kecintaan memberikan kebaikan kepada orang lain. Sejauh mana nilai-nilai ini mereka miliki maka usaha-usaha mereka dalam menyampaikan dakwah, peringatan, nasihat dan protes akan meningkat dan bertambah.

Keempat belas, dalam kehidupan ini, terdapat beberapa individu umat yang mereka merasa cukup dengan sikap kontra yang pasif dan lebih memilih sikap pasif, isolasi, dan eksklusif, serta mundur dari kancah perjuangan memberi nasihat dakwah, dan peringatan.

Kelima belas, orang-orang yang pasif tidak cukup hanya dengan berdiam diri dan berpangku tangan dari memprotes kemungkaran tetapi juga melakukan kejahatan yang lain yaitu melontarkan cercaan dan kesinisan kepada orang-orang Mukmin reformis atas upaya mereka dalam berdakwah dan menyampaikan kebenaran.

Keenam belas, pada saat merebaknya kemaksiatan di kalangan masyarakat, para dai harus senantiasa konsisten dalam memberikan nasihat dan peringatan sehingga masyarakat tidak melupakan kebenaran syariat seperti menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

Ketujuh belas, melupakan hukum-hukum syariat merupakan suatu bencana besar yang terkadang melebihi bencana akibat melanggarnya. Sesungguhnya, sikap melupakan ini merupakan pendahuluan dari turunnya azab.

Kedelapan belas, ketika azab turun, tidak ada jalan untuk selamat, kecuali bagi orang yang menjalankan kewajibannya dalam berdakwah kepada Allah. Ini merupakan satu-satunya bahtera keselamatan. Ini merupakan sunnatullah untuk membalas orang yang berbuat kebaikan dengan kebaikan pula.

Kesembilan belas, kemaksiatan menimbulkan musibah dan melaksanakannya merupakan ancaman akan turunnya azab yang mengundang kehancuran.

Kedua puluh, telah terjadi kutukan berupa perubahan wujud penduduk desa yang melampaui batas itu menjadi kera yang hina. Perubahan ini terjadi dengan berubahnya wujud mereka dalam arti yang sesungguhnya (lahiriah). Setelah itu, mereka tidak ada yang hidup dan tidak ada yang berkembang biak. Ini merupakan bukti pelajaran yang diberikan Allah kepada orang-orang yang berbuat maksiat.

Kedua puluh satu, suatu keharusan bagi kita untuk berhenti pada keterangan dhahir (eksplisit) nash Al-Quran. Kita tidak boleh menyelisihi atau mengubahnya seperti dalam kasus perubahan wujud orang-orang yang melampaui batas itu.

Kedua puluh dua, nilai kemanusiaan seseorang tidak akan terwujud, kecuali dengan ketaatan kepada Allah. Ini merupakan dasar kemuliaan di sisinya. Akan tetapi, jika berbuat maksiat, zalim, dan kufur ini berarti seseorang telah jatuh dari martabatnya dan turun dari harkat kemanusiaannya menjadi hewan yang hina.

BACA JUGA: Alasan Mengubah Wujud Orang-Orang yang Melampaui Batas Menjadi Kera

Kedua puluh tiga, orang-orang yang mendiamkan kebenaran berhak mendapatkan pengabaian. Mereka juga pantas dilalaikan dan dilupakan karena hinanya mereka di sisi Allah dan manusia.

Kedua puluh empat, jalan hidup untuk selalu dikenang, dikenal, dan tetap abadi adalah jalan yang ditempuh dengan berjuang, bersungguh-sungguh, berjihad, dan bermujahadah karena masyarakat hanya mengingat orang-orang yang ikhlas dan berjuang. Sejarah hanya akan mengingat pada pejuang yang ikhlas. Sangat berbeda antara orang yang hidup terasing, tidak dikenal, serta wafat dengan tidak dikenal dan orang yang dirinya selalu memenuhi pendengaran, penglihatan, dan ingatan manusia, baik semasa hidup maupun kematian.[]

Sumber: Kisah-Kisah dalam Al-Quran: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response