Ibrah

Ketika Rasulullah Ditegur Karena Bersedih terhadap Orang Munafik

foto: unsplash
34views

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 41:

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْكُفْرِ مِنَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِاَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوْبُهُمْ ۛ وَمِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا ۛ سَمّٰعُوْنَ لِلْكَذِبِ سَمّٰعُوْنَ لِقَوْمٍ اٰخَرِيْنَۙ لَمْ يَأْتُوْكَ ۗ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ مِنْۢ بَعْدِ مَوَاضِعِهٖۚ يَقُوْلُوْنَ اِنْ اُوْتِيْتُمْ هٰذَا فَخُذُوْهُ وَاِنْ لَّمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوْا ۗوَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ فِتْنَتَهٗ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهٗ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَمْ يُرِدِ اللّٰهُ اَنْ يُّطَهِّرَ قُلُوْبَهُمْ ۗ لَهُمْ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖوَّلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

“Wahai Rasul (Muhammad), janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, ‘Kami telah beriman’, padahal hati mereka belum beriman; dan juga orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar (berita-berita) bohong dan sangat suka mendengar (perkataan-perkataan) orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya. Mereka mengatakan, ‘Jika ini yang diberikan kepadamu (yang sudah diubah) terimalah, dan jika kami diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah’. Siapa yang dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, sedikit pun engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya). Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dikehendaki Allah untuk menyucikan hati mereka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat akan mendapat azab yang besar.”

Pada ayat ini, Allah berfirman tentang kisah orang-orang Yahudi dan sifat-sifat mereka. Ketika itu, terjadi perzinaan di antara mereka sehingga mereka ingin berhukum kepada Nabi Muhammad ﷺ. Padahal, hukum tersebut telah tertulis di dalam Kitab Taurat mereka.

BACA JUGA: Empat Macam Pernikahan Zaman Jahiliyah

Dari Al-Bara’ bin Azib, beliau berkata, “Suatu ketika, seorang Yahudi, yang wajahnya dicat hitam orang dan dicambuk, lewat di hadapan Nabi ﷺ. Maka, beliau memanggil mereka seraya bersabda, ‘Beginikah hukuman zina yang  kalian dapat di dalam Kitab Taurat kalian?’ Mereka menjawab, ‘Ya benar’. Lalu, beliau memanggil seorang laki-laki yang tergolong dari ulama mereka, beliau bertanya, ‘Aku mengharap kamu mau bersumpah dengan nama Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, betulkah begini caranya hukuman zina yang kalian dapati dalam kitab tauratmu?’

Dia menjawab, ‘Tidak, seandainya engkau tidak menyumpahku dengan nama Allah, aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepada engkau. Yang kami ketahui dalam Kitab Taurat hukumannya adalah rajam, tetapi biasanya hukuman itu tidak berlaku bagi pembesar-pembesar kami. Jika yang tertangkap itu dari pembesar, maka kami biarkan begitu saja. Namun, jika yang tertangkap adalah rakyat kecil, kami tegakkan hukum sesuai Taurat. Akhirnya, kami bermusyawarah, membicarakan hukum yang dapat kami tegakkan bagi pembesar dan rakyat biasa. Lalu, kami putuskan untuk menghitamkan wajahnya dengan arang (tahmim) dan mencambuk pelaku zina sebagai pengganti hukum rajam.’

Setelah laki-laki itu selesai berbicara, maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Ya Allah, sesungguhnya akulah orang yang pertama-tama menghidupkan kembali perintahmu yang telah mereka hapuskan’. Setelah itu, beliau memerintahkan supaya Yahudi yang berzina itu dihukum rajam, lalu Allah menurunkan ayat, ‘(Wahai Rasul, janganlah kamu merasa sedih karena orang-orang yang bersegera menuju kekafiran… Jika diberikan ini kepadamu maka terimalah)’. Orang-orang Yahudi berkata, ‘Datanglah kalian kepada Muhammad ﷺ. Jika beliau memutuskan hukuman kepadamu dengan arang (tahmim) dan cambuk, maka terimalah. Namun, jika dia memutuskan kepadamu dengan hukuman rajam maka waspadalah.

Maka, Allah menurunkan ayat, ‘Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Dan siapa tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Dan siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik‘. (QS. Al-Ma’idah [5]: 44-47). Hal ini juga berlaku untuk seluruh orang kafir.”

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata, “Seorang laki-laki Yahudi berzina dengan seorang wanita. Lalu, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Mari kita mendatangi nabi ini (Muhammad ﷺ) karena ia adalah seorang nabi yang diutus dengan membawa kemudahan-kemudahan dalam syariat. Jika nanti ia memberi fatwa kepada kita dengan hukuman selain rajam, maka hendaklah kita terima, lalu kita gunakan sebagai hujjah di sisi Allah, ‘Ini adalah fatwa dari seorang Nabi di antara para nabi-Mu’. Akhirnya, mereka mendatangi Nabi ﷺ yang sedang duduk-duduk di masjid bersama para sahabatnya.

Mereka mengatakan, ‘Wahai, Abu Al-Qasim, apa pendapatmu jika laki-laki dan perempuan melakukan perzinaan?’ Beliau tidak memberi mereka jawaban sepatah kata pun sampai beliau mendatangi tempat mereka mengaji. Beliau lalu berdiri di depan pintu seraya bersabda, ‘Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, hukuman apa yang kalian dapati dalam kitab suci kalian bagi pezina yang telah menikah?’ Mereka menjawab, ‘Wajahnya dilumuri arang, lalu dinaikkan himar (dengan saling membelakangi), lalu diarak dan dicambuk’. Seorang pemuda dari mereka terdiam. Ketika Nabi ﷺ melihat pemuda itu terdiam, beliau menguatkan sumpah kepadanya agar ia memberi jawaban. Ia pun berkata, (Ya Allah) jika engkau (Muhammad) bersumpah kepada kami, maka sesungguhnya kami mendapati dalam Kitab Taurat adalah hukuman rajam.'”

BACA JUGA: Mereka yang Telah Melakukan Kekafiran yang Luar Biasa

Allah mengawali ayat ini dengan firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ لَا يَحْزُنْكَ

“Wahai Rasul (Muhammad) janganlah engkau disedihkan”

Ini adalah panggilan Allah kepada nabi-Nya, “Wahai Rasul” atau “wahai Nabi”.

Rasulullah ﷺ melihat ada sebagian orang yang memeluk agama Islam, tetapi ternyata dia adalah seorang munafik lalu menampakkan kekufurannya. Tentu saja, hal ini membuat Rasulullah merasa sedih. Begitu cepatnya orang itu menampakkan kekufurannya. Padahal, Rasulullah menyangka bahwa dia telah memeluk agama Islam dengan sepenuhnya. Rasulullah ﷺ merasa sedih karena sebagian orang yang mungkin shalat di belakang beliau ternyata adalah orang munafik.

Wajar jika Rasulullah merasa sedih sehingga Allah menegur beliau, “Janganlah engkau sedih“. Tentang hal ini, Syaikh Al-Sa’di berkata, “Allah menegur Nabi Muhammad ﷺ agar beliau tidak berduka dan merasa sedih terhadap orang-orang yang semisal dengan mereka (orang-orang munafik) karena mereka tidak ada kedudukannya. Kehadiran mereka sama sekali tidak memberikan manfaat dan ketiadaan mereka sama sekali tidak memberikan pengaruh “.

Tidak ada faedahnya bersedih terhadap orang-orang munafik. Yang pantas disedihkan adalah jika ada orang yang beriman, lalu terjerumus kepada kemaksiatan. Beda halnya dengan mereka, yang sejak mulanya memang munafik. Justru, apabila mereka berada di barisan Rasulullah ﷺ, maka mereka membahayakan kaum Muslimin. Karena itulah, Allah menegur beliau ﷺ agar tidak sedih tatkala orang-orang munafik menampakkan kekufurannya.

Selanjutnya firman Allah:

الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْكُفْرِ مِنَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِاَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوْبُهُمْ ۛ

“Karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, ‘Kami telah beriman padahal hati mereka belum beriman.'”

Di antara orang-orang kafir, ada yang giat dan bersegera menampakkan kekufuran mereka dan ada juga yang sikapnya biasa saja di dalam kekufuran mereka. Kalangan pertama itulah termasuk golongan yang membuat Rasulullah ﷺ merasa sedih. Selain itu, golongan yang membuat beliau sedih adalah orang-orang Yahudi yang hidup berdampingan dengan beliau.

BACA JUGA: Mengenal Kelapangan Dada Seorang Nabi

Firman Allah:

وَمِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا

“Dan juga orang-orang Yahudi”

Rasulullah ﷺ disedihkan oleh orang-orang Yahudi karena beliau berharap mereka akan beriman. Namun, ternyata mereka menentang Rasulullah ﷺ. Mereka tidak menunjukkan keimanan mereka, bahkan justru menampakkan pertentangannya kepada beliau.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT-TAYSIR SURAH AL-MA’IDAH, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response