Tafsir

Sifat-Sifat Kaum Pengganti Kaum Murtad

Foto: Unsplash
22views

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 54:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا

“Hai orang-orang yang beriman.”

Ketika kita mendengar seruan “orang-orang yang beriman” maka itu memotivasi kita untuk mengamalkan perintah Allah sebagai bukti keimanan kita. Semakin kita mengamalkan perintah-Nya maka semakin tinggi pula iman kita. Demikian sebaliknya, semakin kita tinggalkan perintah-Nya maka akan semakin berkurang iman kita.

Firman Allah:

مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ

“Siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum.”

Ternyata muncul orang-orang yang murtad pada zaman Abu Bakar. Lebih dari satu jenis kemurtadan yang muncul. Ada yang murtad karena menolak zakat, ada pula yang murtad karena beriman kepada nabi baru.

BACA JUGA: Cobaan-Cobaan bagi Orang Beriman: Penjelasan Surah Al-Buruuj (85) Ayat 4

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa jika ada yang murtad maka Allah akan mendatangi dengan suatu kaum yang baru. Allah menyifati kaum baru tersebut dengan firman-Nya:

يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ

“Yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.”

Ini adalah dalil bahwa Allah bisa mencintai dan dicintai. Inilah akidah Ahlus Sunnah yang menetapkan sifat cinta bagi Allah dan banyak sekali dalil yang menyebutkan secara lugas bahwa Allah mencintai para hamba-Nya. Di antaranya adalah ayat ini. Tentunya, cinta Allah tidak sama dengan cinta manusia. Allah berfirman dalam Surah Asy-Syura (42) ayat 11:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”

Merupakan suatu karunia yang sangat besar jika seseorang mendapatkan kecintaan Allah. Dalam sebuah Hadis Qudsi disebutkan bahwa Allah berkata, “Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya, dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari No. 6502)

Umumnya, rasa cinta terjadi pada yang selevel. Adapun kepada yang levelnya di bawah maka yang timbul adalah rasa kasihan dan bukan cinta. Namun, Allah bisa mencintai para hamba-Nya yang tidak sebanding dengannya. Allah bisa mencintai para hamba-Nya yang penuh dengan kehinaan, kekurangan, dan kerendahan. Karena itu, seseorang hendaknya berusaha untuk meraih kecintaan Allah. Ibnu Qayyim berkata, “Perkara yang menakjubkan bukan pada apakah engkau mencintai Allah, melainkan yang menakjubkan adalah pada apakah engkau dicintai oleh Allah.”

Pada ayat ini, Allah menyebutkan bahwa jika ada suatu kaum yang murtad maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. Kemudian Allah juga menyebutkan sifat mereka yang lain,

اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ

“Yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.”

Maksudnya, mereka bersikap tawadhu atau rendah hati kepada sesama Mukmin. Para ulama menjelaskan bahwa indikasi seseorang dicintai oleh Allah adalah dia bersikap tawadhu. Semakin tinggi iman dan amalnya maka ia pun semakin tawadhu, bukan malah merasa tinggi, sombong, dan merendahkan sesamanya. Adapun terhadap orang kafir, maka seorang Mukmin tidak merendahkan dirinya karena orang kafir itu rendah di hadapan Allah, sementara orang Mukmin mulia di hadapan Allah dengan keimanannya.

Sungguh sangat ironis jika ada Mukmin yang merendahkan sesama kaum Mukminin tetapi bersikap merendah dan lemah lembut terhadap kaum kafir. Itulah contoh sifat tercela.

BACA JUGA: Ciri-Ciri Orang Beriman: Penjelasan Surah Al-Balad (90) ayat 17

Setelah itu, Allah menyebutkan sifat lainnya dengan berfirman,

يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

“Yang berjihad di jalan Allah.”

Yaitu, mereka berjihad di jalan Allah. Mereka tidak berjihad karena alasan duniawi atau karena semangat kesukuan. Namun, tidak semua orang yang berjuang itu benar-benar berjihad di jalan Allah.

Kemudian, Allah menyebutkan sifat mereka yang lain,

وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗ

“Dan yang tidak takut kepada celaan atau cercaan orang yang suka mencela.”

Pada ayat ini, Allah menyebutkan dua bentuk kata yang umum, yakni:

Pertama, “celaan/cercaan”, maksudnya mereka tidak takut dan tidak peduli dengan celaan apa pun, baik cercaan terhadap diri, keluarga, ilmu, fisik, dan lain sebagainya.

Kedua, “orang yang suka mencela/mencerca”, maksudnya mereka juga tidak peduli celaan dari mana pun asal celaan tersebut, baik dari orang yang jauh, dekat, kerabatnya, tetangganya, dan lain sebagainya. Yang penting, dia berjalan di atas jalan Allah. Ini penting bahwa jika kita sudah berjihad/berdakwah di jalan Allah maka jangan kita pedulikan celaan orang lain. Namun, tentunya kita pun harus tetap berusaha berdakwah dengan cara terbaik dan penuh hikmah. Jika kita telah berusaha semampunya untuk itu, tetapi tetap ada yang mencela, maka tidak perlu kita pedulikan.

Inilah sifat-sifat yang Allah sebutkan tentang mereka dalam ayat ini yakni:

Pertama, Allah mencintai mereka.

Kedua, mereka mencintai Allah.

Ketiga, tawadhu terhadap orang-orang beriman.

Keempat, menunjukkan wibawa dan kemuliaan di hadapan orang-orang kafir.

Kelima, berjihad di jalan Allah.

Keenam, tidak takut dengan celaan orang yang mencela.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Keimanan Harus Disertai dengan Istighfar

Firman Allah,

ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Agar seseorang tidak ujub, Allah menegaskan bahwa enam sifat tersebut semata-mata karena Allah memberikan karunia kepada orang yang Allah kehendaki.

Sebagian ulama berpendapat bahwa وَاسِعٌ merupakan salah satu nama Allah. Berdasarkan hal tersebut, seseorang boleh berdoa dengan memanggil Allah. “Yaa wasi’al maghfirah” atau “Yaa wasi’an ni’am” (“Wahai Yang Mahaluas ampunannya” atau “Wahai Yang Mahaluas karunianya”).

Allah berfirman dalam ayat yang lain, yakni dalam Surah An-Najm (53) ayat 32:

اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ 

“Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya.”

Allah juga berfirman dalam Surah Ghafir (40) ayat 7:

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَّعِلْمًا

“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu.”

Termasuk di antara luasnya karunia Allah adalah Allah memberikan enam sifat tersebut kepada yang Allah kehendaki dari para hambanya. Karunia Allah bukan hanya sekadar materi, melainkan juga termasuk sifat-sifat mulia yang bahkan itulah karunia yang sangat besar.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-MA’IDAH, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response