Tafsir

Allah Berbicara Dengan Sesuatu yang Didengar

foto: Pixabay
39views

Allah berfirman dalam Surah Thaha (20) ayat 14:

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Ada tiga makna yang disebutkan oleh ahli tafsir terkait firman-Nya وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِ yaitu:

Pertama, Ia merupakan perintah untuk selalu berdzikir kepada Allah dan selalu mengingat-Nya karena ia adalah ibadah yang sangat agung dan sangat disenangi oleh Allah.

Kedua, perintah untuk mendirikan shalat, yang dengannya Allah akan mengingat seseorang secara khusus. Jika Anda ingin diingat dan diperhatikan secara khusus oleh Allah maka dirikanlah shalat. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 152:

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Allah mengetahui dan mengingat keadaan semua hamba-Nya tanpa terkecuali. Hanya saja, Allah mengingat secara lebih khusus mereka yang menegakkan shalat.

BACA JUGA: Penjelasan Tentang Allah Ber-Istiwa’ di Atas Arsy

Ketiga, Ia adalah perintah untuk segera menegakkan shalat yang terlupakan langsung ketika mengingatnya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ: “Barang siapa yang lupa dari shalat, maka segeralah dia shalat ketika dia ingat. Dan tidak ada kaffarah baginya. (Dirikanlah shalat ketika mengingatku).”

Jika seseorang ketiduran dan baru bangun jam 09.00 pagi maka hendaknya ia langsung shalat Subuh meskipun pada jam 09.00 pagi. Atau ketika seseorang lupa untuk shalat Dzuhur dan baru mengingatnya ketika akan memasuki waktu Maghrib, maka hendaknya ia segera shalat Dzuhur saat itu juga meskipun itu waktu terlarang.

Ayat ini merupakan dalil bahwa Allah dapat berbicara dengan suara yang didengar, dengan bahasa apa saja yang Ia kehendaki, dengan topik apa saja yang Ia kehendaki, dengan siapa saja yang Ia kehendaki, dan kapan pun Ia menghendakinya. Oleh karenanya Allah disebut dengan Maha Berbicara. Demikianlah akidah yang benar, akidah Ahlussunnah Wal Jamaah, bahwasanya Allah berbicara dengan Nabi Musa, berbicara dengan Nabi Muhammad ﷺ, dan dengan siapa saja yang Ia kehendaki.

Adapun para Ahlul bid’ah, seperti pada Asya’irah, mereka tidaklah bisa memahami dan menerima hal ini. Mereka mengklaim bahwa Allah berbicara tanpa suara dan tanpa huruf. Menurut mereka, Allah hanyalah berbicara dengan bahasa jiwa yang tidak ada bahasanya. Dasar keyakinan mereka ini diambil dari Aristoteles dan Plato, bahwasanya Tuhan haruslah statis sejak zaman Azali, tidak boleh mengalami perubahan sama sekali. Jika Allah berbicara dengan suara, maka berarti ada sesuatu yang baru didengar yang keluar dari Allah, yang dengannya Allah tidak lagi bersifat jamid atau statis. Mereka terkungkung dalam jeruji ideologi para filosof, yang akhirnya membuat mereka menolak ayat-ayat yang jelas menyatakan bahwasanya Allah berbicara dengan nabi Musa dengan sesuatu yang didengar.

BACA JUGA: Bantahan Terhadap Pendapat yang Menyatakan Allah Punya Anak

Hal ini juga membuat mereka mengklaim bahwa Al-Quran bukanlah kalam atau ucapan Allah, melainkan hanyalah bahasa jiwa Allah yang diungkapkan dengan kalam Nabi Muhammad. Layaknya seorang bisu yang tidak bisa berbicara, yang isi hatinya haruslah diungkapkan kembali oleh si penerjemah. Ini adalah keyakinan yang sesat nan menyesatkan.

Perhatikan firman Allah dalam ayat 14 di atas.

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Mungkinkah ketika mewakili Allah, malaikat akan mengatakan hal semacam ini? Tentu tidak mungkin! Ucapan semacam ini hanya berhak diucapkan oleh Allah sendiri, dan siapa pun selain-Nya yang mengucapkannya maka ia telah kafir.

Andai ayat ini berbunyi, “Sesungguhnya Dia adalah Allah… ” dan seterusnya dengan kata ganti Dia, maka masih bisa kita terima jika dikatakan bahwa ini adalah perkataan malaikat.

Allah berfirman tentang malaikat dalam Surah Al-Anbiya (21) ayat 29:

وَمَنْ يَّقُلْ مِنْهُمْ اِنِّيْٓ اِلٰهٌ مِّنْ دُوْنِهٖ فَذٰلِكَ نَجْزِيْهِ جَهَنَّمَۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الظّٰلِمِيْنَ ࣖ

Dan barang siapa di antara mereka mengatakan, “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain daripada Allah” maka orang itu kami beri balasan dengan jahanam demikian kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Kemahaesaan Allah

Manusia yang berkesempatan berbicara dengan para malaikat ada banyak, baik dari kalangan para nabi maupun selain mereka. Lantas, jika ternyata pada momen ini yang berbicara dengan Nabi Musa adalah malaikat, lalu apa makna gelar kalimullah dan al-kaliim bagi Nabi Musa?

Perhatikan pada firman Allah sebelumnya

وَاَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوْحٰى

Dan Aku telah memilih kamu maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu.

Ini menunjukkan bahwa memang ketika itu Allah berbicara dengan suara yang dapat didengar oleh Nabi Musa yang berbunyi, “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response