Kisah Al-Quran

Kisah Abrahah yang Ingin Menghancurkan Ka’bah (Bagian Pertama)

foto: Pixabay
56views

Surah Al-Fil merupakan surah ke 105. Surah ini terdiri dari 5 ayat. Surah Al-Fil artinya “gajah”. Surah Al-Fil tergolong Surah Makkiyah. Surah ini menceritakan kisah yang sangat masyhur, yaitu ketika Abrahah bersama tentara gajahnya ingin menghancurkan Ka’bah di Kota Mekkah.

Dalam tafsirnya, Al Hafiz Ibnu Katsir menceritakan bagaimana Allah menghancurkan tentara bergajah tersebut. Dalam kisah Ashabul Ukhdud, disebutkan bahwa Dzu Nuwas, Raja Himyar terakhir, adalah seorang musyrik. Dia-lah yang membunuh sekitar 20.000 Ashabul Ukhdud yang beragama Nasrani dengan membakar mereka. Hanya satu orang bernama Daus Dzu Tsa’laban yang selamat dan lolos dari pembakaran tersebut. Lalu, ia meminta bantuan kepada Raja Syam yang juga beragama Nasrani. Maka, Raja Syam menulis surat yang ditunjukkan kepada An-Najasyi, Raja Habasyah. Surat itu berisi permohonan Raja Syam agar Raja Najasyi membantu Daus karena posisi dan lokasi An-Najasyi—di Habasyah—lebih Dekat Ke Yaman. Raja Najasyi pun mengutus pasukan besar yang dipimpin oleh dua orang panglima, yaitu Aryath dan Abrahah bin Ash-Shabah Abi Yaksum.

Pasukan besar ini menyerang dan berhasil menguasai seluruh Yaman. Mereka berhasil merampas kerajaan dari Himyar. Sementara itu, Dzu Nuwas sendiri mati tenggelam di laut. Maka, orang-orang Habasyah menguasai kerajaan Yaman di bawah perintah kedua panglima, yaitu Aryath dan Abrahah. Namun, mereka kedua berselisih paham ketika memerintah. Keduanya pun bertengkar dan bersiap-siap untuk berperang. Maka, salah satu dari keduanya berkata, “Kita tidak perlu melibatkan pasukan dalam peperangan. Kita berdua sajalah yang berduel satu lawan satu. Siapa pun yang menang di antara kita, dia-lah yang memerintah kerajaan ini.”

Usulan ini disetujui. Maka, keduanya berduel satu lawan satu. Aryath menyerang Abrahah. Dia menebaskan pedangnya hingga memotong hidung Abrahah. Pedangnya juga merobek mulut dan mengoyak wajah Abrahah. Kemudian, datanglah ‘Ataudah, seorang pengawal setia Abrahah. Ia menyerang Aryath hingga berhasil membunuhnya. Abrahah pun pulang dalam keadaan terluka. Kemudian, lukanya diobati hingga sembuh dan akhirnya menjadi satu-satunya penguasa Yaman.

BACA JUGA: Kisah Kaum Tsamud

Akibat peristiwa itu, An-Najasyi mengirim surat kepada Abrahah. Ia menyalahkan Abrahah atas tindakannya. Bahkan, ia berjanji dan bersumpah akan menginjak-injak (menyerang) Yaman dan mencukur ubun-ubun Abrahah. Lalu, Abrahah pun mengirim utusan untuk meluluhkan hati Raja An-Najasyi. Ia juga mengirimkan banyak hadiah dan bingkisan yang ditambah dengan sebuah kantong berisi tanah Yaman dan rambut ubun-ubun yang telah dicukurnya. Abraham mengirim semua itu melalui utusannya disertai sepucuk surat bertuliskan “Baginda Raja bisa menginjakkan kaki di atas tanah dalam kantong ini sehingga bisa memenuhi sumpah (yang telah raja ucapkan), dan inilah rambut ubun-ubun ku. Aku mengirimkannya kepadamu.” Ketika surat tersebut sampai kepada An-Najasyi, ia mengagumi tindakan Abrahah dan akhirnya menerima serta menyetujui perbuatannya.

Abrahah juga ingin mengirim surat kepada An-Najasyi dengan mengatakan, “Sesungguhnya, aku akan membangun sebuah gereja yang belum pernah dibangun sebelumnya di negeri Yaman.” Kemudian, Abrahah pun menjalankan proyek pembangunan gereja yang megah di Shan’a, ibu kota Yaman. Bangunan dan altarnya menjulang tinggi. Semua sisi gereja itu dihias dengan megah. Orang Arab menyebutnya dengan Al-Qullais karena ketinggiannya. Maksudnya, jika orang melihat gereja tersebut dari bawah,peci (qulunsuwah) yang dikenakannya hampir jatuh dari kepalanya karena tingginya bangunan tersebut. Abrahah Al-Ashram ingin orang-orang Arab memusatkan haji atau ibadahnya di gereja tersebut sehingga tidak lagi berpusat di Ka’bah atau Mekkah. Dia menyerukan dan mengumumkan tekadnya itu di seluruh wilayah kekuasaannya sehingga orang-orang Arab dari suku Adnan dan suku Qahthan pun membencinya.

Mendengar tekad dan niat Abrahah tersebut, kaum Quraisy juga menjadi sangat marah. Pada suatu malam, salah seorang dari mereka mendatangi gereja itu. Ia membuat kerusakan dan kerusuhan di dalamnya, lalu pulang sebelum siang hari. Muqatil Bin Sulaiman menceritakan bahwa beberapa pemuda Quraisy memasuki gereja tersebut pada malam hari. Lalu, mereka menyalakan api di dalamnya, sedangkan pada hari itu cuaca sangat panas. Akibatnya, gereja itu pun terbakar dan ambruk.

BACA JUGA: Kisah Kaum ‘Ad, Kaum Sombong yang Diterbangkan Angin

Ketika para penjaga gereja melihat kejadian tersebut, mereka melaporkan hal itu kepada Abrahah. Mereka berkata, “Baginda Raja, perbuatan Ini pasti dilakukan oleh sebagian orang Quraisy. Mereka kesal kepadamu karena telah menjadikan gereja ini sebagai tandingan bagi bait (rumah) mereka (Ka’bah).” Lalu, Abrahah bersumpah bahwa ia akan menyerang dan menghancurkan Ka’bah di Mekkah. Karena itulah, Abrahah bersiap-siap pergi ke Mekkah dengan membawa pasukan yang berjumlah besar dan kuat. Abrahah sendiri mengendarai gajah yang sangat besar dan belum pernah ada sebelumnya. Gajah yang dinamakan Mahmud merupakan pemberian Najasyi (Raja Habasyah). Ada yang mengatakan bahwa Abrahah membawa 8 ekor gajah, sementara riwayat lain mengatakan 12 ekor gajah–wallahu  a’lam. Gajah-gajah itu dimaksudkan untuk menghancurkan Ka’bah dengan cara mengikat setiap sudut Ka’bah dengan rantai, sementara rantai itu dikalungkan di leher mereka. Jika gajah itu dihalau, tembok Ka’bah akan runtuh dengan sekali tarikan saja. [bersambung]

 

SUMBER: TAFSIR JUZ AMMA, karya Ust. Firanda Andirja

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response