Tafsir

Keistimewaan Waktu Dhuha

Foto: Unsplash
49views

وَالضُّحٰىۙ

Demi waktu Dhuha (ketika matahari naik sepenggalah)

 

Penjelasan Ayat

Para ulama mempunyai dua pendaoat tentang makna wadh-dhuha sebagaimana perbedaan mereka tentang makna wadhuhaha pada tafsir ayat pertama Surah Asy-Syams.

Pendapat Pertama, sebagian ulama berpendapat bahwa adh-dhuha adalah annaharu kulluhu (keseluruhan waktu siang). Mereka berdalil dengan ayat setelahnya wallaili idza saja “Demi malam apabila telah sunyi”, yaitu Allah bersumpah dengan malam. Artinya, Allah sedang bersumpah dengan lawannya sehingga tafsir ayat wadh-dhuha “Demi Dhuha” adalah wan-nahari “Demi siang”. Hal ini dapat dijumpai dalam ayat lain. Allah terkadang menyebutkan Dhuha yang maksudnya adalah siang, seperti dalam firman-Nya dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 97-98:

اَفَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَّهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَۗ(97) اَوَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَّهُمْ يَلْعَبُوْنَ (98)

Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? (97) Atau, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang di waktu dhuha (yaitu siang hari) ketika mereka sedang bermain? (98)

Para ahli tafsir berpendapat bahwa Dhuha pada ayat tersebut adalah siang. Hal ini karena azab Allah datang pada malam hari—ketika orang-orangs sedang tidur—atau siang hari—saat mereka beraktivitas. Ayat tersebut diungkapkan dengan menggunakan kata Dhuha untuk menunjukkan siang. Oleh karena itulah, Dhuha kadang-kadang diartikan sebagai siang.

BACA JUGA: Tafsir Surat Al ‘Ashr

Pendapat Kedua, sebagian ulama lain mengatakan bahwa adh-dhuha maksudnya adalah waktu Dhuha, bukan siang. Mereka berdalil bahwa seandainya Allah ingin bersumpah dengan siang, Allah pasti akan mengatakan wan-nahari dan bukan wadh-dhuha. Ketika Allah menyebutkan Dhuha, hal itu menunjukkan waktu khusus dam bukan bermakna siang, tetapi waktu Dhuha itu sendiri. Dhuha adalah waktu yang spesial karena beberapa hal berikut:

  • Waktu ketika matahari menyingsing;
  • Awal datangnya sinar matahari yang memberi manfaat kepada manusia;
  • Waktu disyariatkannya shalat sunah Dhuha
  • Waktu ketika Allah berbicara dengan nabi Musa a.s.;
  • Waktu ketika para penyihir Fir’aun akhirnya beriman.

Ada sebagian ahli tafsir yang menafsirkan adh-dhuha dengan: “Hamba-hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya di waktu Dhuha.”

Pada intinya, Dhuha adalah waktu yang penting. Waktu Dhuha dimulai kurang lebih 15 menit setelah matahari muncul hingga kurang lebih 10 menit sebelum waktu adzan Dzuhur. Jadi, Dhuha adalah waktu sejak matahari terbit dan meninggi hingga sebelum waktu zawal—menjelang adzan Dzuhur. Selama itulah kita diperbolehkan menunaikan shalat Dhuha. Namun, waktu shalat Dhuha yang terbaik adalah ketika panas matahari mencapai puncaknya sehingga pasir pun terasa panas, yaitu sekitar jam 10 pagi, jam setengah 11, atau jam 11. Nabi ﷺ bersabda: “Shalatnya awwabin (orang-orang yang selalu kembali kepada Allah) adalah tatkala kaki anak-anak unta kepanasan (karena panasnya pasir yang dipijaknya)

BACA JUGA: Pahala Terbaik Bagi Mereka yang Berbuat Baik

Yang disebut dengan shalat awwabin adalah shalat Dhuha. Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada yang memelihara shalat Dhuha kecuali orang yang kembali kepada Allah.” Beliau bersabda, “Dia adalah shalat awwabin (shalat orang-orang yang kembali kepada Allah!).

Pada waktu tersebut, orang-orang sedang berada di puncak aktivitasnya—mereka disibukkan dengan pekerjaan dan dunianya masing-masing. Oleh sebab itulah, orang yang menyempatkan waktunya untuk mengerjakan shalat Dhuha sangatlah beruntung.[]

 

Sumber: Tafsir Juz Amma, karya Firanda Andirja

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response