Historia/Tarikh

Rasulullah Kembali ke Haribaan Ilahi (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

41views

Tanda-Tanda Perpisahan

Ketika dakwah telah sempurna dan Islam telah menguasai keadaan, tanda-tanda perpisahan dengan kehidupan dan orang-orang yang hidup mulai muncul. Ini bisa ditangkap dari sabda dan tindakan beliau. Di antara tanda-tanda itu adalah:

Pertama, pada bulan Ramadan 10 H, beliau iktikaf di masjid selama 20 hari, padahal sebelumnya beliau tidak iktikaf kecuali hanya 10 hari saja.

Kedua, Jibril menguji bacaan Al-Quran dari beliau hingga dua kali.

Ketiga, pada pelaksanaan Haji Wada, beliau bersabda, “Aku tidak tahu pasti. Mungkin saja aku tidak akan bisa bertemu kalian lagi setelah tahun itu dengan keadaan seperti ini.”

Keempat, pada waktu melempar jamrah aqabah, beliau juga bersabda, “Pelajarilah manasik kalian dariku karena kemungkinan aku tidak berhaji lagi sesudah tahun ini.”

Kelima, Surah An-Nashr turun pada pertengahan hari-hari Tasyrik.

BACA JUGA: Surah yang Menjadi Pertanda Kematian Rasulullah ﷺ Sudah Dekat

Sebenarnya semua ini bisa dikenali sebagai sesuatu perpisahan yang diisyaratkan beliau. Beberapa firasat lainnya adalah:

Pada awal-awal bulan Safar 11 H, Rasulullah ﷺ pergi ke Uhud, lalu shalat untuk orang-orang yang mati syahid di sana, layaknya orang yang hendak berpisah dengan orang yang masih hidup dan orang yang sudah meninggal. Lalu, beliau menuju mimbar dan berpidato, “Sesungguhnya aku lebih dahulu meninggalkan kalian, aku menjadi saksi atas kalian, dan demi Allah, aku benar-benar akan melihat tempat kembaliku saat ini. Aku telah diberi kunci-kunci perbendaharaan dunia atau kunci-kunci dunia. Dan demi Allah, aku tidak mengkhawatirkan adanya kemungkinan kalian akan menjadi musyrik sepeninggalku, tetapi yang aku khawatirkan kalian akan bersaing dalam masalah dunia.”

Pada suatu malam pertengahan bulan yang sama, beliau pergi ke Baqi’, lalu memintakan ampunan bagi orang-orang yang dikubur di sana. Beliau bersabda, “Salam sejahtera atas kalian, wahai para penghuni kubur. Apa yang kalian hadapi di sana menjadi ringan, seperti apa yang dihadapi manusia. Fitnah datang seperti malam yang gelap gulita, yang belakangan menyusul yang dahulu. Hari akhirat lebih dahsyat pembalasannya daripada di dunia.” Lalu, beliau menggambarkan kepada orang-orang yang dikubur di sana dan bersabda, “Sesungguhnya kami akan menyusul kalian.”

Permulaan Sakit

Pada hari Senin, 29 Safar 11 H, Rasulullah ﷺ menghadiri prosesi penguburan di Baqi’. Dalam perjalanan pulang dari Baqi’ ini, beliau tiba-tiba merasakan pusing di kepala dan panas tubuh langsung melonjak. Orang-orang yang bisa melihat tanda panasnya suhu badan beliau itu dari urat-urat nadi di kepala beliau. Beliau sakit selama 13 atau 14 Hari, dan tetap shalat bersama orang-orang selama 11 dari masa sakit beliau ini.

Pekan Terakhir

Sakit Rasulullah ﷺ semakin lama semakin bertambah parah, sampai-sampai belum bertanya kepada istri beliau, “Di mana giliranku besok? Di mana giliranku besok?” Mereka paham apa yang beliau maksud. Maka, mereka memberi kebebasan kepada beliau untuk memilih. Akhirnya beliau memutuskan untuk berpindah ke rumah Aisyah.

Beliau berjalan dengan dipapah oleh Al-Fadhl bin Al-Abbas dan Ali Bin Abu Thalib sehingga tiba di rumah Aisyah. Beliau berada di sana pada pekan terakhir dari kehidupan beliau. Sementara itu, Aisyah terus-menerus membacakan ayat-ayat perlindungan dan doa-doa lain yang dihafalkannya dari Rasulullah ﷺ sambil meniup ke tubuh beliau dan mengusap-usap tangan beliau mengharapkan berkah.

BACA JUGA: Penegasan Bahwa Nabi Muhammad adalah Manusia Biasa

Lima Hari Sebelum Wafat

Pada hari Rabu, tepatnya lima hari sebelum Rasulullah ﷺ wafat, suhu badan beliau makin tinggi sehingga beliau makin demam dan menggigil. Beliau beserta, “Guyurkan aku dengan air tujuh geriba dari sumur yang berbeda ke tubuhku agar aku dapat menemui orang-orang dan memberikan hasil kepada mereka.” Mereka mendudukan beliau di atas bejana, lalu mengguyurkan air ke tubuh beliau hingga beliau bersabda, “Cukup, Cukup.”

Setelah merasa agak ringan, beliau masuk ke masjid dengan kepala yang diikat, hingga duduk di atas mimbar, lalu berpidato di hadapan orang-orang yang duduk di depan beliau, “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).”

Di dalam riwayat lain disebutkan, “Semoga Allah membinasakan orang orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid (tempat ibadah).”

Beliau melanjutkan, “Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.” Kemudian, beliau menawarkan diri untuk qishash seraya bersabda, “Barang siapa punggungnya pernah dipukul, maka inilah punggungku, silakan membalasnya. Siapa yang merasa kehormatannya pernah kulecehkan, maka inilah kehormatanku. Silakan membalasnya.” Kemudian, beliau turun dari mimbar untuk melaksanakan shalat Dzuhur. Selepas shalat, beliau kembali ke atas mimbar dan duduk di atasnya. Beliau mengulang lagi sabdanya seperti di atas dan juga menyampaikan yang lainnya. Pada saat itu, ada seseorang berkata, “Sesungguhnya Anda mempunyai tanggungan tiga dirham kepada saya.” Maka, beliau bersabda, “Berikan itu kepadanya, wahai Fadhl.”

Kemudian, beliau menyampaikan nasihat berkaitan dengan orang-orang Anshar. “Aku wasiatkan kepada kalian, berbuat baiklah kepada orang-orang Anshar karena mereka adalah orang-orang terdekatku. Mereka telah melaksanakan kewajiban dan apa yang tersisa adalah milik mereka. Terimalah orang yang baik di antara mereka dan maafkanlah orang yang buruk di antara mereka.”

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya manusia akan semakin bertambah banyak, sedangkan orang-orang Anshar semakin sedikit, hingga akhirnya mereka seperti garam dalam makanan. Barang siapa di antara kalian ada yang menangani suatu urusan yang bisa membahayakan dan bermanfaat bagi seseorang, hendaklah dia mau menerima orang yang baik di antara mereka dan memaafkan orang yang baik di antara mereka dan memaafkan yang buruk di antara mereka.”

Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya ada seseorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia menurut kehendaknya ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya.”

BACA JUGA:Antara Abu Bakar Ash-Shiddiq  dan Lelaki Mukmin dari Keluarga Fir’aun 

Abu Sa’id Al-Khudri menuturkan, “Lalu, Abu Bakar menangis sembari berkata, ‘Ayah dan ibu kami sebagai tembusan Anda’. Karena kami merasa heran atas ulah Abu Bakar ini, orang-orang berkata, ‘Lihatlah, orang tua ini. Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah antara diberi kemauan dunia menurut hendaknya ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Lalu, dia malah berkata, ‘Ayah dan ibu kami sebagai tebusan Anda.’ Kata hamba dalam sabda beliau tersebut tidak lain adalah Rasulullah ﷺ sendiri dan, di antara kami, hanya Abu Bakar yang mengetahuinya.’”

Beliau bersabda lagi, “Orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan kedekatan dan harta adalah Abu Bakar. Andai saja aku boleh mengambil kekasih selain Rabb-ku, niscaya aku mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Namun, ini adalah persaudaraan dan kasih sayang Islam. Semua pintu yang menuju ke masjid harus ditutup, kecuali pintu Abu Bakar.’”[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response