Tafsir

TIga Golongan Umat Islam yang Akan Masuk Surga

34views

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 66:

وَلَوْ اَنَّهُمْ اَقَامُوا التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ مِّنْ رَّبِّهِمْ لَاَكَلُوْا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ اَرْجُلِهِمْۗ مِنْهُمْ اُمَّةٌ مُّقْتَصِدَةٌ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ سَاۤءَ مَا يَعْمَلُوْنَ

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan (Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada sekelompok yang jujur dan taat dan banyak di antara mereka yang sangat buruk apa yang mereka kerjakan.”

Sejatinya Tuhan dari orang Muslim, Yahudi, maupun Nasrani adalah sama, yaitu Allah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mendakwahi mereka kepada kebenaran yang seharusnya disepakati tersebut. Tentang hal ini, Allah berfirman dalam Surah Ali-Imran (3) ayat 64:

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.'”

Firman Allah,

لَاَكَلُوْا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ اَرْجُلِهِمْۗ

“Niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka”

Allah menyebutkan bahwa seandainya orang-orang Yahudi dan Nasrani menegakkan Taurat, Injil, dan mereka menjalankan Al-Quran maka mereka akan mendapatkan banyak kenikmatan dari Allah dari atas mereka dan dari bawah mereka. Maksudnya adalah rezeki yang Allah turunkan dari langit dan rezeki yang datang dari bawah berupa tumbuh-tumbuhan yang banyak.

Pada ayat ini, Allah hanya menyebutkan dua golongan dari Ahli Kitab (di antara mereka ada sekelompok yang jujur dan taat dan banyak di antara mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan). Hal ini berbeda dengan umat Islam yang diberikan keistimewaan oleh Allah dengan dibagi menjadi tiga golongan. Allah berfirman dalam Surah Fathir ayat 32:

ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚوَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚوَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.”

Tiga golongan dari umat Islam yang Allah sebutkan bahwa mereka akan masuk surga adalah:

Pertama, golongan orang yang banyak melakukan dosa, tetapi mereka masuk ke dalam surga. Allah menyebutkan golongan ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ “yang menzalimi diri sendiri” terlebih dahulu untuk menunjukkan kasih sayang Allah terhadap mereka. Mereka paling banyak jumlahnya karena banyak melakukan rasa. Namun, Allah mengampuninya dan memasukkan mereka ke dalam surga.

Kedua, golongan pertengahan. Para ulama menjelaskan bahwa مُّقْتَصِدٌ “yang pertengahan” adalah orang yang menjalankan yang wajib-wajib saja, meninggalkan yang haram, mengerjakan sebagian yang sunnah, serta meninggalkan sebagian hal yang makruh.

فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚوَمِنْهُمْ ۚوَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ

Ketiga, golongan yang semangat dalam melakukan kebajikan سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ. Golongan ini adalah mereka yang semangat dalam melakukan segala kebaikan dan berlomba-lomba di dalamnya. Mereka bersemangat dan berlomba-lomba dalam berderma, membangun masjid, menuntut ilmu, berdakwah, menghidupkan sunnah, dan berbagai kebaikan lainnya.

Adapun Ahli Kitab maka tidak demikian. Dalam ayat ini, Allah hanya membagi mereka menjadi dua golongan, yaitu مُّقْتَصِدٌ “Yang pertengahan” dan ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ “yang menzalimi diri sendiri”.

Ibnu Asyur dan Al-Qurthubi menukilkan sebagian pendapat bahwa maksud “yang pertengahan” di sini adalah golongan yang tidak mengolok-olok dan menyakiti kaum Muslimin, meskipun mereka tidak beriman sebagaimana halnya iman kaum Muslimin. Ketidaksukaan golongan ini terhadap kaum Muslimin masih sebatas dalam hati, sedangkan golongan yang kedua maka mereka membenci dengan hati dan dengan melakukan perbuatan yang buruk kepada kaum Muslimin. Adapun golongan سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ “yang berlomba dalam kebaikan’ dari mereka maka hanya terkhususkan bagi sebagian yang sangat kecil dari mereka yang telah masuk ke dalam Islam, misalnya Abdullah bin Salam.[]

SUMBER: TAFSIR AT-TAYSIR SURAH Al-MA’IDAH, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response