Tafsir

Dampak Pelanggaran Janji yang Dilakukan Kaum Bani Israil

Foto: Unsplash
27views

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 13:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

Dampak-dampak dari pelanggaran janji yang mereka lakukan sangat banyak, di antaranya adalah:

Pertama, Allah melaknat mereka. Allah berfirman, “Kami laknat mereka“. Laknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah. Kalau ada orang mendoakan, “Semoga Allah melaknatmu” maka artinya semoga Allah menjauhkanmu dari rahmat-Nya.

Demikianlah, banyak dosa yang muncul disebabkan adanya dosa sebelumnya. Karena itu, terdapat ungkapan, “Sesungguhnya maksiat akan memanggil kemaksiatan yang lain: Wahai saudaraku, ayo kemari!”

BACA JUGA: Sebutan Bagi Bangsa Yahudi yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah

Di dalam Al-Quran, banyak ayat tentang hal ini. Seperti halnya firman Allah dalam Surah Ash-Shaff (61) ayat 5:

 فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka”.

Allah juga berfirman dalam Surah Al-An’am (6) ayat 110:

وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ ۔

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Quran) sejak awal, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat”.

Jadi, di antara hukuman Allah adalah berupa dosa akibat dosa-dosa sebelumnya. Hal ini sebagaimana firman Allah tentang orang-orang Yahudi yang tercantum dalam Surah An-Nisa (4) ayat 160:

فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبٰتٍ اُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَثِيْرًاۙ

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah”.

Begitu juga sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 74:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً ۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُ ۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُ ۗوَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah, lalu keluarlah darinya mata air dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan “.

Allah menyebutkan bahwa hati mereka menjadi keras “setelah itu“. Maksudnya hati mereka menjadi keras setelah diperintahkan untuk menyembelih sapi, tetapi mereka justru kepala batu dan tidak ingin melaksanakan perintah tersebut. Mereka banyak bertanya untuk menghindari perintah. Maka dampaknya hati mereka pun menjadi keras.

Oleh karena itu, hendaklah kita berhati-hati. Jika seseorang melakukan dosa maka segeralah dia bertobat. Jika dia tidak bertobat khawatir dia akan semakin terjerumus pada dosa-dosa berikutnya tanpa ia mampu menyadarinya. Allah berfirman dalam Surah Al-An’am (6) ayat 110:

وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ ۔

“dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat”.

Seseorang yang melakukan dosa terus-menerus akan semakin sulit untuk sadar. Perbuatan dosa seperti keangkuhan, kesombongan, atau kezaliman yang dia lakukan terus-menerus seolah-olah itu akan menjadi hal yang biasa. Ini semua diakibatkan dosa pertama yang dia lakukan. Dengan demikian, jika kita melakukan dosa maka hendaklah kita segera bertobat agar hati kita lembut kembali dan bercak-bercak hitam di hati kita kembali dibersihkan oleh Allah.

BACA JUGA: Allah Menetapkan Bangsa Yahudi Kebingungan di Bumi

Kedua, Allah menjadikan hati mereka keras. Allah berfirman, “Kami jadikan hati mereka keras membatu“.

Terdapat dua qiraah pada kata قٰسِيَةً: pertama dibaca قٰسِيَةً dan kedua dibaca قٰ سِيَةً Kata قٰ سِيَةً maknanya hati yang keras yang sulit menerima nasihat. Sekalipun didatangkan kepadanya beribu-ribu dalil pun hasilnya tidak berubah karena telah mengeras. Adapun قٰسِيَةً artinya kepingan dirham yang telah dicampur dengan logam lainnya. Dirham tersebut tidak murni lagi. Para ulama mengatakan maksud dari kata ini adalah hati mereka telah tercampur dengan kekufuran. Karena mereka melanggar perintah Allah maka hati mereka tercampur dengan kekufuran. Ini sangat berbahaya dan termasuk dampak dari dosa, bahwa ia menyebabkan dosa berikutnya yang kadarnya bertambah parah.

Ketiga, “mereka mengubah firman Allah dari tempatnya“. Ini adalah dampak dari hati mereka yang keras sehingga mereka mengubah tafsir firman Allah. Para ulama mengatakan, disebabkan hati mereka yang telah mengeras, mereka pun berani mengubah firman-firman Allah dari tempatnya. Mereka menafsirkan ayat-ayat Allah tidak sesuai dengan yang Allah inginkan.

Keempat, “dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya“.

Ini adalah akibat berikutnya dari hati mereka yang keras. Allah menjadikan mereka lupa dengan Taurat. Para ulama menafsirkan kata “lupa” dengan dua tafsiran, yakni:

  1. Lupa untuk mengamalkannya, dan

2  mereka dibuat lupa terhadap Taurat.

Keduanya terjadi pada mereka. Mereka tidak menjalankan Taurat dan kemudian lupa terhadapnya..

Kelima, “dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat)“. Perjanjian mereka itu telah ada jauh sebelum zaman Rasulullah ﷺ. Namun, Allah mengatakan kepada Rasulullah ﷺ bahwa Rasulullah ﷺ akan mendapati pengkhianatan mereka tersebut berlanjut hingga zaman beliau. Ini di antara bahaya seseorang yang meninggalkan syariat Allah.

Hati mereka yang kotor berlanjut dari zaman Nabi Musa hingga zaman Rasulullah ﷺ. Demikianlah yang terjadi. Ketika Rasulullah ﷺ membuat perjanjian dengan Bani Qoinuqa’, Bani An-Nadhir, dan Bani Quraizah, semuanya berakhir dengan pengkhianatan. Intinya, inilah sifat mereka akibat dosa yang dilakukan pada zaman dahulu yang dosa itu terus berlanjut dikerjakan secara turun-temurun, kecuali sekelompok kecil dari mereka yang tidak melakukannya.

Firman Allah:

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗ

“maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka”.

Seakan-akan Allah berkata kepada Rasulullah ﷺ bahwa hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka maka maafkanlah mereka. Rasulullah ﷺ pun pada awal-awal Islam membiarkan mereka. Namun, ketika mereka hendak membunuh Rasulullah ﷺ maka baru kemudian Rasulullah ﷺ menyerang mereka. Pada asalnya, Rasulullah ﷺ tetap bersikap baik ketika hidup bermasyarakat dengan mereka yang berkarakter demikian.

BACA JUGA: Pahala Terbaik Bagi Mereka yang Berbuat Baik

Kemudian, firman Allah:

ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang muhsin (yang berbuat baik)”.

Muhsin atau orang yang berbuat ihsan adalah orang yang berbuat baik kepada manusia dan ketika bertindak ia selalu merasa diawasi oleh Allah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ ketika ditanya tentang makna ihsan, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Walaupun kau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Rasa ihsan ini hendaknya kita hidupkan dalam segala ibadah kita. Orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah maka dia adalah orang yang ihsan. Ihsan derajatnya lebih tinggi daripada Islam dan iman. Tidak semua orang bisa mencapai derajat ihsan dan tidak semua orang bisa menghadirkan ihsan ini dalam ibadah maupun muamalahnya. Ihsan bukan hanya berkaitan dengan ibadah kita saja melainkan juga berkaitan dengan muamalah kita sehari-hari.[]

Sumber: Tafsir At-Taysir Surah Al-Ma’idah, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response