Asbabul Nuzul

Asbabun Nuzul Surah An-Nisa (4) ayat 102 dan 105

Foto: Unsplash
99views

Asbabun Nuzul Surah An-Nisa (4) ayat 102:

وَاِذَا كُنْتَ فِيْهِمْ فَاَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلٰوةَ فَلْتَقُمْ طَاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوْٓا اَسْلِحَتَهُمْ ۗ فَاِذَا سَجَدُوْا فَلْيَكُوْنُوْا مِنْ وَّرَاۤىِٕكُمْۖ وَلْتَأْتِ طَاۤىِٕفَةٌ اُخْرٰى لَمْ يُصَلُّوْا فَلْيُصَلُّوْا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوْا حِذْرَهُمْ وَاَسْلِحَتَهُمْ ۚ وَدَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ تَغْفُلُوْنَ عَنْ اَسْلِحَتِكُمْ وَاَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيْلُوْنَ عَلَيْكُمْ مَّيْلَةً وَّاحِدَةً ۗوَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ كَانَ بِكُمْ اَذًى مِّنْ مَّطَرٍ اَوْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَنْ تَضَعُوْٓا اَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوْا حِذْرَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ اَعَدَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit, dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim dan ia menshahihkan hadis ini, dan Al-Baihaqi dalam kitab Dalail An-Nubuwah dari Abi Ayyasy Az-Zuraqi bahwasanya ia berkata, “Pada suatu hari kami bersama dengan Rasulullah ﷺ di daerah yang bernama Asfan, di sana kami bertemu dengan orang-orang musyrik yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Posisi mereka adalah antara kami dan kiblat. Lalu, Rasulullah ﷺ memimpin kami menunaikan shalat Dhuhur. Maka, orang-orang musyrik berkata, ‘Sungguh mereka tadi dalam kondisi lengah dan kita bisa menyerangnya’. Setelah beberapa saat, mereka berkata lagi, ‘Saat ini tiba waktu shalat yang mereka lebih senangi daripada anak-anak dan diri mereka sendiri’. Lalu, Jibril turun kepada Rasulullah ﷺ di antara waktu Dhuhur dan Ashar menyampaikan ayat, ‘Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka… ‘”

At-Tirmidzi meriwayatkan hadis serupa dari Abu Hurairah. Ibnu Jarir juga meriwayatkannya dari Jabir bin Abdullah dan Ibnu Abbas. Dalam hadis serupa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata, “Turun ayat, ‘Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit‘, pada Abdurrahman bin Auf ketika ia menderita luka-luka.

BACA JUGA: Asbabun Nuzul Surah An-Nisa’ (4) ayat 100 dan 101

Asbabun Nuzul Surah An-Nisa (4) ayat 105:

اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرٰىكَ اللّٰهُ ۗوَلَا تَكُنْ لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًا ۙ

Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang khianat.

Sebab Turunnya Ayat

At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan yang lainnya meriwayatkan dari Qatadah bin Nu’man bahwasannya ia berkata, “Di antara kerabat kami ada yang bernama Basyar, Basyir, dan Mubasyar. Mereka adalah anak-anak Ubairiq. Basyir adalah seorang yang munafik, ia merangkai syair untuk mengejek para sahabat Nabi ﷺ dan kemudian mendapatkan imbalan dari beberapa orang Arab, Iya berkata, ‘Si Fulan berkata begini… ‘ dan mereka adalah orang miskin ketika masa jahiliyah dan setelah Islam. Adapun makanan mereka (kaum miskin itu) di Madinah adalah kurma dan gandum saja.

Kemudian, pamanku Rifa’ah bin Zaid, membeli tepung sebanyak satu bawaan unta. Kemudian, ia meletakkannya di salah satu ruangan di dalam rumahnya yang juga terdapat senjata, baju perang, dan pedang miliknya. Lalu, kamarnya itu dibobol dari bawah dan bahan makanan serta senjatanya diambil. Ketika pagi tiba, paman saya, Rifa’ah, mendatangiku lalu berkata, ‘Wahai keponakanku, ruangan di rumah kita dibobol tadi malam. Makanan dan senjata yang ada di dalamnya diambil’.

Kami segera menyelidiki seluruh rumah kami. Kami bertanya kepada orang-orang, lalu ada seseorang berkata, ‘Tadi malam kami melihat anak-anak Ubairiq menyalakan api untuk masuk. Dan kami melihat itu adalah bahan makanan kalian.’ Ketika kami sedang menanyakan tentang hal itu, anak-anak Ubairiq berkata, ‘Demi Allah, menurut kami Labid bin Sahl, salah seorang dari kita yang saleh dan agamanya bagus, yang mencurinya’. Ketika mendengar tuduhan tersebut, Labid langsung menghunus pedangnya dan berkata kepada anak-anak Ubairiq, ‘Apa? Saya mencuri? Demi Allah, pedang ini akan menebas kalian atau kalian akan menjelaskan kebenaran pencurian ini!’ Anak-anak Ubairiq pun berkata, ‘Menjauhlah dari kami. Engkau bukanlah pemilik barang-barang itu (bukan pencuri)’. Lalu, kami menanyakan kembali tentang makanan itu agar kami tidak ragu lagi bahwa mereka benar-benar pemiliknya. Lalu, pamanku berkata kepadaku, ‘Keponakanku, coba engkau temui Rasulullah ﷺ dan kau ceritakan tentang hal ini’.

Lalu, aku menemui Rasulullah ﷺ dan berkatakan kepada beliau, ‘Di antara kerabat kami ada orang-orang yang berwatak keras. Mereka membobol salah satu ruangan di rumahku, lalu mengambil senjata dan bahan makanan yang ada di dalamnya. Kami meminta mereka mengembalikan senjata kami. Adapun makanan, kami tidak lagi membutuhkannya.’ Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Akan saya pikirkan hal ini’. Ketika anak-anak Ubairiq mendengar aduan itu, mereka mendatangi salah seorang dari keluarga mereka yang bernama Asir bin Urwah dan memberitahunya tentang hal itu. Kemudian, beberapa orang dari keluarga mereka berkumpul dan menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qatadah dan pamannya menuduh keluarga kami, yang di mana orang-orangnya baik dan Islamnya pun juga begitu, telah mencuri tanpa ada bukti.’

BACA JUGA: Asbabun Nuzul Surah An-Nisa (4) ayat 95 dan 97

Qatadah berkata, ‘Lalu kami mendatangi Rasulullah ﷺ, kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Engkau menuduh keluarga yang dikenal sebagai orang Islam dan orang baik telah mencuri tanpa ada bukti’. Aku pun kembali ke rumah, lalu saya memberitahu pamanku tentang hal tersebut. Ia pun berkata, ‘Hanya Allah tempat meminta pertolongan’. Tidak lama dari itu, turunlah firman Allah, ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran… ‘. Maksud dari firman Allah, ‘Orang-orang khianat’ adalah orang-orang dari Bani Ubairiq  ‘Dan mohonlah ampun kepada Allah’ wahai Muhammad dari apa yang kau katakan kepada Qatadah.'”

Ketika ayat ini turun, Rasulullah ﷺ menyerahkan senjata itu kepada Rifa’ah. Sedangkan Basyir, ia mendatangi orang-orang musyrik lalu singgah di tempat Sulafah bin Sa’ad. Lalu, Allah menurunkan firman-Nya, “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia. Dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” Al-Hakim berkata, “Riwayat ini shahih sesuai dengan syarat Muslim.”

Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Mahmud bin Labid berkata, “Basyir bin Al-Harits memasuki ruang di atas rumah Rifa’ah bin Zaid, paman Qatadah bin Nu’man, dengan paksa dan membobolnya dari bagian belakang. Lalu, dia mengambil makanannya, baju perangnya, serta peralatan keduanya. Lalu, dia mendatangi Nabi ﷺ dan mengadukan hal itu. Beliau pun memanggil Basyir dan menanyakan hal itu. Namun, ia tidak mengakuinya. Akan tetapi, ia malah menuduh Labid bin Sahl, salah seorang dari keturunan terhormat, yang telah melakukannya. Lalu, Allah menurunkan firman-Nya yang menyatakan kebohongan Basyir dan menjelaskan ketidakbersalahan Labid. “Sungguh, Kami telah menurunkan kitab (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia… ” hingga akhir ayat. Ketika ayat itu turun, Basyir melarikan diri ke kota Mekkah dalam keadaan murtad. Lalu, ia singgah di tempat Sulafah binti Sa’ad kemudian ia menjelek-jelekkan Nabi ﷺ serta orang-orang Muslim lainnya. Maka, turunlah firman Allah padanya, “Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad)… ” hingga akhir ayat.

Hasan bin Tsabit pun mengejeknya dengan syairnya hingga ia kembali pada bulan Rabi’ tahun empat Hijriyah.[]

 

SUMBER: ASBABUN NUZUL: Sebab-Sebab Turunnya Ayat Al-Quran, Karya: Imam As-Suyuthi, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response