Ibrah

Pelajaran Terpenting dari Kisah Sapi Betina

23views

Jika mencermati kisah sapi betina ini, kita akan menemukan ibrah-ibrah penting yaitu sebagai berikut:

Pertama, kewajiban menerima perintah Allah dan hukum-hukum syariat untuk dilakukan, dilaksanakan, dan dipatuhi tanpa syarat. Ini berarti segera melaksanakan dan menunaikan segala yang diperintahkan Allah.

Kedua, tidak mengelak, berkilah, melepaskan diri, dan berpaling dari perintah Allah.

Ketiga, Faktor yang berpengaruh langsung dalam mematuhi atau mengingkari perintah-Nya bergantung pada hati. Apabila hati dipenuhi keimanan kepada Allah, mengagungkan-Nya, dan menghormati perintah-perintah-Nya, seseorang akan memiliki motivasi untuk melaksanakan perintah dengan segera. Hati mengeluarkan perintahnya pada seluruh anggota tubuh sehingga seluruh anggota tubuh akan segera menyambut perintah itu segera. Di sisi lain, apabila hati tidak mengagungkan Allah, tidak menghormati perintah-perintah-Nya, dan tidak ingin melaksanakannya, seorang akan berusaha mencari-cari alasan untuk menaikkan diri dan menghindar dari pelaksanaan perintah seolah-olah hatinya memerintah anggota tubuhnya, tetapi seluruh perangkat tubuhnya lemah semangat untuk melaksanakan perintahnya.

BACA JUGA: Allah Menetapkan Bangsa Yahudi Kebingungan di Bumi

Jika melihat seseorang yang rajin dan bersegera melaksanakan tugas-tugasnya, selalu unggul dalam kebaikan, dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah, kita mengetahui bahwa hatinya sehat, bersungguh-sungguh dan beriman kepada-Nya, serta mengagungkan-Nya. Sebaliknya, jika melihat seseorang yang malas, lama, dan tidak berdaya serta berkelit atau mengalihkan diri dari hukum-hukum Allah, kita mengetahui bahwa ada penyakit dalam hatinya. Ketika letak sarang penyakit dapat diketahui, diagnosis penyakitnya pun akan benar sehingga mudah menjalankan terapi dan akan berhasil pula dalam pembinaan.

Keempat, tidak boleh menyibukkan diri dengan persoalan-persoalan yang sekunder karena tidak akan bermanfaat. Ini juga membuang-buang waktu dan tenaga serta dapat menghalangi seseorang dari melaksanakan perintah-perintah Allah.

Kelima, perintah-perintah Allah cukup dilaksanakan apa adanya sesuai perintah-Nya, tidak perlu menambah atau menguranginya dan tidak perlu memperbanyak pertanyaan serta perincian cabang masalah yang tidak dibutuhkan.

Keenam, pemberatan dan permintaan masalah merupakan sanksi bagi setiap orang yang tidak merasa cukup dengan keterangan ilahiyah. Ini merupakan risiko yang pantas menimpa orang-orang yang berpaling dari jalan yang jelas serta mudah lalu beralih pada perincian rumit dan bercabang yang tidak perlu serta tidak bermanfaat. Orang-orang Yahudi telah memberatkan diri mereka sendiri maka Allah pun memberatkan mereka. Kalau saja sejak awal mereka menyembelih sapi betina apa pun, niscaya sudah diperkenankan-Nya. Oleh karena itu, Allah melarang orang-orang Mukmin untuk membahas perincian masalah yang tidak perlu dan melarang mereka dari bertanya hal-hal yang tidak berguna. Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 101:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَسْـَٔلُوْا عَنْ اَشْيَاۤءَ اِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ ۚوَاِنْ تَسْـَٔلُوْا عَنْهَا حِيْنَ يُنَزَّلُ الْقُرْاٰنُ تُبْدَ لَكُمْ ۗعَفَا اللّٰهُ عَنْهَا ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu (niscaya) menyusahkan kamu. Jika kamu menanyakannya ketika Al-Qur’an sedang diturunkan, (niscaya) akan diterangkan kepadamu. Allah telah memaafkan (kamu) tentang hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Perintah Menyembelih Seekor Sapi Betina

Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ berwasiat kepada kita, “Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan atas kamu haji maka berhajilah.” Seorang laki-laki bertanya, “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ pun terdiam sampai orang tersebut mengulangi ucapannya tiga kali. Beliau ﷺ akhirnya bersabda, “Jika aku katakan, Ya, niscaya menjadi wajib setiap tahun dan niscaya engkau tidak akan mampu.” Beliau ﷺ melanjutkan sabdanya, “Biarkanlah aku memutuskan apa yang tidak aku wajibkan atasmu karena sesungguhnya orang-orang sebelummu binasa karena ulah mereka (dalam) memperbanyak pertanyaan dengan berselisih dengan nabi-nabi mereka.

Apabila Aku perintahkan kalian untuk melaksanakan sesuatu melaksanakan semampu kalian. Jika aku melarang kalian dari sesuatu, tinggalkanlah.” (Shahih Muslim, Kitab Fardhu Al-Hajj Maratan fi Al-‘Umr)

Muslim telah meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang Muslim yang paling besar kesalahannya adalah siapa yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan lalu sesuatu itu menjadi diharamkan bagi manusia karena pertanyaannya.” (Shahih Muslim, Kitab Al-Fadhail)

Ketujuh, kewajiban untuk menghormati para nabi, rasul, dan ulama pejuang, termasuk kewajiban untuk berlaku sopan dalam berbicara dengan mereka atau tentang mereka.

Kedelapan, ulama dan da’i hendaklah pandai mengetuk hati umat Islam dan mencari celah-celah sentimental mereka. Ini dimaksudkan agar mereka dapat terpengaruh dan merespons perintah Allah secara positif dan proaktif. Apabila menemukan pada diri mereka sikap lamban dan sifat malas, ulama dan da’i dapat menangani hal ini dengan penuh hikmah.

Kesembilan, sesungguhnya komitmen dengan perintah-perintah ilahiyah dan melaksanakannya akan mengantarkan diri kita pada kekhusyukan hati, kebaikan diri, dan perbaikan kehidupan. Sebaliknya, tidak komitmen dan tidak melaksanakan perintah ilahiyah akan mengantarkan pada hukuman yang paling keras, yaitu kerasnya hati.

Kesepuluh, Islam menghendaki seorang Muslim untuk menjalankan perintah-perintah Allah dengan penuh vitalitas, kenikmatan, semangat, dan energik serta melibatkan seluruh jiwa raganya agar dapat merasakan nikmatnya berinteraksi proaktif, ikhlas, dan disiplin menjalankan perintah ilahiyah, seperti melibatkan segenap perasaan, akal pikiran, imajinasi, jiwa, indra, dan anggota badan lainnya. Hal ini tidak akan terealisasi, kecuali jika berdisiplin dalam melaksanakan perintah ilahiyah secara tepat dan langsung.

BACA JUGA: Penegasan bahwa Allah telah Berikan Ragam Kenikmatan kepada Bani Israil

Di sisi lain, jika berusaha melarikan diri atau melepaskan diri dari mengerjakan perintah-perintah ilahiyah, gairah seorang Muslim akan menurun, semangatnya melemah, pada perintah Allah serta panca indranya akan kehilangan nikmatnya patuh kepada Allah. Apabila terpaksa melakukannya, dia pun akan menjalankan perintah itu secara dingin dan pasif. Dia melaksanakannya seperti alat atau mesin yang beku.[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang DImuliakan dan Dibinasakan Allah, karya Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response