Tafsir

Penegasan Tentang Pentingnya Memenuhi Janji atau Akad

Foto: Unsplash
38views

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 1:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى الصَّيْدِ وَاَنْتُمْ حُرُمٌۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan hewan buruan sedangkan kalian sedang mengerjakan ihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا

Hai orang-orang yang beriman.

Kalimat ini merupakan ciri-ciri dari surah Madaniyah karena audiensnya adalah para sahabat setelah mereka berhijrah ke Kota Madinah.

BACA JUGA: Orang-Orang yang Beriman Selain Penduduk Mekkah (Bagian Pertama)

Kemudian firman Allah:

اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ

Penuhilah akad-akad itu.

Kata اَوْفُوْا artinya bukan sekadar menunaikan. Asalnya adalah dari kata al-wafa yang artinya menyempurnakan. Sementara itu, al-‘uquud artinya akad-akad atau perjanjian-perjanjian. Hal ini seolah-olah Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman sempurnakanlah janji-janji kalian“.

Allah membuka ayat ini dengan panggilan “Hai orang-orang yang beriman“, lalu melanjutkannya dengan perintah untuk menyempurnakan janji-janji. Hal ini karena yang bisa menunaikan janji dengan sempurna adalah orang yang beriman. Orang yang beriman meyakini adanya hari kebangkitan dan pertanggungjawaban. Oleh karena itu, ketika dia berjanji atau berakad, dia berusaha untuk menyempurnakan akad tersebut sebagai konsekuensi keimanan.

Al-Biqa’i menjelaskan relevansi awal Surah Al-Ma’idah dengan bagian akhir surah sebelumnya, yaitu Surah An-Nisa. Pada bagian akhir Surah An-Nisa, Allah menjelaskan perilaku Yahudi yang melanggar perjanjian sehingga Allah pun menghukum mereka dengan mengharamkan hal-hal baik yang sebelumnya dihalalkan bagi mereka. Oleh karena itu, menjadi relevan apabila di awal Surah Al-Ma’idah tersebut Allah memerintahkan kepada kaum Mukmin untuk menyempurnakan perjanjian, yang terealisasinya dibangun dari hati (keimanan).

Terkait dengan perjanjian dan akad tersebut, pembelajar ilmu agama seharusnya merupakan orang yang paling amanah ketika bermuamalah. Ketika pembelajar ilmu agama tidak amanah, sering menyelisihi janji dan akadnya, maka keimanannya patut dipertanyakan. Syaikh Al-Sa’di menegaskan bahwa konsekuensi keimanan adalah menyempurnakan janji.

Sebagian ulama mengatakan bahwa “janji-janji” di sini bersifat umum, baik janji kepada Allah maupun janji kepada manusia. Oleh karena itu, ketika kita berjanji kepada Allah maka tunaikanlah. Demikian pula halnya janji kepada manusia. Ini juga mencakup kewajiban kita kepada orang tua, istri, suami, dan anak. Begitu pula berkaitan dengan akad-akad muamalah. Kita harus benar-benar memerhatikan janji-janji atau akad-akad kita karena konsekuensi sebagai orang beriman adalah menjalankan hal tersebut dengan sebaik-baiknya.

Para ulama juga mengatakan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa hukum asal dari membuat persyaratan perjanjian adalah boleh. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Kaum Muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati, kecuali syarat yang mengharamkan sesuatu yang halal atau menghalalkan sesuatu yang haram.” Apa pun syarat yang telah disepakati maka hendaklah dijalankan, kecuali syarat tersebut bertentangan dengan syariat. Ini termasuk dari amanah yang telah Allah perintahkan pada firman-Nya, “penuhilah akad-akad itu“.

Perlu ditegaskan kembali bahwa orang beriman tidak boleh menggampangkan perihal akad. Jika telah berakad, baik dengan tertulis maupun dengan lisan, orang beriman berkewajiban untuk memenuhinya dan semua itu ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

BACA JUGA: Orang-Orang yang Beriman Selain Penduduk Mekkah (Bagian Kedua-Habis)

Selanjutnya, firman Allah:

اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ

Dihalalkan bagimu binatang ternak

Tentang hal ini, para ulama berbeda pendapat terkait apa yang dimaksud بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ “binatang ternak”. Namun, mereka sepakat bahwa kambing, sapi, dan unta termasuk dari binatang ternak.

Adapun firman Allah:

اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ

kecuali yang akan dibacakan kepada kalian

Hukum asal dari بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ adalah halal kecuali keharaman yang akan dibacakan kepada kalian. Ini akan dibahas pada ayat ke-3.

Kemudian, firman Allah:

غَيْرَ مُحِلِّى الصَّيْدِ وَاَنْتُمْ حُرُمٌۗ

(Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan hewan buruan sedangkan kalian sedang mengerjakan ihram.

Pada bagian ini, Allah menyebutkan hukum lainnya, yaitu pada asalnya kalian boleh berburu kecuali dalam keadaan ihram. Maksud dari “kalian sedang mengerjakan ihram” adalah sedang ihram haji dan ihram umrah atau sedang di Tanah Haram, yaitu Mekkah dan Madinah.

Firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ

Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

Allah mengatur seluruh hukum-hukum-Nya dan Allah Mahahikmah dalam menentukan hukum-Nya. Semua hukum-hukum yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa Allah menetapkan hukum sesuai dengan kehendak-Nya, dan semua hukum yang Allah kehendaki pasti ada hikmah atau maslahat di dalamnya. Sebagai hamba, kita tidak boleh protes tentang hal itu karena kita semua adalah milik Allah dan diciptakan oleh-Nya. Hanya orang sombong lagi tidak tahu diri yang memprotes hukum Allah.

Kita lihat zaman sekarang ini, banyak orang dari kalangan liberal yang memprotes hukum syariat karena merasa lebih pandai dan lebih tahu tentang maslahat. Maka kita katakan:

اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ

Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

BACA JUGA: Golongan Orang yang Mendapat Keberuntungan Besar

Al-Biqa’i menjelaskan terkait ayat di atas, “Apa yang kalian pahami hikmahnya maka itulah yang diharapkan. Adapun bagian yang belum kalian pahami maka serahkanlah kepada Allah, sembari berharap bahwa Allah akan memberi ilham kepada kalian untuk memahami hikmah-Nya tersebut.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-MA’IDAH, karya: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response