Kisah

Penegasan bahwa Allah telah Berikan Ragam Kenikmatan kepada Bani Israil

Foto: Pixabay
22views

Nabi Musa mengingatkan Bani Israil akan sebagian nikmat Allah atas mereka. Hal ini sebagaimana terungkap dalam seruannya kepada mereka, yakni yang tercantum dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 20:

يٰقَوْمِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَعَلَ فِيْكُمْ اَنْۢبِيَاۤءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوْكًاۙ وَّاٰتٰىكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ

… Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, menjadikanmu (terhormat seperti) para raja, dan menganugerahkan kepadamu apa yang belum pernah Dia anugerahkan kepada seorang pun di antara umat yang lain.

Ayat tersebut mensinyalir sebagian nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada Bani Israil yaitu sebagai berikut:
Pertama, Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dia mengangkat nabi-nabi di antaramu. Keberadaan nabi-nabi di tengah-tengah mereka merupakan salah satu bukti nikmat Allah atas mereka. Para nabi menunjukkan mereka pada kebaikan, mengendalikan mereka dengan kebenaran, dan memimpin mereka menuju kebahagiaan.

Kedua, menjadikanmu (terhormat) para raja. Ini tidak berarti bahwa mereka semua menjadi raja karena tidak masuk akal Jika setiap orang dari mereka menjadi raja. Dengan demikian, makna firman ini adalah, “Engkau sekalian memiliki kapabilitas dan kemampuan untuk menjadi raja bila memiliki momentum yang tepat untuk itu.” Ar-Raghib Alashfahani mengatakan bahwa mulk (kerajaan) itu adalah ada dua macam yaitu sebagai berikut:
1. Mulk adalah menguasai dan berkuasa. Sebagai contoh, firman Allah dalam Surah An-Nahl (16) ayat 34:

فَاَصَابَهُمْ سَيِّاٰتُ مَا عَمِلُوْا وَحَاقَ بِهِمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ ࣖ

Maka, mereka ditimpa azab (akibat) perbuatan mereka dan diliputi oleh azab yang dahulu mereka selalu perolok-olokkan.

2. Mulk adalah potensi untuk berkuasa, baik yang berhasil berkuasa maupun yang tidak. Sebagai contoh firman Allah yaitu ketika dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, menjadikanmu (terhormat seperti) para raja. Makna kenabian (Nabi) dalam ayat ini khusus, sedangkan makna kerajaan (raja) umum karena makna raja yang dimaksud adalah potensi yang dapat dijadikan pertimbangan dan modal untuk berkuasa, bukan dijadikan semua mereka berkuasa karena ini bertentangan dengan hikmah kekuasaan itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam sebuah peta bahwa tidak baik dalam suatu bangsa banyak pemimpinnya.

Ketiga, menganugerahkan kepadamu apa yang belum pernah dianugerahkan kepada seorang pun di antara umat yang lain. Pada zaman Nabi Musa, Allah telah memberikan kepada Bani Israil kenikmatan yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat lain, yaitu kemapanan hidup dan kemenangan. Allah dalam menyelamatkan mereka dari Fir’aun dan bala tentaranya serta telah menghancurkan musuh-musuh mereka yang kufur. Kenikmatan ini terbatas pada waktu dan sekelompok orang tertentu. Ini tidaklah bersifat universal untuk semua orang Yahudi pada semua zaman dan tempat bagaimana diklaim oleh kaum Yahudi.

Mereka juga senantiasa berusaha membujuk orang lain untuk meyakini doktrin tersebut dengan mengatakan, “Sesungguhnya, Allah telah memberikan kepada kami apa-apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat lain. Bahkan, hal ini tersebut dalam Al-Quran kitab suci umat Islam dan tidak saja termaktub dalam kitab suci kami, Taurat. Anugerah Allah kepada kami tersebut karena kami adalah orang-orang Yahudi, dan hal itu berlangsung terus sampai Hari Kiamat.” Sebagian orang telah tertipu oleh propaganda Bani Israil ini. Sesungguhnya, makna firman Allah menganugerahkan kepadamu apa yang belum pernah dianugerahkan kepada seorang pun di antara umat yang lain mirip dengan makna firman-Nya, yaitu dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 47:

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ

Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu).

Makna ayat tersebut adalah mereka dilebihkan atas umat-umat kafir, seperti Fir’aun dan tentaranya serta orang-orang kafir yang bertempat tinggal di tanah suci. Allah telah mengutamakan Bani Israil atas umat-umat lain bukanlah karena ras dan asal usul mereka, melainkan karena akidah dan keimanan mereka. Mereka, kaum yang dilebihkan oleh Allah itu, adalah orang-orang Mukmin yang berada di tengah-tengah kaum kafir. Dengan demikian, wajarlah jika Allah mengutamakan orang-orang Mukmin atas orang-orang kafir dan memberikan mereka kenikmatan yang belum pernah diberikan kepada seorang pun dari kaum kafir.
Sesudah periode itu, Allah menghilangkan keutamaan dari orang-orang Yahudi karena nereka menjadi kafir, sombong, durhaka, dan merusak. Allah menghilangkannya dengan mengutus Rasulullah ﷺ dan menjadikan Islam sebagai agama universal di muka bumi ini dan umatg Islam menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk membebaskan seluruh umat manusia.[]

 

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang DImuliakan dan Dibinasakan Allah, karya Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response