Ibrah

Hikmah di Balik Peristiwa Allah Menghidupkan Kembali Orang Mati

21views

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 73:

فَقُلْنَا اضْرِبُوْهُ بِبَعْضِهَاۗ كَذٰلِكَ يُحْيِ اللّٰهُ الْمَوْتٰى وَيُرِيْكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

Lalu, Kami berfirman, “Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!” Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti.

Pada prinsipnya, penyembelihan sapi betina kepada kaum nNabi Musa bukanlah tujuan dan perintah ilahiyah, melainkan hanya sebagai sarana untuk mengartikulasikan tujuan atau sasaran lain, yaitu menggelar dalil dan fakta konkret yang membuktikan kekuasaan Allah dalam menghidupkan kembali orang yang telah mati agar bertambah keimanan orang-orang Mukmin dan orang lain sehingga beralih dari posisi keraguan pada posisi keimanan. Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, seolah-olah Allah berkata, “Engkau telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah mukjizat Ilahi yang agung yaitu berupa mayat manusia yang hanya seonggok tubuh tidak bernyawa dan tidak bergerak serta berupa sapi betina seekor hewan bisu yang tidak dapat bicara. Engkau menyembelih sapi betina itu dan ia pun menjadi seonggok tubuh yang tidak bernyawa dan tidak bergerak.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Perintah Menyembelih Seekor Sapi Betina

Kemudian, engkau mengambil sebagian anggota tubuh sapi betina yang telah mati itu dan engkau memukulnya ke tubuh mayat orang itu. Seketika itu, engkau terperangah oleh suatu kejadian tidak terduga dan mengejutkan, yakni mengalirnya hawa kehidupan pada orang yang telah mati (karena pukulan potongan tubuh sapi itu) dan mayat itu pun hidup kembali serta bergerak dan berbicara layaknya orang hidup. Seperti peristiwa yang kalian saksikan demikian pula Allah akan menghidupkan kembali orang mati dan membangkitkan mereka pada Hari Kiamat. Kelak mereka keluar dari kubur mereka dengan segenap karakter kehidupan serta segala fenomena dan kenyataan hidup yang wajar.

Fenomena Al-Quran dalam menggunakan kisah sapi betina untuk membuktikan kekuasaan Allah yang mutlak dan transendental serta menunjukkan kemampuannya untuk menghidupkan kembali orang yang mati pada Hari Kiamat memberikan inspirasi kepada kita tentang metodologi Al-Quran dalam menetapkan hakikat-hakikat keimanan dan prinsip-prinsip paradigma Islam serta metodologinya dalam mempresentasikan argumentasi tentang itu semua. Sesungguhnya, Al-Quran tidak memaparkan hakikat-hakikat keimanan secara dogmatis, berdiri sendiri terlepas dari argumentasi, tetapi ia senantiasa menetapkannya dengan disertai dalil-dalil argumentasi yang kuat dan akurat. Dalil-dalil ini diambil dari fenomena realitas faktual yang diangkat dari berbagai peristiwa yang dialami manusia yang mereka tangkap dan mereka berinteraksi dengannya. Dengan demikian, dalil Al-Quran memiliki karakter mudah dimengerti, pengaruhnya kuat dan efektif, kesannya tajam dan penuh vitalitas, serta berhasil dalam menetapkan hakikat-hakikat kebenaran yang diceritakannya.

BACA JUGA: Allah Menetapkan Bangsa Yahudi Kebingungan di Bumi

Al-Quran menggunakan kisah-kisahnya sebagai media penetapan hakikat-hakikat keimanan. Baginya, hal ini menjadi wacana pemaparan dan penegasan hakikat hakikat itu. Ini merupakan bukti bahwa kisah-kisah Al-Quran pada esensinya tidak dimaksudkan menjadi tujuan dan tidak menjadi sasaran untuk sekadar menikmati kisah atau sekadar hiburan ruhani, meskipun semua efek ini terkandung secara simultan di dalamnya. Akan tetapi, Al-Quran lebih cenderung memfungsikan kisah-kisahnya sebagai media dan sarana untuk mencapai tujuan yang mulia, yaitu menetapkan hakikat-hakikat keimanan dan menunjukkan dalil-dalil yang membuktikan kebenarannya. Penyembelihan sapi betina, pemukulan mayat dengan sebagian anggota tubuh sapi betina itu, dan hidupnya kembali orang yang terbunuh dimaksudkan oleh Al-Quran sebagai sarana untuk mengartikulasikan beberapa saran, yaitu sebagai berikut:

Pertama, menyingkap misteri pembunuh yang sebenarnya dan mengenakan identitas pembunuhan tersebut kepada orang-orang Yahudi.

Kedua, menggelar bukti berupa dalil faktual yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.

Ketiga, menyajikan tanda kebesaran Allah dan mukjizat dari-Nya yang menyalahi kebiasaan dan hukum alam karena belum pernah terjadi hidupnya kembali seorang mayat melalui pemukulan dengan pemotongan daging sapi betina yang telah mati disembelih, kecuali melalui mukjizat ilahiyah yang agung.

Keempat, mengenalkan kita kepada tabiat (watak) dasar orang-orang Yahudi melalui persepsi mereka terhadap perintah-perintah Allah serta interaksi dan perlakuan mereka terhadap nabi-nabi mereka.

Kelima, memperingatkan orang-orang Mukmin untuk tidak berperilaku dengan moralitas hina orang-orang Yahudi.[]

 

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang DImuliakan dan Dibinasakan Allah, karya Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response