Historia/Tarikh

16 Dalil yang Melarang Pengisahan Riwayat Israiliyat (Bagian Kedua-Habis)

foto: Unsplash
29views

Berikut adalah lanjutan dalil-dalil pelarangan terhadap periwayatan israiliyat:

Kesembilan, sesungguhnya Al-Quran telah mengajari umat Islam kiat berdebat dengan kaum Yahudi serta kiat mematahkan kerancuan pemikiran, isu-isu, dan riwayat Israiliyat mereka dengan mengatakan kepada mereka, “Apakah engkau atau Allah yang lebih mengetahui?” Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 139-140:

قُلْ اَتُحَاۤجُّوْنَنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۚ وَلَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ ۙ (139) اَمْ تَقُوْلُوْنَ اِنَّ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطَ كَانُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ قُلْ ءَاَنْتُمْ اَعْلَمُ اَمِ اللّٰهُ ۗ وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهٗ مِنَ اللّٰهِ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ (140)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah kamu (Yahudi dan Nasrani) hendak berdebat dengan kami tentang Allah? Padahal, Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu. Hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan diri. (139) Apakah kamu juga berkata bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub, dan keturunannya adalah penganut Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah? Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya?” Allah sama sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (140)

Kesepuluh, adanya mata rantai yang hilang dalam sejarah orang-orang terdahulu yang Allah telah menyatakan bahwa tidak seorang pun mengetahuinya dan hanya Dia yang mengetahuinya. Ketika riwayat Israiliyat mengklaim telah mengetahuinya, ia telah berselisih secara terang-terangan dengan teks eksplisit (nash sharih) Al-Quran yang menyatakan bahwa tidak seorang pun yang mengetahuinya kecuali Allah. Ini sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam Surah Ibrahim (14) ayat 9:

اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَؤُا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوْحٍ وَّعَادٍ وَّثَمُوْدَ ەۗ وَالَّذِيْنَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗ لَا يَعْلَمُهُمْ اِلَّا اللّٰهُ ۗ

Apakah belum sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Samud, dan orang-orang setelah mereka? Tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka selain Allah…”

BACA JUGA: Tiga Kategori Kisah-Kisah Israiliyat

Kesebelas, Al-Quran secara tegas dan terang-terangan melarang umat Islam untuk menanyakan kepada ahli kitab perihal berita dan kisah orang-orang terdahulu. Pelarangan itu termaktub dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 22:

فَلَا تُمَارِ فِيْهِمْ اِلَّا مِرَاۤءً ظَاهِرًا ۖوَّلَا تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِّنْهُمْ اَحَدًا

Oleh karena itu, janganlah engkau (Nabi Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan yang jelas-jelas saja (ringan). Janganlah engkau minta penjelasan tentang mereka (penghuni gua itu) kepada siapa pun dari mereka (Ahlulkitab).

Kedua belas, Al-Quran secara terang-terangan melarang umat Islam yang berkata tanpa dasar ilmu, sedangkan riwayat israiliyat termasuk perkataan tanpa dasar ilmu pengetahuan. Dengan demikian, orang-orang yang menuturkan riwayat israiliyat telah mengikuti apa yang tidak diketahuinya. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra (17) ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

BACA JUGA: Tiga Tujuan Pencantuman Kisah-Kisah dalam Al-Quran

Ketiga belas, Al-Quran mewajibkan umat Islam untuk teliti ketika mendengarkan berita orang-orang fasik dan tidak menerima berita serta riwayat dari mereka ataupun dari orang kafir, kecuali setelah terkonfirmasi kebenarannya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hujurat (49) ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ 

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya…

Keempat belas, Rasulullah ﷺ melarang umat Islam untuk mengambil sesuatu dari kaum Yahudi. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Al-Bukhari yang berasal dari Abu Hurairah bahwasanya dia berkata bahwa ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab untuk umat Islam. Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah engkau membenarkan kaum ahli kitab dan jangan mendustakan mereka, tetapi katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kita (Al-Quran).'”

Kelima belas, Rasulullah ﷺ menegur Umar Bin Khaththab ketika beliau melihat lembaran dari ahli kitab ada pada Umar. Ini sebagaimana hadis riwayat Imam Ahmad yang berasal dari Jabir bin Abdullah bahwa Umar Bin Khaththab datang kepada Rasulullah dengan membawa sebuah kitab yang didapatnya dari sebagian ahli kitab, lalu dibacakannya kepadanya. Dengan serta merta, Rasulullah ﷺ marah seraya mengatakan, “Apakah engkau bimbang dan ragu padanya, wahai Ibnu Al-Khaththab? Demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepadamu dengan membawa ajaran yang putih dan jernih. Janganlah engkau bertanya kepada mereka tentang sesuatu. Mereka memberitahukan kepadamu dengan kebenaran lalu engkau mendustakannya atau mereka memberitahukan kepadamu dengan kebatilan lalu engkau membenarkannya. Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, kalau Musa hidup niscaya dia akan mengikutiku.”

Keenam belas, para sahabat menegur orang yang pergi menemui Bani Israil dan mengambil cerita israiliyat dari mereka. Sebagai contoh, apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Wahai umat Islam, bagaimana kalian bertanya kepada ahli kitab? Padahal, kitab suci kalian yang diturunkan Allah kepada Rasulullah ﷺ adalah yang paling banyak menceritakan berita dengan (wahyu) Allah dan jika kalian membacanya tidak akan usang. Allah telah mengatakan kepada kalian bahwa ahli kitab telah mengubah-ubah apa yang telah ditulis Allah dan mengubah-ubahnya dengan tangan mereka. Kemudian, mereka mengatakan, ‘Ini adalah (kitab) yang datang dari Allah,’ untuk membeli dengannya harga yang murah. Apakah yang telah datang kepada kalian dari ilmu pengetahuan (Al-Quran) itu tidak menghentikan kalian dari bertanya kepada mereka (ahli kitab)? Tdak! Demi allah, tidaklah pernah sama sekali seorang pun dari kalangan mereka yang menanyakan kepada kalian tentang apa yang telah diturunkan kepada kalian (Al-Quran).”

BACA JUGA: Kisah-Kisah dalam Al-Quran adalah Kisah yang Benar

Hal ini juga sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud, “Janganlah engkau bertanya kepada ahli kitab karena mereka tidak akan menunjuki kalian. Padahal, mereka telah menyesatkan diri mereka sendiri sehingga kalian akan mendustakan kebenaran atau membenarkan kebatilan.” []

 

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response