Kisah

Tiga Tujuan Pencantuman Kisah-Kisah dalam Al-Quran

Foto: Unsplash
26views

Dalam buku Kisah-Kisah dalam Al-Quran: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah karya Salah Abdul Fattah Al-Khalidi dituliskan bahwa setidaknya ada tiga tujuan penyebutan kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Quran. Kita diajak untuk memerhatikan dan menerapkannya ketika sedang membaca kisah-kisah itu, serta mencermati dan aktif berinteraksi dengannya. Tujuan-tujuan tersebut adalah:

Pertama, agar manusia berpikir

Membaca, mendengarkan, merenungkan, dan memerhatikan kisah-kisah Al-Quran akan menggiring kita untuk berpikir. Al-Quran menginginkan dan mengajak kita untuk senantiasa berpikir dan mengambil pelajaran melalui banyak firman-Nya. Allah berfirman dalam Surah Saba ayat 46:

قُلْ اِنَّمَآ اَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍۚ اَنْ تَقُوْمُوْا لِلّٰهِ مَثْنٰى وَفُرَادٰى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوْاۗ مَا بِصَاحِبِكُمْ مِّنْ جِنَّةٍۗ اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ لَّكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيْدٍ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku hendak menasihatimu dengan satu hal saja, (yaitu) agar kamu bangkit karena Allah, baik berdua-dua maupun sendiri-sendiri, kemudian memikirkan (perihal Nabi Muhammad). Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu bahwa di hadapanmu ada azab yang keras.”

BACA JUGA: Hikmah Kisah-Kisah dalam Al-Quran

Sesungguhnya berpikir merupakan suatu kewajiban Qurani, keharusan dalam Islam, dan keniscayaan hidup. Berpikir, bernalar, dan mengambil pelajaran merupakan buah dari membaca kisah orang-orang terdahulu yang ada dalam Al-Quran. Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj (22) ayat 45-46:

فَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۖ وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَّقَصْرٍ مَّشِيْدٍ (45) اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ (46)

Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)-nya dalam keadaan zalim sehingga bangunan-bangunannya runtuh dan (betapa banyak pula) sumur yang ditelantarkan serta istana tinggi (yang ditinggalkan). (45) Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.

Allah  juga berfirman dalam Surah Ash-Shaffat (ayat 137-138:

وَاِنَّكُمْ لَتَمُرُّوْنَ عَلَيْهِمْ مُّصْبِحِيْنَۙ (137) وَبِالَّيْلِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ (138)

Sesungguhnya kamu (penduduk Mekkah) benar-benar akan melintasi (bekas-bekas kehancuran) mereka pada waktu pagi. (137) dan waktu malam. Mengapa kamu tidak mengerti? (138)

Perlu diperhatikan bahwa dalam kedua ayat tersebut orang Quraisy diperingatkan bahwa mereka akan melewati perkampungan kaum Nabi Luth dalam perjalanan niaga mereka ke Syam. Melalui firman tersebut, Allah mengecam mereka karena tidak memfungsikan akal mereka sebagai bentuk mengarahkan pemikiran mereka dan membelalakan pandangan mereka tentang apa yang terjadi pada kaum Nabi Luth yang dengannya dapat menuntun mereka untuk beriman kepada Allah serta meninggalkan apa yang dimurkai-Nya dan menghindari penyebab turunnya azab.

BACA JUGA: Kisah-Kisah dalam Al-Quran adalah Kisah yang Benar

Kedua, dengannya Allah teguhkan hati manusia

Tujuan kedua yang disebutkan Al-Quran adalah peneguhan hati. Peneguhan hati atas kebenaran, keyakinan akan janji-Nya, keberadaan bersama tentara-Nya, perlawanan terhadap musuh-musuh-Nya, serta konsisten dengan Manhaj (konsep atau jalan hidup) ini sampai bertemu dengan-Nya. Allah berfirman dalam Surah Hud (11) ayat 120:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

Semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu (Nabi Muhammad), yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang-orang Mukmin.

Semua nilai tersebut didapatkan oleh orang-orang Mukmin dari kisah orang-orang terdahulu dan para rasul. Ayat tersebut merupakan pernyataan untuk Rasulullah ﷺ yang disebutkan setelah memaparkan kisah Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Syu’aib, dan Nabi Musa dalam Surah Hud. Surah Hud diturunkan kepada Rasulullah ﷺ pada masa krisis dan berat, termasuk masa-masa paling kritis yang dilalui dakwah Islam di Mekkah. Pada saat itu, Rasulullah ﷺ dan umat Islam membutuhkan hiburan untuk membesarkan, menentramkan, dan menumbuhkan hati. Lalu, diturunkanlah kisah-kisah nabi tersebut untuk mewujudkan tujuan Al-Quran yang mulia ini.

Ketiga, pelajaran bagi orang-orang berakal

Tujuan ketiga dari kisah-kisah Al-Quran termaktub dalam firman Allah dalam Surah Yusuf (12) ayat 111:

لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. (Al-Quran) bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Inilah ayat terakhir dalam Surah Yusuf yang seolah-olah mengajak kita untuk mencermati tujuan dari kisah Nabi Yusuf yang disebutkan dalam surah secara keseluruhan. Ayat yang terdapat pada akhir surah ini mengisyaratkan kepada kita akan tujuan dari penyebutan kisah ini dalam Al-Quran dan seolah-olah mengajak kita untuk mewujudkan tujuan ini dalam diri kita.

BACA JUGA: Nama dan Kisah Wanita dalam Al-Quran

Mengapa kisah Al-Quran dijadikan sebagai suatu pelajaran atau Ibrah? Ibrah diambil dari akar kata ‘abara ya’buru yang berarti menyeberang. Ketika menjumpai kisah orang-orang terdahulu dalam Al-Quran kita seolah-olah yang terdahulu. Ibrah juga merupakan nilai-nilai abadi yang diinspirasikan kepada kita dari kisah orang-orang terdahulu, nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai kebatilan, serta nilai-nilai keutamaan dan nilai-nilai kebejatan. Maka, berapa banyak kisah Al-Quran yang telah memberikan hikmah kepada kita berupa pelajaran, petunjuk, nilai, sunnatullah, bekal hidup, persiapan, senjata, ketentraman, keyakinan, kebahagiaan, dan keteguhan?

Tidak semua orang mampu mencermati petunjuk, pelajaran, dan peringatan dari kisah-kisah Al-Quran. Sesungguhnya pelajaran padanya hanya khusus bagi orang-orang berakal dan orang-orang yang memiliki nalar benar, pandangan jernih, perhatian konkret, pengalaman dakwah, dan kontribusi jihad.[]

 

SUMBER: KISAH-KISAH Al-QURAN

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response