Historia/Tarikh

Peristiwa Pembelahan Dada dan Menjadi Yatim Piatu: Masa Anak-Anak Rasulullah

foto: Unsplash
43views

Salah satu fase dalam kehidupan Rasulullah ﷺ adalah pada saat malaikat Jibril membelah dada beliau. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Rasulullah ﷺ didatangi Malaikat Jibril. Saat itu beliau sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil lainnya. Malaikat Jibril memegang beliau dan menelentangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau seraya berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu.” Lalu, Malaikat Jibril mencucinya di sebuah baskom dari emas dengan menggunakan air Zam-zam kemudian menata dan memasukkannya ke tempat semula. Anak-anak kecil lainnya berlarian mencari Ibu susunya dan berkata, “Muhammad telah dibunuh!’ Mereka pun datang menghampiri beliau yang wajahnya semakin berseri.”

Dengan adanya peristiwa pembelahan dada itu, Halimah As-Sa’diyah, ibu susu Rasulullah, merasa khawatir terhadap keselamatan beliau sehingga dia mengembalikan beliau kepada ibunya. Kemudian beliau hidup bersama ibunya tercinta hingga berumur 6 tahun. Beberapa waktu kemudian, sang ibunda, Aminah binti Wahab, merasa perlu mengenang suaminya yang telah meninggal dunia dengan cara mengunjungi kuburannya di Yatsrib Madinah. Maka, dia pergi dari Mekkah, menempuh perjalanan sejauh 500 km bersama putranya yang yatim, yaitu Rasulullah ﷺ, disertai pembantu wanitanya, yaitu Ummu Aiman.

BACA JUGA: Hari Kelahiran Rasulullah dan Masa Awal Persusuan

Setelah menetap selama satu bulan di Madinah, Aminah binti Wahab dan rombongannya siap-siap untuk kembali ke Mekkah. Dalam perjalanan pulang itu, dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia di Abwa’, yang terletak di antara Mekkah dan Madinah.

Setelah kematian ibunya, Abdul Muthalib, sang kakek, kemudian membawa Rasulullah ﷺ kembali ke Mekkah. Perasaan kasih sayang di dalam hatinya terhadap cucunya yang kini yatim piatu semakin kuat karena cucunya harus menghadapi cobaan baru di atas luka yang lama. Hatinya bergetar oleh perasaan kasih sayang yang tidak pernah dirasakannya, sekali pun terhadap anak-anak sendiri. Dia tidak ingin cucunya hidup sebatang kara. Bahkan, dia lebih mengutamakan cucunya daripada anak-anaknya.

Ibnu Hisyam menceritakan, “Ada sebuah dipan yang diletakkan di dekat Ka’bah untuk Abdul Muthalib, sedangkan kerabat-kerabatnya biasa duduk di sekeliling depan itu hingga Abdul Muthalib keluar ke sana, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani duduk di depan itu sebagai penghormatan terhadap dirinya. Suatu hari—saat Rasulullah telah menjadi anak kecil yang montok—beliau duduk di atas depan itu. Maka, paman-paman beliau langsung memegang dan menahan agar tidak duduk di atas dipan itu. Tatkala Abdul Muthalib melihat kejadian ini, dia berkata, ‘Biarkan anakku ini. Demi Allah, sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung.’ Kemudian Abdul Muthalib duduk bersama beliau di atas depannya sambil mengelus punggung beliau dan senantiasa merasa gembira terhadap apa pun yang beliau lakukan.”

BACA JUGA: Mengenal Nasab dan Keluarga Inti Nabi Muhammad ﷺ

Pada usia 8 tahun lebih 2 bulan 10 hari dari umur Rasulullah ﷺ, kakeknya meninggal dunia di Mekkah. Sebelum meninggal, Abdul Muthalib sudah berpesan menitipkan pengasuhan sang cucu kepada pamannya, Abu Thalib, saudara kandung bapak beliau. Abu Thalib menjalankan kewajiban yang diembankan kepadanya untuk mengasuh keponakannya dengan penuh tanggung jawab seperti halnya dia mengasuh anak-anaknya sendiri. Dia bahkan mendahulukan kepentingan beliau di atas kepentingan anak-anaknya. Selain itu ia mengistimewakannya dengan penghargaan yang begitu berlebihan. Perlakuan tersebut terus berlanjut hingga beliau berusia di atas 40 tahun.

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response