Tafsir

Bermegah-Megahan dalam Mengumpulkan Harta Sangat Menyita Waktu.

Foto: pixabay
50views

Allah subhanahu wata’ala berfiman dalam Surah At-Takatsur (surah ke-102) ayat 1:

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu

Penjelasan Ayat

Pada ayat ini, Allah tidak menyebutkan bermegah-megahan dalam hal apa. Ayat ini sekilas membicarakan tentang bermegah-megahan harta yang menjadi penyebab kelalaian banyak manusia. Namun, para ahli tafsir seperti Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan bahwa ketika tidak disebutkan bemegang-megahan atau berlomba-lombanya dalam hal apa, ayat ini bermakna secara umum. Perkara umum ini termasuk perbuatan membanggakan miliknya seperti harta, anak, kabilah, suku, ras, kedudukan, bahkan ilmu yang akhirnya melalaikan mereka. Perbuatan itu juga menjadikan angan-angan dan mimpi mereka panjang sehingga lupa bahwa kematian sangat dekat.

Saling berlomba-lomba akan mendapatkan sesuatu lebih banyak itu dapat menjadi perbuatan tercela. Pada asalnya, mencari harta merupakan sesuatu yang wajar dan manusiawi. Allah tidak pernah melarang seorang mencari harta, apalagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta nafkah untuk anak dan istrinya. Namun, perbuatan ini menjadi tercela jika seseorang meminta tambahan terus-menerus. Dia sudah hidup berkecukupan, tetapi tidak pernah puas karena melihat orang lain hartanya lebih banyak sehingga ia mempunyai keinginan untuk menyaingi orang tersebut. Inilah takatsur yang akan menyibukkannya, membuatnya lalai, dan akhirnya mencelakakannya. Bayi itu berbeda halnya jika ia mengumpulkan harta untuk kejujuran akhirat seperti bersedekah untuk membantu kaum muslimin dan lainnya. Jika demikian, itulah perbuatan memperbanyak harta untuk akhirat.

Hal yang paling menyedihkan adalah sebagian kaum muslimin banyak yang berlomba dan membanggakan perkara yang tidak ada manfaatnya di dunia maupun akhirat. Seandainya mereka belum ada dalam perkara dunia yang bermanfaat, meskipun tidak ada manfaat bagi akhiratnya, hal itu kadang bisa dimaklumi. Akan tetapi, jika itu pun tidak bermanfaat untuk dunianya, hal ini lebih mengherankan. Misalnya, orang yang mempunyai hobi mengoleksi perangko, bola golf, batu mulia, atau mobil antik. Sesungguhnya semua itu tidak ada manfaatnya kecuali sekadar menghabiskan waktu yang akan menyebabkan kelalaian dalam dirinya.

BACA JUGA: Jangan Jadikan Harta sebagai Puncak Cita-Cita

Padahal, semua yang mereka kumpulkan dan banggakan dengan susah payah ternyata tidak akan dibawanya ke akhirat. Mereka tidak akan membawa barang-barang itu ke akhirat. Hanya amalan-lah yang akan dibawa mereka. Dalam sebuah hadis dari Qatadah, dari Mutharrif, ayahnya, ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi ﷺ sementara beliau sedang membaca ayat  ‘Alhakumut takatsur’ (sungguh berbangga-bangga telah melalaikan kalian dari ketaatan), lantas beliau bersabda, ‘Anak Adam berkata,  ‘Hartaku hartaku.’ Beliau bersabda, ‘Bukankah hartamu yang kau miliki sesungguhnya, wahai anak Adam, kecuali yang kau makan lalu habis, atau baju yang kau pakai lantas usang, atau harta yang kau sedekahkan itulah yang tersisa (di akhirat)?’”

Hadis ini sungguh benar. Seseorang dapat saja mengumpulkan harta hingga milyaran atau triliunan, tetapi harta yang benar-benar dinikmati adalah harta yang dimakan atau dipakainya. Itulah manfaat hartanya secara duniawi. Sementara itu, sisa hartanya yang sangat banyak sesungguhnya tidak dinikmatinya. Orang yang sangat kaya dan memiliki puluhan mobil pasti hanya menaiki salah satu mobilnya karena tidak mungkin ia menggunakan mobil-mobilnya sekaligus. Di hadapan seseorang ada makanan yang sangat banyak dan lezat berjumlah puluhan piring, ia mungkin hanya mampu memakan sepiring atau dua piring makanan karena keterbatasan kapasitas perutnya. Makanan yang dapat dimakan itulah ibarat harta yang sesungguhnya. Dalam suatu hadis, Rasulullah ﷺ bersabda: “Yang mengikuti mayat sampai ke kubur ada tiga: dua akan kembali dan satu tetap bersamanya dikubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tetap bersamanya dikubur adalah amalnya.”

Hartanya akan ditinggalkan, kekayaan yang selama ini susah payah dikumpulkan akan ditinggalkan, satu-satunya harta yang akan menemaninya adalah amalannya, dan harta yang selama ini disedekahkan itulah harta yang benar-benar menjadi miliknya di akhirat. Sementara itu, harta yang tidak digunakannya bukanlah miliknya. Nabi ﷺ bersabda: “Hamba berkata, ‘Harta, hartaku.’ Bukanlah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia sedekahkan maka ia simpan (untuk akhiratnya). Dan harta selain itu maka akan sirna dan ia tinggalkan untuk orang lain.”

Dalam hadis yang lain, ketika disembelih seekor kambing, Nabi ﷺ menyuruh istri-istrinya untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Setelah (daging) kambing dibagikan, Nabi ﷺ bertanya kepada Aisyah:  “Wahai Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?” Maka Aisyah berkata: “Tiidak ada yang tersisa, kecuali hanya bagian pundak dari kambing.” Maka, Nabi mengatakan: “Seluruh kambing tersisa, kecuali pundak yang tersisa.”

BACA JUGA: Pahala Terbaik Bagi Mereka yang Berbuat Baik

Seorang Muslim hendaknya berpikir cerdas: apakah yang mengumpulkan harta untuk menjadi simpanannya atau untuk orang lain? Jika ia berpikir harta tersebut untuk dirinya, ia akan menggunakannya untuk bersedekah di jalan Allah. Sementara itu, hartanya yang tersisa di dunia akan menjadi warisan untuk keluarganya. Memperbanyak harta itu memang sangat melalaikan seseorang. Kita dapat membayangkan jika seseorang sudah memiliki rumah, lalu ia membangun rumah lagi bukan karena keperluan, tetapi hanya untuk bermegah-megahan. Lalu, berapa banyak waktunya yang akan habis untuk membangun rumah, gambar rumahnya, bangunan rumahnya, bahan bangunannya, isi rumahnya, atau mencari lokasi tanahnya. Bahkan, jika ternyata ia membangun rumahnya dengan berutang, ia harus memikirkan cara membayar utangnya. Itulah bukti bahwa mengumpulkan harta memang sangat menyita waktu.[]

 

SUMBER: TAFSIR JUZ AMMA, karya Ust. Firanda Andirja

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response