Tafsir

Sebab Penamaan Lailatul Qadar

foto: unsplash
49views

Dalam  bahasa Arab, al qadar memiliki tiga makna: (1) asyaraf “kemuliaan”, (2) “sempit” dan (3) “takdir”.

Pertama, lailatul qadar maksudnya Lailatul zatu syarof adalah malam penuh kemuliaan karena barang siapa yang beribadah di malam tersebut seperti beribadah lebih dari seribu bulan.

Kedua, malam yang sempit karena kata Qadar bisa artinya “sempit”. Kata ini sering dijumpai dalam banyak ayat, salah satunya firman Allah dalam Quran Surah Al-Fajr (89) ayat 16:

وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ

Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi (menyempitkan) rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku”

Allah juga berfirman dalam Surah Al-Anbiya (21) ayat 87:

وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ

Dan (Ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah menyulitkannya lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”

Juga dalam Surah At-Thalaq (65) ayat 7:

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ اٰتٰىهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا ࣖ

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikul beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

BACA JUGA: Al-Quran Turun pada Malam Lailatul Qadr  

Juga dalam Quran Surah Al-Isra’ (17) ayat 30:

اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗ ࣖ

Sesungguhnya Tuhanmu lapangkan rezeki kepada siapa yang dia kehendaki dan menyempitkannya.

Para ulama mengatakan bahwa lailatul qadar dinamakan malam yang sempit karena banyak malaikat yang turun pada malam itu sehingga dunia sempit dan sesak karena dipenuhi oleh malaikat.

Ketiga, makna al-qadar yang lain adalah makna takdir karena, pada malam tersebut, Allah menetapkan takdir. Allah berfirman dalam Quran surah Ad-Dukhan (44) ayat 3 sampai 5:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

 فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ

اَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَاۗ اِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh kami-lah yang memberi peringatan. (3)

pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (4)

yaitu urusan dari sisi kami. Sungguh kami-lah yang mengutus Rasul Rasul. (5)

 

Allah telah menurunkan takdirnya berdasarkan beberapa tingkatan.

Pertama, takdir Allah yang dicatat di Lauhul Mahfudz. Semua hal yang akan terjadi sampai Hari Kiamat telah dicatat di Lauhul Mahfudz dan tidak akan ada perubahan. Akan tetapi, Allah mengabarkan berita takdir tersebut secara bertahap.

Kedua, takdir Umri atau takdir umur, yaitu takdir yang dicatat oleh malaikat ketika Allah meniupkan ruh kepada janin dalam perut seorang ibu. Kemudian, Allah memerintahkan malaikat untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasibnya: bahagia atau celaka.

Ketiga, takdir sanawi yaitu takdir tahunan. Setiap malam pada setiap tahunnya, malam Lailatul Qadar, Allah menurunkan takdirnya sampai tahun depan, seperti yang dibahas dalam surah Ad-Dukhan. Allah memindahkan data takdir satu tahun dari Al lauh Al Mahfudz ke catatan para malaikat. Akan tetapi, malaikat tidak mengetahui isi Al lauh Al Mahfudz.

Keempat, takdir harian, yaitu takdir yang keputusannya ditentukan oleh Allah, seperti yang disebutkan dalam firman Allah dalam Quran Surah Ar-Rahman ayat 29:

يَسْـَٔلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍۚ

Apa yang di langit dan di bumi selalu minta kepadanya. Setiap waktu, dia dalam kesibukan.

BACA JUGA: Keajaiban yang Kekal Bernama Al-Quran

Allah seolah-olah dalam kesibukan untuk menyampaikan keputusan-keputusan. Akan tetapi, takdir harian, takdir tahunan, dan takdir umum merupakan catatan yang diambil dari yang ada di Lauhul Mahfudz yang tidak akan pernah mengalami perubahan. Hanya Allah yang mengetahuinya.[]

 

Sumber: Tafsir Juz Amma, karya Ust. Firanda Andirja

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response