Tafsir

Al-Quran Turun pada Malam Lailatul Qadr  

foto: unsplash
64views

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Al-Qadr (97) ayat 1

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar (kemuliaan).

Penjelasan Ayat

Kata ganti “nya” pada kata anzalna (menurunkannya) dalam ayat ini tidak disebutkan kembali kepada apa atau siapa. Namun, para ulama berpendapat bahwa setiap dhomir (kata ganti) “nya” yang disebutkan dalam Al-Quran hukum asalnya kembali kepada “Al-Quran” meskipun sebelumnya “Al-Quran” tidak disebutkan Karena sudah diketahui.

Ada dua pendapat tentang maksud ayat ini.

Pertama, Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari Al lauh Al Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. Itulah pendapat Ibnu Abbas r.a.  Ibnu Katsir r.a., berkata, “Ibnu Abbas dan yang lainnya berkata: ‘Allah menurunkan Al-Quran secara keseluruhan dari Al lauh Al Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. Lalu, Al-Quran turun secara bertahap berdasarkan kejadian-kejadian selama 23 tahun kepada Nabi ﷺ.’”

Kedua, maksud ayat ini adalah Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi , yaitu ketika lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq pada malam Lailatul Qadar. Inilah pendapat Asy-Syabi. Beliau berkata: “Al-Quran turun pada malam lailatul qadar.”

Allah juga menggunakan kata ganti “Kami” yang kembali kepada Allah pada ayat ini dan tidak menggunakan “Aku”. Lalu, sebagian orang Nasrani berdalil dengan ayat-ayat semacam ini. Mereka mengatakan bahwa Allah itu dua atau lebih dari satu sebagaimana Islam juga menguatkannya dalam beberapa ayat Al-Quran. Akan tetapi, inilah dalil yang batil karena Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab dengan berbagai uslub-nya. Salah satu uslub untuk menunjukkan pengagungan adalah menggunakan kata ganti ” Kami” untuk Allah. Bahkan, dalam bahasa Indonesia pun sering demikian, yaitu menggunakan kata ganti “kami” sebagai pengganti “aku”. Seandainya kata ganti “kami” berarti banyak,  niscaya Abu Jahal dan kawan-kawannya akan terlebih dahulu mengingkari ke-Maha Esa-an Allah. Akan tetapi, mereka tidak demikian karena lebih memahami unsur bahasa Arab daripada orang-orang Nasrani.

BACA JUGA: Tafsir Surah Al-‘Alaq: Penjelasan tentang Permulaan Turunnya Wahyu

Sebagian lain berpendapat bahwa “Kami” di sini adalah malaikat. Hal ini karena yang menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad adalah malaikat Jibril. Dalam ayat yang lain, yaitu dalam Quran Surah Al-Qiyamah (75) ayat 18, Allah berfirman:

فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ

Apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaan itu.

Padahal yang membacakan untuk Nabi adalah Jibril, bukan Allah. Dengan demikian, kata “Kami” di sana bermakna malaikat. Malaikat adalah tentara Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam Quran surah Al-Muddatstsir ayat 31:

وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ اِلَّا هُوَۗ  …

… dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri …

Allah dapat saja mengatasnamakan tentaranya dengan  “Kami” seperti Raja yang memerintahkan anak buahnya untuk membangun sebuah istana itu, Raja tersebut akan mengatakan, “Kami yang membangunnya”. Artinya, dia dan anak buahnya-lah yang membangunnya.

Intinya, Allah menggunakan ungkapan “Kami” pada ayat ini tidak lantas melazimkan Allah itu ada dua, tiga, atau lebih dari itu seperti yang dipikirkan sebagian orang yang tidak mengerti bahasa Arab. Selain itu, pertanyaan kaum Nasrani tersebut menunjukkan bahwa mereka mengakui—secara tidak langsung—bahwa Tuhan yang disembahnya itu ganda dan tidak Esa.[]

BACA JUGA:

Sumber: Tafsir Juz Amma, karya Ust. Firanda Andirja

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response