Tafsir

Penjelasan tentang Perbuatan Buruk Kalangan Yahudi

Foto: Pixabay
20views

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 62-63:

وَتَرٰى كَثِيْرًا مِّنْهُمْ يُسَارِعُوْنَ فِى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاَكْلِهِمُ السُّحْتَۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ (62) لَوْلَا يَنْهٰىهُمُ الرَّبّٰنِيُّوْنَ وَالْاَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْاِثْمَ وَاَكْلِهِمُ السُّحْتَۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ (63)

“Dan kamu akan melihat banyak di antara mereka (orang Yahudi) berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat. Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.”

Firman Allah,

وَتَرٰى كَثِيْرًا مِّنْهُمْ يُسَارِعُوْنَ فِى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاَكْلِهِمُ السُّحْتَ

“Dan kamu akan melihat banyak di antara mereka (orang Yahudi) berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram.

Pada ayat ini Allah tidak menyebutkan keseluruhan mereka, melainkan banyak dari mereka.

BACA JUGA: Perintah Allah untuk Tidak Mengikuti Kaum Yahudi dan Nasrani

Oleh karena itu, hendaknya kita berbuat adil di dalam menyikapi suatu kaum. Sebelumnya Allah telah menyebutkan aktsarukum yaitu mayoritas kalian (kalangan Yahudi dan Nasrani) adalah fasik. Jadi, bukan seluruhnya.

Allah menyebutkan bahwa Nabi melihat banyak dari mereka (kalangan Yahudi) bersemangat melakukan dosa yang berkaitan dengan Allah serta permusuhan, yaitu dosa yang berkaitan dengan manusia.

Karena itu, ketika seseorang hendak berkata, terutama tentang suatu suku atau kelompok atau bangsa tertentu, hendaknya dia berhati-hati. Jangan sampai ia salah dengan melakukan generalisasi bahwa suku ini begini, atau suku itu begitu, misalnya. Padahal, tidak seluruhnya di suku tersebut demikian.

Kita tahu faktanya dalam suatu kalangan umumnya ada yang buruk dan juga ada yang baik. Jika kita mengatakan banyak di antara mereka buruk, misalnya suka berbohong, atau baik misalkan suka berderma, maka hal ini tidak masalah selama faktanya memang demikian.

Begitulah Allah menyebutkan tentang kalangan Yahudi di dalam ayat ini. Allah tidak melakukan penyebutan secara generalisasi terhadap seluruh mereka. Melainkan Allah sebutkan bahwa banyak dari mereka merupakan orang-orang yang bersegera bersemangat dalam melakukan dosa permusuhan dan kezaliman, termasuk dalam hal memakan harta haram yang mereka tidak peduli dengan hal itu.

Terlebih dalam keyakinan kalangan Yahudi, tidak ada prinsip halal haram dalam berinteraksi dengan kalangan non-Yahudi. Hal-hal yang haram dalam interaksi sesama Yahudi menjadi mereka halalkan apabila transaksinya itu dengan non-Yahudi. Mereka melanggar hal-hal haram tersebut.

BACA JUGA: Penjelasan Tentang Harta As-Suhti dan Risywah

Tindakan itu didasari oleh keyakinan bahwa non-Yahudi diciptakan oleh Allah untuk melayani mereka. Dalam sebagaian pernyataan mereka, seluruh non-Yahudi Bani Israil kedudukannya seperti hewan. Namun, Allah menciptakan mereka bentuk manusia supaya lebih mudah melayani mereka. Tentu ini termasuk keyakinan yang buruk.

Firman Allah,

وَاَكْلِهِمُ السُّحْتَۗ

“Dan memakan harta yang haram.”

Mereka suka memakan harta yang haram. Mereka tidak peduli jika mereka melakukan riba atau perbuatan buruk yang lainnya. Bahkan, mereka dikenal dengan dedengkotnya riba karena merekalah yang menciptakan riba.

Firman Allah,

لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Sungguh sangat buruk apa yang mereka perbuat.”

Perbuatan mereka sangat buruk. Perbuatan para pembesar mereka ada yang lebih buruk lagi dari itu. Allah berfirman:

لَوْلَا يَنْهٰىهُمُ الرَّبّٰنِيُّوْنَ وَالْاَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْاِثْمَ وَاَكْلِهِمُ السُّحْتَۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ

“Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.”

Mengapa para ulama dan pendeta mereka tidak melarang umatnya untuk berbuat dosa dan melakukan kezaliman?

Para ulama mereka tidak melarang umatnya dari perbuatan mungkar. Mereka biarkan saja kemungkaran di hadapan tanpa menegurnya. Hal ini supaya kedudukan mereka tetap dihormati, dan tetap mendapatkan harta dari umatnya. Mereka diam dari kemungkaran umatnya karena menjaga posisi dan keuntungan duniawi.

Allah menyebutkan ini agar umat Islam jangan mengikuti langkah-langkah mereka. Jangan sampai seorang da’i atau ustadz diam dari kemungkaran agar dia tetap disenangi publik. Supaya jadwal ceramahnya dan pemberian publik lancar, misalnya. Motif semisal ini tidak diperbolehkan dan termasuk sifat pembuka Yahudi dan Nasrani.

Perbuatan para pendeta Yahudi dan Nasrani, yang enggan ber-amal ma’ruf nahi mungkar itu lebih buruk dibandingkan perbuatan umatnya yang melanggar aturan Allah.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Sifat-Sifat Orang Yahudi

Maka seorang da’i memiliki tugas yang berat. Jika ada kemungkaran maka hendaknya dia menegur dengan cara yang baik. Hendaknya dia tidak takut ditinggalkan oleh jamaahnya dalam menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Dia harus berani mengatakan yang haram sebagai haram dan yang salah itu salah. Terlebih jika dia dijadikan rujukan oleh umat. Jangan sampai dia mendiamkan dan menyembunyikan sesuatu yang haram, sedangkan ia sudah tahu secara jelas keharamannya hanya karena dia takut ditinggalkan oleh umat. Yang demikian ini tercela dan termasuk sifat pemuka Yahudi.[]

SUMBER: TAFSIR AT-TAYSIR SURAH AL-MAIDAH, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response