Tafsir

Berusaha Mengetahui Rahasia Allah adalah Perkara yang Sia-Sia

49views

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Al-Lail (92) ayat 10:

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰىۗ

maka akan mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan).

 

Penjelasan Ayat

Realita seperti ini banyak dijumpai dalam kehidupan kita. Seseorang punya banyak harta, tetapi ia berat hati untuk berinfak dalam acara-acara kebaikan. Akan tetapi, ia rela mengeluarkan uangnya dengan sangat banyak jika dalam acara kemaksiatan. Inilah salah satu hukuman Allah kepadanya. Uangnya habis untuk perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Semua itu sesungguhnya akan dihisab oleh Allah.

Sebagian ahli tafsir, seperti Al Hafidz Ibnu Katsir dan lainnya, menyebutkan tafsiran lain tentang ayat ini, yaitu ayat fasanuyassiruhu lilyusro dan fasanuyassiruhu lil’usro berkaitan dengan takdir. Mereka yang beriman akan dimudahkan jalannya menuju kebaikan dan menuju surga. Sementara itu, mereka yang tidak beriman akan dimudahkan jalannya menuju keburukan dan neraka Jahanam.

Suraqah bin Malik pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, berikanlah penjelasan tentang agama ini kepada kami, seolah-olah kami diciptakan sekarang ini. Untuk apakah kita beramal hari ini, apakah pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bahkan pada hal-hal yang pena telah kering darinya dan takdir yang berjalan.” Ia bertanya, “Lalu apa guna beramal?” Rasulullah menjawab, “Beramallah kalian karena masing-masing dipermudah (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).”

Pelajaran Penting

Iman Terhadap Takdir

Segala sesuatu yang terjadi di alam ini sudah tercatat di kitab Lauhul Mahfuzh, 50.000 tahun sebelumnya diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”

Bahkan, setiap manusia telah dicatat tempat tinggal terakhirnya kelak: surga atau neraka. Namun, jika ada yang bertanya, Kalau begitu apa gunanya beramal kalau pada akhirnya masuk neraka juga?

BACA JUGA: Ciri-Ciri Orang Beriman: Penjelasan Surah Al-Balad (90) ayat 17

Jawabannya adalah seandainya setiap manusia diberi kabar sebelumnya tentang ditakdirkan ke surga atau ke neraka, ia pasti tidak usah beramal. Namun, tidak satu pun manusia yang mengetahui hal itu. Seandainya ditakdirkan masuk ke dalam neraka, ia akan dimudahkan untuk menuju neraka dengan melakukan penyebabnya. Sementara itu, jika ditakdirkan masuk surga, ia akan dimudahkan menuju surga dengan melakukan sebab-sebabnya sehingga dapat masuk ke dalamnya. Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk beramal karena tujuan akhir setiap manusia sesuai dengan amalannya tersebut. Seorang Muslim harus berhusnudzon atau berprasangka baik kepada Allah bahwa ia akan dimasukkan ke dalam surga. Dengan demikian, ia akan terus berbuat baik. Di samping itu, setiap manusia akan menyadari bahwa dirinya mendapat pilihan.

Semua yang kita lakukan bukanlah paksaan dari luar sebagaimana pemahaman sekte Jabariyyah. Mereka menganggap bahwa semua perbuatan manusia seperti bulu yang diterbangkan oleh angin. Karena gerakannya seperti ditentukan oleh angin, manusia tinggal pasrah akan dimasukkan ke dalam surga atau neraka. Namun, setiap manusia juga sadar bahwa semua yang dilakukannya sebagian memang di luar kontrolnya. Hal ini tidak seperti pemahaman sekte Qodariyyah yang menganggap tidak ada campur tangan Allah. Padahal, seorang manusia dapat membedakan badannya yang sedang gemetar—saat ia tidak dapat mengontrolnya—atau ketika berjalan—saat ia mengendalikan kakinya sendiri. Orang yang turun dari tangga dapat merasakan bahwa dirinya yang ingin memijak anak tangga satu demi satu. Namun, apabila  tiba-tiba ia jatuh dari tangga, ia menyadari tidak dapat mencegahnya saat itu pula.

Kita harus meyakini semua kehendak dan keinginan kita pada hakikatnya ada di bawah kehendak Allah. Takdir merupakan rahasia Allah. Seseorang tidak boleh mempertanyakan alasan Allah menakdirkan segala sesuatunya.

BACA JUGA: Cobaan-Cobaan bagi Orang Beriman: Penjelasan Surah Al-Buruuj (85) Ayat 4

Allah berfirman dalam Surah Al-Anbiya’ (21) ayat 23:

لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُوْنَ

Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.”

Berusaha mengetahui rahasia Allah adalah perkara yang sia-sia. Terlalu banyak perkara-perkara di sekitar kita yang tidak mampu dicerna akal kita. Bahkan, ruh yang selama ini menyertai kita tidak dapat diketahui hakikatnya. Kita tidak dapat mengetahui mimpi kita. Kita tidak dapat menalar malaikat, jin, dan makhluk gaib lainnya. Demikian pula dengan takdir yang merupakan rahasia Allah. Tugas manusia hanyalah berhusnudzon kepada Allah bahwa dia akan memudahkan kita masuk surga. Dengan demikian, ia pun semangat melaksanakan amalan sholeh karena setiap manusia akan dimudahkan menuju takdirnya.[]

 

Sumber: Tafsir Juz Amma, karya Firanda Andirja

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response