Uncategorized

Hakikat Maghfirah: Pelajaran Penting dari Surah Al-Buruuj (85) ayat 14

48views

وَهُوَ الْغَفُوْرُ الْوَدُوْدُۙ

Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,

Tatkala kita membaca doa istighfar, Astagfirullah wa atubu ilaik, doa ini mencakup tobat dan maghfirah. Tobat lebih dikhususkan untuk pengampunan dosa, sementara magfirah lebih dikhususkan agar aib kita ditutupi, baik di dunia maupun di akhirat.

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, “Istighfar adalah memohon maghfirah dan maghfirah itu menjaga kita dari akibat buruknya dosa serta ditutupnya dosa.”

Jadi, beristighfar bukan hanya meminta agar dosa kita tertutup saja. Ibnul qoyyim berkata tentang istighfar, yakni “Memohon maghfiroh dari Allah yaitu terhapusnya dosa dan menghilangkan dampak atau bekas dosa tersebut serta perlindungan dari (akibat) buruk dosa tersebut. Hal ini tidak seperti persangkaan sebagian orang bahwa makna maghfirah hanyalah as-sitr  (tertutupnya dosa). Allah menutup dosa (tidak membongkarnya) bagi orang yang meminta maghfirah dan orang yang tidak meminta maghfirah … dan hakikat maghfirah adalah perlindungan dari keburukan dosa. Salah satu makna ini adalah al-mighfar (yaitu penutup kepala yang digunakan oleh prajurit perang) karena fungsinya melindungi kepala dari gangguan. Adapun tertutupnya kepala semua itu merupakan kelaziman dari pelindung perban dan sangkok tidak dinamakan mighfar meskipun menutup maka maghfirah harus mengandung makna perlindungan atau penjagaan.

BACA JUGA: Perbuatan Curang Pada Saat Menimbang

Tertutupnya Aib Itu Rahmat Allah

Salah satu rahmat Allah menutupi aib-aib dan dosa-dosa kita. Apabila kita dimuliakan dan dihormati orang lain, semua itu bukan karena kemuliaan atau karena amal kebajikan kita, melainkan karena aib kita tidak dibuka oleh Allah. Seandainya satu aib kita dibuka oleh Allah, pasti tidak akan ada yang mau dekat dengan kita. Hal ini seperti perkataan Muhammad bin Wasi: “Seandainya dosa-dosa itu ada baunya, tidak seorang pun yang akan duduk dekat denganku.”

Seorang penyair berkata:

“Demi Allah, seandainya mereka mengetahui hakikat rahasiaku tatkala aku sendirian, setiap orang yang bertemu denganku tidak akan mau memberi salam kepadaku. ”

Oleh karena itu, kita bersyukur kepada Allah Al Ghafur yang telah menutupi aib, keburukan, dan kemaksiatan yang pernah kita lakukan. Kalau saja Allah membuka aib kita, binasalah kita.

Para ulama mengatakan bahwa jika suatu saat aib seorang hamba dibuka, biasanya itu pertanda bahwa ia terlalu sering melakukan aib tersebut. Karena ketika seorang hamba melakukan keburukan pertama kali, biasanya dosanya akan ditutupi oleh Allah terlebih dahulu dan tidak langsung dibuka. Namun, jika ia terus-menerus melakukan kemaksiatan tersebut, suatu saat aibnya itu akan dibuka oleh Allah.

BACA JUGA: Hidayah Itu Hak Allah: Pelajaran Penting dari Surah Al-Buruuj (85) ayat 10

Allah Mencintai Orang yang Bertobat

Allah mengatakan bahwa dia Al Ghofur, Maha Pengampun, dengan menutupi aib-aib, dan Al Wadud, Maha Mencintai orang-orang yang beriman kepadanya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi menjelaskan bahwa ayat ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang menganggap seorang hamba yang bermaksiat kemudian bertobat tidak akan dicintai oleh Allah. Barang siapa yang berdosa, kemudian bertobat kepada Allah tobatnya akan diterima oleh Allah, bahkan kembali dicintai Allah.

Itulah rahasia disandingkannya Al Ghofur, yang maha pengampun, dan Al -Wadud, “Yang Maha Mencintai”

Oleh karena itu, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan tobat hambanya ketika ia bertobat kepadanya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal, di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian, ia mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba, ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya. Lalu, ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembira, ia berkata, ‘Ya Allah, engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu. ‘ Ia telah salah mengucapkan karena terlalu gembiranya.”

Orang ini sangat gembira karena awalnya ia menyangka akan meninggal dunia. Namun, ternyata ia selamat. Meskipun demikian, Allah lebih gembira dengan tobatnya seorang hamba daripada gembiranya orang ini.

BACA JUGA: Cobaan-Cobaan bagi Orang Beriman: Penjelasan Surah Al-Buruuj (85) Ayat 4

Oleh karena itu, jika seseorang berdosa, ia hendaknya segera bertobat kepada Allah. Bahkan, ketika ia kembali melakukan rasa yang dahulu pernah dilakukannya, ia hendaknya tidak bersuudzon atau berprasangka buruk kepada Allah. Ketika mulai ragu dan kepada Allah , ia telah dipengaruhi setan. Setan ingin agar ia meninggal dalam keadaan tidak bertobat kepada Allah.[]

 

Sumber: Tafsir Juz Amma, karya Firanda Andirja.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response