Ibrah

Beberapa Pandangan Terkait Kisah Luqman (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Foto: Unsplash
11views

Kita akan mencermati ayat-ayat yang berbicara tentang kisah Luqman serta mencatat poin-poin terpenting dari keindahan ungkapannya, argumennya, nasihatnya, dan isyarat-isyarat yang dapat menjadi suri teladan, yakni sebagai berikut:

Kesebelas, Al-Quran banyak sekali mengungkapkan syirik dan kufur dengan sebutan zalim, salah satunya sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 254:

وَالْكَفِرُونَ هُمُ الظَّلِمُونَ…

… Orang-orang kafir itulah orang-orang zalim.

BACA JUGA: Beberapa Pandangan Terkait Kisah Luqman (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Kekafiran dan kemusyrikan adalah suatu kezaliman. Orang yang kafir dan musyrik berarti berbuat zalim karena kezaliman adalah melanggar dan melampaui batas, membantu kebatilan, serta menyembunyikan dan mengesampingkan kebenaran. Oleh karena itu, orang yang musyrik berarti zalim. Ini berarti dia menzalimi dirinya sendiri karena berjalan di jalan yang salah sehingga menyebabkannya mendapat azab dan masuk dalam neraka. Pada hakikatnya, orang yang zalim meninggalkan kebaikan dan mengesampingkan kebenaran.

Kezaliman bagi orang Mukmin adalah karena tidak menyeru mereka (orang-orang musyrik) menjadi penolong kebenaran dan memerangi kebatilan. Kezaliman bagi orang kafir adalah karena menjadi contoh bagi mereka dalam kekafiran dan menolong mereka untuk melakukan kebatilan. Setiap kekafiran adalah kezaliman. Setiap orang kafir dan musyrik adalah orang yang zalim. Namun, tidak setiap kezaliman adalah kekafiran dan kemusyrikan karena Al-Quran terkadang menyifatkan kezaliman dengan kemaksiatan dan dosa. Orang Muslim terkadang melakukan kezaliman karena kemaksiatan dan dosa-dosanya, tetapi dia tidak disebut kafir karena melakukan kemaksiatan atau dosa.

Kedua belas, Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ayat ini memberi petunjuk bahwa sesungguhnya Allah mewasiatkan hal tersebut kepada orang yang suka melalaikan dan mengabaikan (kewajibannya). Siapakah yang suka melalaikan hak orang lain, apakah para anak atau para ayah? Mereka adalah anak-anak. Oleh karena itu, Allah mewasiatkan mereka (agar berbuat baik) kepada ayah mereka. Sebaliknya, Allah tidak mewasiatkan kepada para ayah untuk berbuat baik kepada anak-anak mereka karena hal itu tidak perlu dilakukan. Para ayah sudah pasti (secara fitrah) menyayangi serta peduli pada kemaslahatan dan kebahagiaan anak-anak mereka.

Namun, anak-anak membutuhkan wasiat tersebut karena biasanya mereka hanya melihat apa yang ada di hadapan mereka, tentunya hal yang akan mendatangkan kemaslahatan bagi mereka serta menjamin keamanan masa depan dan kebahagiaan anak cucu tanpa melihat siapa di belakang mereka. Anak-anak hampir tidak peduli kepada ayah ibu (orang tua) yang telah mengurus mereka. Padahal, keduanya tidak lama lagi akan meninggal dunia. Pandangan itulah yang menyebabkan ayat tersebut menyeru agar anak-anak mau peduli dan berbuat baik kepada orang tua yang telah memberikan kehidupan dan mencurahkan semua kemampuan demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anak.

Ketiga belas, dalam firman-Nya, yakni ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,  terdapat satu catatan yang sudah pasti kebenarannya bahwa seorang ibu, pada masa kehamilannya yang panjang, terus-menerus dalam keadaan lemah, lesu, dan lelah. Al-wahn berarti kelemahan. Kelemahan seorang ibu tampak sejak masa kehamilannya. Di sini, dicontohkan dengan penyakit wahn (mengidam) dan muntah-muntah. Hal tersebut berlangsung terus-menerus sampai dia melahirkan, bahkan setelah melahirkan. Barangkali, inilah hikmah dari beragam kelemahan yang akan terus berlanjut selama masa kehamilan.

BACA JUGA: Nasihat-Nasihat Luqman kepada Anaknya (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Ayat ini tidak hanya menetapkan salah satu bentuk kelemahan, tetapi juga menjadikannya kemutlakan yang bersifat umum karena mencakup segala bentuk kelemahan dengan berbagai jenis dan ragamnya. Lemah dalam hal fisik, mental, perasaan, dan juga kekuatan. Lemah dalam beramal, bekerja, berinteraksi, bertindak, berperangai, dan juga beribadah, bahkan lemah seluruh jiwa dan perasaannya.

Namun, bersamaan dengan perasaan lemah yang berkepanjangan itu (bertambah terus-menerus itu), hadir (muncul) perasaan senang dan bahagia dalam hati setiap ibu. Kehamilan itu tetap diharapkan dan dicintai. Mereka (para perempuan) yang belum pernah hamil akan berusaha untuk ha- mil dan mencurahkan semua yang mereka miliki agar dapat hamil. Mahasuci Allah yang memberikan fitrah kepada perempuan untuk menikmati rasa lemah itu serta mengharapkan dan menyukainya.

Keempat belas, dalam firman-Nya, yakni menyapihnya dalam dua tahun, terdapat petunjuk bahwa masa menyusui yang baik untuk seorang anak adalah dua tahun. Apabila kurang dari dua tahun, anak tidak mendapatkan air susu alami yang sangat berguna dan dibutuhkannya, yakni air susu ibu. Jika lebih dari dua tahun, anak tidak mendapatkan manfaat lagi dari air susu tersebut. Selain itu, air susu tersebut tidak berguna lagi dan menjadi tidak sehat bagi anak, termasuk bagi perkembangan fisik dan akhlaknya karena akan membentuknya menjadi pribadi manja yang sulit melepaskan diri dari ibunya. Tampaknya, rahasia-rahasia penyakit yang ada pada anak zaman sekarang adalah karena mereka tidak disusui secara alami, padahal ASI (air susu ibu) sangat penting bagi keselamatan (kesehatan) anak—kesehatan jiwa dan raganya—baik perkembangan jasmaninya (fisiknya) maupun ruhaninya. Oleh karena itu, seorang ibu akan menyusui anaknya dengan penuh kasih, sayang, cinta, kelembutan, dan kerinduan yang diungkapkan melalui pemberian ASI. Faktanya, berapa banyak anak yang disusui ibu mereka selama dua tahun penuh?

Kelima belas, ayat tersebut mengemukakan kepada anak tentang metode yang aman dan indah dalam berhubungan dengan ayah ibunya serta berbuat baik kepada kedua orang tuanya, seperti ayat jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentang itu, janganlah mematuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, Sesungguhnya, berbuat baik kepada kedua orang tua adalah wajib dan dituntut dalam setiap kondisi, baik mereka (ayah dan ibu) berbuat salah atau berbuat baik kepada sang anak, maupun memperlakukan sang anak dengan kasih sayang atau dengan keras dan kasar. Berbuat baik tersebut harus selalu dilakukan anak kepada orang tua walaupun keduanya melakukan dosa dan maksiat. Bahkan, berbuat baik tersebut tidak boleh berhenti walaupun keduanya (ayah dan ibu) berada dalam kekafiran dan mempersekutukan-Nya (syirik) sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, yakni (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Namun, ketaatan anak terhadap orang tuanya ini merupakan ketaatan yang masih bisa diterima akal (logika) dan disadari hati, yakni menaati keduanya hanya pada hal-hal yang diridhai Allah, tetapi tidak menaati keduanya dalam hal yang menyebabkan kemurkaan-Nya.

BACA JUGA: Nasihat-Nasihat Luqman kepada Anaknya (Bagian Kedua – Habis)

Allah memerintahkan anak untuk menaati orang tuanya ketika memerintahkan untuk menaati Allah. Sebaliknya, anak dilarang menaati keduanya jika memerintahkan agar kufur kepada Allah atau mempersekutukan-Nya. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Allah. Ayat tersebut membedakan dua perkara, yakni kebaikan dan ketaatan. Berbuat baik kepada orang tua dituntut dalam segala hal walaupun keduanya dalam keadaan kafir. Namun, ketaatan itu terikat dengan ketaatan kepada Allah. Tidak boleh taat kepada keduanya jika perintah-perintah dari keduanya bertentangan dengan perintah-perintah Allah. Namun, berbuat baik kepada keduanya itu harus (wajib) walaupun dalam keadaan seperti ini. Anak hendaklah tidak menyetujui perintah orang tuanya untuk bermaksiat. Janganlah mengejek, menghina, atau mencela orang tuanya, melainkan cukup dengan tidak menyetujui sikap keduanya. Namun, tetaplah baik dalam bergaul bersama keduanya.

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response