Ibrah

Nasihat-Nasihat Luqman kepada Anaknya (Bagian Kedua – Habis)

Foto: Unsplash
13views

Jika kita memerhatikan, nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya bersifat umum (universal) karena mencakup seluruh aspek keimanan, peribadahan, akhlak (budi pekerti), dan dakwah (ajakan atau seruan).

Keenam, Luqman memberikan petunjuk kepada anaknya agar bersikap sabar atas apa yang menimpanya, sebagaimana tercantum dalam Surah Luqman (31) ayat 17, yakni “… bersabarlah terhadap apa yang menimpamu”. Penyebutan sabar setelah amar makruf nahi munkar menunjukkan kebenaran Al-Quran yang sudah pasti karena orang yang menyeru kepada Allah, menasihati manusia dan menganjurkan mereka untuk berbuat kebaikan atau melarangnya dari kejahatan, ini berarti dia telah menyodorkan dirinya menjadi “santapan empuk” untuk disakiti dan diuji. Mungkin, orang-orang akan menghina, mengolok-olok, mendustakan, menyakiti, menindas, memukul, dan menuduhnya yang tidak-tidak. Bahkan, mungkin mereka ingin membunuhnya.

BACA JUGA: Nasihat-Nasihat Luqman kepada Anaknya (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Jika tidak mempunyai bekal kesabaran yang cukup, niscaya dia tidak akan dapat berpegang teguh (istiqamah) di jalan-Nya dan tidak akan dapat meneruskan kewajibannya, apalagi untuk menasihati yang lain. Dia pasti akan mementingkan keselamatan dirinya dan lebih memilih untuk beristirahat atau mengasingkan diri. Sabar (kesabaran) merupakan senjata ampuh untuk memerangi kebatilan beserta orang-orang yang menggelutinya sekaligus merupakan bekal keimanan dari Allah.

Sabar adalah faktor yang harus dipenuhi untuk menunaikan kewajiban yang Allah perintahkan (yakni berdakwah). Jika memerhatikan wasiat Luqman kepada anaknya yang berupa anjuran dan larangan, kita akan mendapatkan bahwa dia menaruhnya di antara dua perintah, yakni didahului dengan anjuran untuk mengerjakan shalat lalu diikuti dengan anjuran untuk bersabar. Hal ini dimaksudkan bahwa shalat akan melahirkan keinginan untuk menyeru dan melarang. Sementara itu, sabar merupakan syarat agar dapat kontinu (istiqamah) dalam mengerjakannya.

Ketujuh, Luqman mengemukakan pengarahan tentang budi pekerti (akhlak) yang juga dianggap penting dalam menunaikan kewajiban amar makruf nahi munkar agar perkataannya dapat diterima masyarakat dan memberikan pengaruh, sebagaimana tercantum dalam Surah Luqman (31) ayat 18-19, yakni “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia, yakni jangan sombong terhadap manusia karena engkau adalah orang yang menyeru kepada mereka dan menginginkan mereka mengikuti dakwahmu. Namun, mereka tidak mau mendengar (ajakan atau seruan), kecuali dari orang-orang yang dekat dengan mereka dan yang mau bergaul bersama mereka. Jadi, dekatilah dan bergaulah dengan mereka. Setelah itu, barulah engkau menawarkan kepada mereka ajakanmu, menjelaskan agamamu, dan memasukkan pemikiran-pemikiranmu dengan rasa saling mencintai dan menyayangi serta tidak saling membanggakan diri. Adapun kalau engkau (bersikap) sombong, takabur, dan angkuh kepada mereka, atau memperlakukan mereka dengan hina, merendahkan, dan membuang muka ketika bertemu, atau memandang mereka dengan sinis, mereka akan menolak ajakanmu dan menyalahkan pemikiran-pemikiranmu, bahkan meninggalkanmu.

Janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh, yakni sikap yang mendukung dari sikap (perbuatan) memalingkan muka terhadap manusia serta merupakan buah dari sifat takabur, angkuh, dan sombong. Berjalan dengan angkuh artinya berjalan sambil berkhayal, bersiul tanpa memedulikan manusia sekitarnya. Ini adalah sikap menyebalkan yang dimurkai Allah dan dibenci semua makhluk. Sikap ini menunjukkan perasaan yang sedang sakit (jiwanya) dan digambarkan dengan berjalan yang angkuh.

BACA JUGA: Mengenal Luqman Al-Hakim dan Nasihat-Nasihat Penuh Hikmah

Berlakulah wajar dalam berjalan, ini merupakan petunjuk tentang cara berjalan yang baik dan benar setelah larangan berjalan yang buruk dan salah, yakni agar seorang Muslim berjalan biasa-biasa saja dan memiliki maksud yang baik, bukan berjalan dengan sombong, angkuh, dan membanggakan diri, serta bukan berjalan dengan lemah, hina, dan tidak bergairah, melainkan harus berjalan dengan tenang dan memiliki tujuan. Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan (di antara dua larangan, yakni berlebihan dan merasa kurang). Berlakulah wajar dalam berjalan juga berarti bahwa berjalan harus mempunyai tujuan (maksud), bukan sekadar untuk iseng-iseng (main-main) atau menghabiskan waktu karena setiap yang dikerjakan seorang Muslim harus berdasarkan maksud dan tujuan yang ingin dicapai dan dia berkewajiban melaksanakan setiap tujuannya. Berjalan merupakan perantara menuju apa yang dia cita-citakan. Dengan kata lain, berjalan dengan sederhana, tetapi mempunyai tujuan.

Lembutkanlah suaramu, yakni merendahkan suara merupakan sopan santun yang akan membuat seseorang disegani serta perkataannya didengarkan dan diterima. Tidak berbicara dengan berteriak atau kasar, kecuali orang yang buruk perangainya dan ragu-ragu dalam menilai kebenaran perkataannya atau harga dirinya (kurang percaya diri) sehingga berusaha menutupi keragu-raguannya itu dengan tipu daya dan berbicara dengan kasar atau berteriak.

Al-Qur’an menganggap hina dan buruk perbuatan-perbuatan (pe rilaku) tersebut serta merupakan gambaran perbuatan yang harus dijauhi dan dihindari. Bahkan, salah satu dari perbuatan (perilaku) tersebut diiringi dengan perumpamaan yang hina, yakni sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. Tampaklah sebuah gambaran yang kurang menyenangkan dan mengundang orang untuk menertawakan, menghina, dan mengolok-oloknya sambil berpaling darinya dan mencibirnya. Bahkan, hampir-hampir tidak “berperasaan” menggambarkan perumpamaan seperti itu, membelokkan sesuatu menjadi suara keledai.[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response