Ibrah

Beberapa Pandangan Terkait Kisah Luqman (Bagian Ketiga – Habis)

Foto: Unsplash
12views

Kita akan mencermati ayat-ayat yang berbicara tentang kisah Luqman serta mencatat poin-poin terpenting dari keindahan ungkapannya, argumennya, nasihatnya, dan isyarat-isyarat yang dapat menjadi suri teladan, yakni sebagai berikut:

Keenam belas, ayat tersebut mengemukakan gambaran agung tentang ilmu Allah yang mencakup segala hal, baik hal-hal kecil maupun besar, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, yakni sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya, ilmu Allah mencakup segala sesuatu dan tidak ada sesuatu pun yang hilang dari pandangan-Nya. Biji sawi saja, yang dicontohkan sebagai suatu zat yang paling kecil, Allah mengetahuinya di mana pun ia berada, baik di hamparan bumi yang luas ini maupun di ketinggian langit yang bercahaya. Sungguh, Allah mampu mendatanginya.

BACA JUGA: Beberapa Pandangan Terkait Kisah Luqman (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Hal terpenting dari bentuk yang digambarkan itu adalah pengaruhnya pada hati dan pendengaran karena ilmu Allah dapat merasakan dan dapat mengetahuinya sehingga timbul pengakuan bahwa Allah mengawasi dan mengetahui gerak-geriknya. Ini dapat memacu (memicu) seseorang untuk berbuat ikhlas dalam beramal dan berbuat baik (ihsan) dalam beribadah serta menimbulkan rasa malu untuk mengurangi hak-Nya, menjalankan hukum-hukum-Nya, dan menjauhi maksiat (larangan-Nya).

Ketujuh belas, ayat tersebut mengakhiri gambaran tentang ilmu dan kekuasaan Allah dengan memilih dua dari nama-nama Allah (Asmaul Husna), yakni sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Teliti. Ini adalah penutup yang serasi dengan isi kandungan ayat sesungguhnya Allah Mahalembut. Ilmu-Nya mencakup segala sesuatu dan dapat menembus segala sesuatu serta tidak akan berhenti sesuatu pun di hadapan-Nya, tidak ada sesuatu pun yang sulit menurut-Nya karena ilmu Allah mengetahui segala sesuatu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui. Al-khibrah artinya ilmu, yakni Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Kedelapan belas, dalam suasana keyakinan dan keimanan, anak yang dapat dipengaruhi dengan gambaran yang dikemukakan tentang ilmu dan kekuasaan Allah, seorang ayah barulah dapat membebani anaknya dengan perkara-perkara ibadah serta memerintahkannya untuk mendirikan shalat, menyeru pada kebaikan, dan melarangnya dari kemungkaran. Jadi, pembebanan kewajiban tersebut akan ada maknanya, hidup dan kehidupannya, karena hati yang dipenuhi keimanan kepada-Nya dan mengagungkan-Nya akan melaksanakan pembebanan tersebut.

Kesembilan belas, perintah-perintah yang diarahkan Luqman kepada anaknya ada enam dan larangan-larangannya ada tiga. Perintahnya adalah dirikanlah shalat, serulah manusia pada kebaikan, laranglah manusia dari kemungkaran, bersabarlah atas apa yang menimpa, berlakulah yang wajar dalam berjalan, dan lembutkanlah suara. Adapun perbuatan yang Luqman larang adalah janganlah memperseku tukan Allah, janganlah memalingkan wajah dari manusia, dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Semua perkara tersebut merupakan inti dalam masalah ibadah. Itulah sebabnya disebut ibadah. Orang yang beriman beribadah (menyembah) kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya (apa pun bentuknya) dan meninggalkan larangan-larangan-Nya (apa pun bentuknya). Sesungguhnya, menunaikan segala perintah-Nya adalah bentuk ibadah kepada Allah, begitu pun meninggalkan semua larangan-Nya adalah bentuk ibadah kepada Allah.

BACA JUGA: Beberapa Pandangan Terkait Kisah Luqman (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Kita harus memperluas pemahaman tentang ibadah dan tidak membatasinya pada ajaran yang bersifat ibadah saja. Ibadah itu luas dan mencakup segala aspek kehidupan Muslim. Tidak ada satu kesempatan pun dari hidupnya yang tidak mengandung nilai ibadah. Seseorang menyembah Allah, baik dalam masalah peribadahan, syariat, pergaulan, tata krama dan akhlak, maupun interaksi dan pergaulan. Selain itu, seseorang juga beribadah kepada Allah dengan pemikiran dan akalnya, keyakinan dan hatinya, serta jasmani dan aggota badannya.

Seseorang beribadah kepada Allah di dalam rumahnya dan masjid serta dalam mengerjakan tugas dan pekerjaannya, baik pada malam hari atau siang hari maupun ketika bangun atau tidurnya. Seseorang juga beribadah kepada Allah dengan shalat, puasa, akhlak (budi pekerti) dalam bergaul dan berbicara, harta dan ekonomi, siasat dan tugas, serta bermain, berkarya, dan berimajinasi.

Dua hal yang patut kita cermati (perhatikan) terkait ibadah ini.

  1. Perintah-perintah yang bersifat ibadah diikuti dengan ungkapan, seperti ayat sesungguhnya yang demikian termasuk urusan yang (harus) diutamakan. Azam adalah keyakinan hati untuk melaksanakan perintah, yakni mendirikan shalat, menganjurkan pada kebaikan, melarang dari kejahatan, dan sabar dalam cobaan. Semua perkara ini membutuhkan keyakinan hati, kebulatan tekad, kepedulian, dan semangat karena termasuk perkara yang berat. Tidak semua orang mampu melaksanakannya. Bahkan, mungkin saja ia akan ditinggalkan kebanyakan manusia. Tidak ada yang akan mampu menunaikannya, kecuali orang-orang yang memiliki keyakinan dan tekad. Tidak akan ada yang sanggup melaksanakannya, kecuali orang-orang yang mempunyai azam. Jika jiwa-jiwa itu adalah kumpulan tulang-tulang belaka, ia akan kelelahan untuk melakukan keinginan-keinginan jasmaninya.
  2. Dalam ayat tersebut, larangan-larangan itu diiringi dengan ungkapan, seperti sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Sesungguhnya, sikap angkuh, sombong, dan membanggakan diri adalah akhlak buruk yang tidak disukai Allah dan pelakunya sendiri. Ini merupakan ajakan Al-Quran agar meninggalkan keburukan-keburukan tersebut. Sesungguhnya, Al-Quran mendorong orang-orang beriman untuk berakhlak baik dan melakukannya (mempraktikkannya) dengan ungkapan sesungguhnya Allah tidak menyukai. Jika mendengar kalimat menyukai, orang beriman akan termotivasi untuk mengetahui apa yang datang setelahnya dan menerapkannya karena mengetahui hal itu adalah jalan untuk mendapat kecintaan dari Allah.

BACA JUGA: Beberapa Hikmah yang Dinisbahkan kepada Luqman

Al-Quran juga menganjurkan untuk menjauhi akhlak buruk dengan ungkapan sesungguhnya Allah tidak menyukai. Ini membuat orang beriman ingin mengetahui kelanjutan ayat tersebut agar dapat menjauhinya karena hal itu akan menghalanginya untuk mendapatkan cinta dari Allah. Lantas, apakah kita mengumpulkan ayat, seperti sesungguhnya Allah tidak menyukai adalah untuk melaksanakan sifat- sifat tersebut ataukah kita akan mengumpulkan ayat tersebut agar dapat menjauhkan diri dari-Nya?[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response