Ibrah

Penjelasan Lengkap tentang Sihir (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

foto: Unsplash
18views

Dalam kisah Harut dan Marut menurut israiliyat, disebutkan bahwa kedua malaikat tersebut—Harut dan Marut—adalah dua sosok yang mampu melakukan sihir. Bahkan, ketika menerima hukuman Tuhan pun keduanya masih bisa mengajarkan sihir kepada orang-orang yang ingin mempelajarinya. Dalam tulisan ini akan dijelaskan tentang sihir secara detail.

Sihir: Berpengaruh atau Khayalan?

Sebagaimana diketahui, sihir itu ada beragam jenis, di antaranya ada yang hakiki dan ada pula yang hanya khayalan berdasarkan dugaan, ketakutan, dan penipuan. Banyak kaum Muslim yang berbeda pendapat dalam masalah sihir. Apakah sihir itu benar-benar ada dan berpengaruh kepada orang yang disihir ataukah itu hanya khayalan saja, bukan hakikatnya, dan tidak memiliki pengaruh apa-apa?

Ath-Thabari berpendapat bahwa sihir tidak mempunyai hakikat dan hanya merupakan khayalan dan penipuan saja. Dia berkata, “Itu adalah tipuan dan pembodohan yang dilakukan ahli sihir hingga yang disihir itu mengkhayalkan sesuatu yang berbeda dengan keadaan aslinya, yakni seperti fatamorgana, ditampakkan padanya seolah-olah itu adalah air, padahal tidak ada air; orang yang melihat sesuatu dari jauh dan ternyata berbeda dengan yang sebenarnya; seorang yang naik perahu yang berjalan dengan cepat sehingga tampak olehnya bahwa apa yang terlihat matanya—misal pohon-pohon dan gunung-gunung—selalu mengikutinya. Demikian jugalah halnya orang-orang yang terkena sihir itu, yakni apa yang dia lihat atau dia kerjakan berbeda dengan yang sebenarnya.”

BACA JUGA: Kisah Pertarungan Nabi Musa a.s. dan Para Penyihir Fir’aun

Ar-Razi lebih cenderung berpendapat bahwa sesungguhnya sihir itu benar-benar ada hakikatnya dan mempunyai pengaruh serta orang yang melakukan sihir dapat mencelakakan dengan izin Allah. Dia berkata, “Ahlus Sunnah, mereka, mempunyai pendapat yang lain, yakni bahwa seorang ahli sihir dapat terbang di udara dan dapat mengubah keledai menjadi manusia atau manusia menjadi keledai ketika dia membaca mantra tertentu dan kalimat-kalimat tertentu. Sementara itu, pendapat bahwa ahli sihir memengaruhi bintang-bintang dan falak maka itu tidak mungkin. Mereka memberikan argumen atas adanya jenis sihir seperti ini dengan dalil Al-Quran dan hadis. Dalil dari Al-Quran, yakni firman Allah dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 102, ‘Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan (sihir)-nya, kecuali dengan izin Allah.’ Pengecualian di sini menunjukkan adanya pengaruh dari sihir itu.”

Adapun riwayat-riwayat dihubungkan dengan Nabi ﷺ, yang mutawatir maupun yang termasuk ahad. Sementara itu, para ahli periwayat hadis memandang bahwa sihir mempunyai hakikat dan bahwa ahli sihir dapat memengaruhi orang yang disihir dengan izin dari Allah. Ibnu Hajar, dalam bukunya (Fath al-Bari), berkata, “Sihir itu diperdebatkan.” Disebutkan bahwa sihir hanyalah khayalan dan tidak ada hakikatnya. Ini adalah pendapat dari Abu Ja’far Al-Atsrabadzi (dari ka langan Madzhab Syafi’i), Abu Bakar Ar-Razi (dari Madzhab Hanafi), Ibnu Hazm Adz-Dzahiri, dan kelompok lainnya. An-Nawawi berkata, “(Yang) benar adalah sihir mempunyai hakikat, dan jumhur ulama menetapkan itu.” Demikian pula, pendapat ulama pada umumnya, termasuk kitab dan sunnah yang sahih pun menunjukkan hal itu. Namun, titik pertentangan itu adalah apakah dengan sihir itu terjadi perubahan zat atau tidak?

Orang yang mengatakan bahwa sihir itu khayalan belaka tidak percaya pada hal tersebut. Adapun yang mengatakan bahwa sihir itu ada hakikatnya, mereka berbeda pendapat pada apakah sihir hanya ada pengaruhnya (mengubah tabiat badan menjadi suatu jenis penyakit) ataukah cukup pada memalingkan atau mengubah sesuatu (mengubah benda mati menjadi hewan atau sebaliknya)? Pendapat jumhur ulama lebih utama, sedangkan pendapat kelompok kecil lainnya cenderung pada pendapat yang kedua. Al-Mazari berkata, “Jumhur ulama cenderung pada peneguhan adanya sihir itu dan sihir itu mempunyai hakikat. Sementara itu, sebagian yang lain membantah hakikatnya dan menambahkan apa yang terjadi darinya adalah khayalan batil, dan pendapat ini tertolak dengan adanya dalil naqli yang menegaskan tentang sihir itu sebab akal tidak mengingkari telah menghapuskan kebiasaan ketika seorang ahli sihir mengucapkan mantra-mantra yang batil atau dihiasi dengan tumpukan tubuh atau campuran benda-benda yang jelas dan kuat dengan susunan tertentu.”

Jenis-Jenis Sihir

Ada beberapa jenis sihir, di antaranya ada yang bermakna hakiki dan ada yang bermakna khayalan. Ar-Raghib menyebutkan tentang jenis-jenis sihir tersebut sebagai berikut:

Pertama, sihir dalam bentuk penipuan, khayalan yang tidak ada hakikatnya, seperti yang dikerjakan ahli sulap dengan mengelabui mata terhadap apa yang dilakukannya karena begitu halus gerakan tangannya, atau seperti yang dikerjakan ahli fitnah dengan kata-kata dihiasi kebohongan kepada orang yang mendengarnya. Tentang hal ini, Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 116: ,

سَحَرُوْٓا اَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوْهُمْ وَجَاۤءُوْ بِسِحْرٍ عَظِيْمٍ

“… mereka menyihir mata orang banyak dan menjadikan mereka takut. Mereka memperlihatkan sihir yang hebat (menakjubkan).”

BACA JUGA: Beberapa Cara Kaum Quraisy untuk Mengadang Dakwah Rasulullah

Selanjutnya, Allah juga berfirman dalam Surah Thaha (20) ayat 66:

يُخَيَّلُ اِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ اَنَّهَا تَسْعٰى

“… terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia (ular-ular itu) merayap cepat karena sihir mereka.

Kedua, sihir dengan meminta bantuan setan. Caranya adalah dengan memukulkan sesuatu yang dapat mendekat kepadanya. Tentang hal ini,  Allah berfirman dalam Surah Asy-Syu’ara (26) ayat 221-222:

هَلْ اُنَبِّئُكُمْ عَلٰى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيٰطِيْنُ ۗ تَنَزَّلُ عَلٰى كُلِّ اَفَّاكٍ اَثِيْمٍ ۙ

“Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta lagi banyak berdosa.”

Ketiga, apa yang dianut ahli sihir Aghtam (ism fi’il). Dengan kekuatan mereka itu, mereka mengira mampu berbuat sekehendak hati, seperti mengubah manusia menjadi keledai. Padahal, itu tidak terbukti atau tidak ada hasilnya.

Keempat, kadang-kadang digambarkan tentang kebaikan sihir itu sehingga dikatakan, “Sesungguhnya, dalam keterangan itu, benar- benar ada sihir.” Kadang-kadang, digambarkan detail kerjanya sehingga dokter-dokter mengatakan, “Alam ini sihir. Mereka meracuni makanan itu dengan sihir, dari sisi sihir itu halus dan melunakkan pengaruhnya.”[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response