Kisah

Beberapa Cara Kaum Quraisy untuk Mengadang Dakwah Rasulullah

foto: unsplash
39views

Tatkala orang-orang Quraisy tahu bahwa Muhammad ﷺ sama sekali tidak menghentikan dakwahnya, mereka memeras pikirannya sekali lagi. Karena itu, mereka memilih beberapa cara untuk memupus dakwahnya ini. Adapun cara-cara yang mereka lakukan adalah sebagai berikut:

Pertama, ejekan, penghinaan, olok-olok, dan penertawaan. Hal ini mereka maksudkan untuk melecehkan orang-orang mMuslim dan menggembosi kekuatan mental mereka. Untuk itu, mereka melemparkan berbagai tuduhan yang mengada-ada dan ejekan sekenanya terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Mereka menyebut beliau sebagai orang yang gila. Allah berfirman dalam Surah Al-Hijr (15) ayat 6:

وَقَالُوْا يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْ نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ اِنَّكَ لَمَجْنُوْنٌ ۗ

Mereka berkata, “Wahai orang yang diturunkan Al-Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila”.

Mereka juga menyebut beliau sebagai tukang sihir dan pendusta. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Shad (38) ayat 4:

وَعَجِبُوْٓا اَنْ جَاۤءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ ۖوَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا سٰحِرٌ كَذَّابٌۚ

Dan mereka heran karena kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”.

BACA JUGA: Mengenal Para Generasi Pertama yang Masuk Islam

Selain itu, mereka menjelek-jelekkan dan menghadapi beliau dengan pandangan penuh amarah serta perasaan yang meluap-luap penuh emosi. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Qalam (68) ayat 51:

وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌ ۘ

Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al-Quran dan mereka berkata, “Sesungguhnya (Muhammad) benar-benar orang gila”.

Kemudian, jika ada sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ yang duduk di sekitar beliau, mereka mengolok-olok dan berkata, “Inilah rekan-rekannya”, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya Surah Al-An’am (6) ayat 53:

 اَهٰٓؤُلَاۤءِ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنْۢ بَيْنِنَاۗ

Orang-orang semacam Inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?

Padahal, dalam kelanjutan ayat itu Allah berfirman:

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَعْلَمَ بِالشّٰكِرِيْنَ

Bukankah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?

Keadaan mereka seperti yang difirmankan Allah dalam Surah Al-Muthaffifin ayat 29-33:

اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ (29) وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ (30) وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ (31) وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ (32) وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ (33)

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu mentertawakan orang-orang yang beriman. (29) Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. (30) Apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria (dan sombong). (31) Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,” (32) padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang Mukmin).

BACA JUGA: Perintah-Perintah Allah kepada Nabi Muhammad

Kedua, menjelek-jelekkan ajaran beliau, mengembuskan keraguan, menyebarkan anggapan-anggapan yang menyangsikan ajaran-ajaran beliau dan diri beliau. Mereka tiada henti melakukannya dan tidak memberi kesempatan kepada manusia untuk menelaah dakwah beliau. Mereka berkata tentang Al-Quran sebagaimana dituliskan dalam Surah Al-Furqan (25) ayat 5:

وَقَالُوْٓا اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلٰى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا

Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintakan supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.

Mereka juga berkata sebagaimana dalam Surah Al-Furqan (25) Ayat 4:

اِنْ هٰذَآ اِلَّآ اِفْكُ ِۨافْتَرٰىهُ وَاَعَانَهٗ عَلَيْهِ قَوْمٌ اٰخَرُوْنَۚ ۚ

Al-Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diadakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain.

Selain itu, mereka berkata tentang diri Rasulullah ﷺ sebagaimana tergambar dalam Surah Al-Furqan (25) Ayat 7:

وَقَالُوْا مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِۗ

Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?

Di dalam Al-Quran banyak contoh penentangan mereka terhadap Rasulullah ﷺ.

Ketiga, menandingi Al-Quran dengan dongeng orang-orang dahulu dan menyibukkan manusia dengan dongeng-dongeng itu agar mereka meninggalkan Al-Quran. Mereka menyebutkan bahwa suatu kali An-Nadhr bin Al-Harits berkata kepada orang-orang Quraisy, “Wahai semua orang Quraisy, demi Allah, telah datang satu urusan yang kalian belum juga bisa mencari alasan untuk menghadapinya. Muhammad, ketika menjadi seorang pemuda belia di tengah kalian, merupakan pemuda yang paling kalian ridhai. Paling jujur perkataannya dan paling besar amanatnya. Ketika kalian melihatnya telah dewasa dan datang kepada kalian dengan apa yang dibawanya, kalian mengatakan ia seorang penyihir. Tidak, demi Allah! Ia bukan penyihir. Kita telah mengetahui sihir beserta embusan dan buhul-buhulnya. Kalian mengatakan, ia seorang dukun. Tidak, demi Allah! Ia bukanlah seorang dukun. Kita telah melihat perdukunan, mempermalukan mereka, dan mendengar keberanian mereka. Kalian mengatakan ia seorang penyair. Tidak, demi Allah! Ia bukanlah penyair. Kita tahu syair dan jenis-jenisnya. Kalian mengatakan ia orang gila. Tidak, demi Allah! Ia bukan orang gila. Kita telah mengetahui orang gila. Dia tidak menangis tersedu-sedu, tidak berbisik-bisik, dan tidak bertindak tanpa kontrol. Wahai seluruh orang Quraisy, perhatikanlah urusan kalian karena, demi Allah, kalian sedang menghadapi urusan yang besar.”

BACA JUGA: Mereka yang Telah Melakukan Kekafiran yang Luar Biasa

An-Nadhr kemudian pergi ke Hirrah. Di sana ia mempelajari kisah-kisah Raja Persia, perkataan Rustum, dan Asfandiyar. Jika Rasulullah ﷺ mengadakan suatu pertemuan guna mengingatkan orang-orang kepada Allah dan menyampaikan peringatan dari siksa-Nya, An-Nadhr mengikuti dari belakang, lalu berkata, “Demi Allah, penuturan Muhammad tidak sebagus yang kututurkan.” Ia lalu menuturkan kisah raja-raja Persia, Rustum, dan Asfandiyar. Ia berkata, “Dengan modal apa penuturan Muhammad bisa lebih baik daripada kata-kataku?”

Riwayat Ibnu Abbas menyebutkan bahwa An-Nadhr membeli beberapa penyanyi perempuan dari kalangan budak. Setiap ada orang yang tidak mau mendengarkan kata-kata Muhammad ﷺ, ia menghadiahkan penyanyi itu kepadanya, yang siap melayani, menyiapkan makan, minum, dan menyanyi untuknya. Tujuannya agar ia tidak tertarik kepada Islam. Tentang hal ini, Allah menurunkan ayat sebagaimana tercantum dalam Surah Luqman (31) Ayat 6:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۖ وَّيَتَّخِذَهَا هُزُوًاۗ

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan.

Keempat, menyodorkan beberapa bentuk penawaran sehingga dengan penawaran itu mereka berusaha untuk mempertemukan Islam dan jahiliyah sebagai jalan tengah. Orang-orang musyrik siap meninggalkan sebagian dari apa yang ada pada mereka dan begitu pula Nabi ﷺ. Allah berfirman dalam Surah Al-Qalam (68) ayat 9:

وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ

Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).

Ada riwayat dari Ibnu Jarir dan Ath-Thabarani yang menyebutkan bahwa orang-orang musyrik menawarkan kepada Rasulullah ﷺ agar beliau menyembah sesembahan mereka selama setahun, dan mereka menyembah Rabb beliau selama setahun kemudian. Riwayat lain dari Abd bin Humaid menyebutkan bahwa mereka berkata, “Andaikan engkau mau menerima sesembahan kami, kami pun mau menyembah sesembahanmu”.

BACA JUGA: Mereka yang Mengeluarkan Kata-Kata yang Sangat Buruk

Tentang tawaran-tawaran tersebut, Allah kemudian menurunkan Surah Al-Kafirun (108) ayat 1-5:

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ (1) لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ (2) وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ (3) وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ (4) وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ (5)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir, (1) aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (2) Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. (3) Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. (4) Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. (5)

Allah telah menetapkan penawaran mereka yang menggelikan itu dengan perincian yang pasti seperti ini. Boleh jadi ada perbedaan riwayat mengenai masalah ini karena memang mereka menyodorkan penawaran tidak hanya sekali saja.[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response