Ibrah

Penjelasan Lengkap tentang Sihir (Bagian Kedua – Habis)

foto: Unsplash
18views

Pada bagian pertama telah dijelaskan pendapat beberapa ulama tentang apakah sihir itu memang berpengaruh atau sekadar khayalan. Telah dijelaskan juga jenis-jenis sihir yang dikemukakan oleh Ar-Raghib.

Jenis-Jenis Sihir Menurut Fakhruddin Ar-Razi

Sementara itu, Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan jenis-jenis sihir sebagai berikut:

Pertama, sihir kaum Kildan di Irak dan kaum Kisdani yang hidup pada zaman lampau. Mereka adalah kaum yang menyembah bintang- bintang dan mengatakan bahwa bintang-bintang itu pengatur alam ini.

Kedua, sihir orang-orang yang suka berkhayal dan jiwa-jiwa yang kuat dalam memengaruhi orang lain dengan sihir mereka kepada orang tersebut.

Ketiga, meminta pertolongan pada jin dan ruh-ruh.

Keempat, khayalan-khayalan dan menipu mata.

Kelima, pekerjaan menakjubkan yang ditampakkan dari alat-alat (benda-benda) tertentu. Berdasarkan perbandingan dalam ilmu enginering pada satu saat atau atas dasar sihir, para ahli sihir Fir’aun zaman dahulu adalah dari jenis ini.

BACA JUGA: Penjelasan Lengkap tentang Sihir (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Keenam, meminta pertolongan pengobatan kepada penjual daun pohon kurma (seperti menjadikan dalam makanan sejumlah obat yang membuatnya bodoh atau hilang akal) serta asap yang dapat membuatnya mabuk (seperti otak keledai jika dimakan manusia, menjadi bodohlah akalnya dan kecerdasannya berkurang).

Ketujuh, pengikat hati, yakni ahli sihir itu menganggap bahwa dia mengetahui ismul a’zham serta bahwa jin-jin menaatinya dan membantunya dalam banyak hal. Jika sepakat menjadikan orang yang mendengar hal itu lemah akalnya, kurang rasionya (nalarnya)—dia percaya bahwa dia benar—terikat hatinya dengan hal itu dan merasuk rasa takut dalam dirinya. Jika rasa takut telah merasuk, lemahlah kekuatan indranya, ketika itu, makin kuatlah ahli sihir melakukan apa yang dia inginkan. Sesungguhnya, barang siapa mencoba suatu urusan dan mengetahui keadaan orang-orang yang berilmu maka dia mengetahui bahwa pada ikatan hati ada pengaruh besar dalam mengatur perbuatan dan menyembunyikan rahasia-rahasia.

Kedelapan, mengadu domba dengan memfitnah secara halus.

Sihir yang Halal

Sebagaimana diketahui, sihir itu diidentikkan dengan sesuatu yang halus dan tersembunyi masuknya, terfokus, serta memengaruhi manusia. Di sini, kita menetapkan sihir itu dalam dua jenis, yakni sebagai berikut:

Pertama, sihir yang tercela, mungkar, dan batil.  Islam memerang), menolak, dan mencegahnya. Ini adalah sebagian besar kebiasaan sihir dan praktiknya.

Kedua, sihir yang terpuji dan disukai sehingga ia halal.

Pembahasan dalam buku ini, yakni tentang sihir jenis yang kedua (sihir yang halal), diriwayatkan Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar bahwa telah datang dua orang laki-laki dari Masyriq. Kemudian, keduanya berpidato sehingga orang-orang terkesima dengan penjelasan mereka. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya, dalam penjelasan (bayan) itu ada sihir atau dalam sebagian penjelasan itu adalah sihir.”

Kisah yang dikemukakan Al-Bukhari tersebut merupakan ringkasan yang dikutip para penulis buku (kitab) sirah secara terperinci dengan mengambil riwayat dari Al-Baihaqi dalam Dala’il An-Nubuwwah. Abdullah bin Abbas berkata, “Qais bin Ashim duduk menghadap Rasulullah ﷺ, begitu juga Az-Zabraqan bin Badr dan Amru bin Ahtam dari Bani Tamim. Kemudian, timbullah rasa bangga pada diri Az-Zabragan. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku adalah pembesar Bani Tamim yang ditaati dan disegani mereka. Aku melarang mereka berbuat zalim dan membantu mereka terhadap hak-hak mereka. Dia ini (Amru bin Ahtam) mengetahui hal itu’. Amru bin Ahtam berkata, ‘Sesungguhnya, dia yang paling keras perlawanannya dan ditaati hanya oleh telinganya’. Az-Zabraqan bin Badr berkata, ‘Demi Allah, wahai Rasulullah, dia telah mengetahui dari diriku apa yang tidak dikatakannya barusan dan tidak ada yang mencegahnya mengatakan hal itu, kecuali kedengkiannya’.

Amru bin Ahtam berkata, ‘Aku dengki kepadamu? Demi Allah, engkau adalah anak yang paling bodoh dan terasingkan dalam keluarga. Demi Allah, wahai Rasulullah, apa yang aku katakan pertama kali itu benar dan aku tidak berdusta atas apa yang aku katakan selanjutnya. Namun, aku adalah orang yang jika telah ridha, aku mengatakan yang terbaik dari yang aku ketahui. Jika aku benci, aku mengatakan yang terburuk dari yang aku temui. Aku jujur, baik pada ucapan pertama maupun yang kedua.’” Rasulullah ﷺ berkata, “Sesungguhnya, dalam penjelasan itu benar-benar ada sihir!”

BACA JUGA: Kisah Pertarungan Nabi Musa a.s. dan Para Penyihir Fir’aun

Kedua, apa-apa yang disusupi unsur rekayasa untuk mengherankan (membuat takjub) para pendengar dan memengaruhi hati mereka. Inilah yang menyerupai sihir jika telah memperdayai hati dan menguasai jiwa. Bahkan, sampai mengubah sesuatu dari yang sebenarnya dan memalingkannya dari tujuan semula sehingga menampakkan sesuatu yang bukan sebenarnya terhadap orang yang melihatnya.

Jika dipalingkan (diarahkan) pada kebenaran, hal seperti itu menjadi terpuji. Jika diarahkan pada kebatilan, ia menjadi tercela. Sebagian mereka memahami maksud hadis tersebut untuk memuji dan menganjurkan berkata baik serta memperindah kata-kata. Ibnu Baththal dan Ibnu Hajar mengutip pendapatnya dalam menjelaskan hadis tersebut, “Sebaik-baik yang dikatakan dalam hal ini adalah bahwa sesungguhnya hadits itu bukanlah celaan terhadap penjelasan (bayan) seluruhnya dan bukan juga pujian atas sabda Nabi ﷺ sebagian penjelasan itu. Bagaimana mungkin penjelasan itu dicela, sedangkan Allah telah berfirman dalam Surah Ar-Rahman (38) ayat 3-4:

خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

“Dia menciptakan manusia. Dia mengajarinya pandai menjelaskan.”

Ibnu Hajar menjelaskan pendapat tersebut, “Para ulama telah bersepakat untuk memuji iijaaz dan mengemukakan makna yang banyak dengan kata-kata yang mudah serta memuji ithnaab dalam berpidato sesuai dengan keadaan. Sebaik-baik suatu kejelasan adalah dalam urusan yang tercela dan sebaik-baik suatu urusan adalah yang sedang-sedang saja.[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response